Ayo menjadi GURU!

Karena saya yakin bahwa setiap orang harus menjalankan peran sebagai guru, mentor, dan trainer

Dua Kecenderungan Abadi

Pendidik membantu menguatkan kecenderungan manusia pada pilihan-pilihan baik, sehingga tidak ada waktu untuk melirik pada pilihan-pilihan buruk

Mengajar Bukan Sekedar Bunyi

Memulai kebaikan dari diri sendiri ternyata merupakan unsur vital bagi keberhasilan pendidikan

Menembus Cakrawala

Belajar dan mengajarkan ilmu mengasyikan tak kepalang, sampai-sampai langit serasa di genggaman

Kunci Sukses Itu

Ia adalah kunci bagi pintu-pintu kebahagiaan yang selama ini tertutup dan terabaikan

Kamis, 12 September 2019

Gurunya Helen Keller

Tulisan terakhir tentang Helen Keller yang menyajikan kepada kita cerita ajaib tentang kesungguhan seorang anak buta tuli yang bisa menjadi guru dunia. Tapi di balik cerita itu ada perjuangan serius seorang guru.

Seorang guru yang berhasil mengajak anak yang buta tuli ke pintu gerbang dunia, yang penuh dengan nama-nama benda dan warna. Sebuah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua Helen Keller sendiri. Guru Helen tersebut bernama Anne Sullivan. Anne muncul di kehidupan Helen Keller pada musim semi tahun 1887. Sejak itu sampai di sebagian besar kehidupan Helen, Anne selalu membimbingnya.

Sejarah yang tidak diketahui orang banyak adalah Anne sendiri mengalami banyak penderitaan sejak kecilnya. Ini yang bikin hati saya sendiri sedih, kembali karena inget anak sendiri. Anne kehilangan sebagian pengelihatannya di usia 5 tahun, lalu bayangkan saja seorang anak gadis harus hidup dengan adik laki-lakinya berdua, karena ibunya wafat saat Anne berusia 8 tahun dan ayahnya yang pemabuk meninggalkan mereka. Saudara mereka juga menolak untuk mengasuh sampai akhirnya mereka berdua harus tinggal di rumah penampungan, yang di zaman itu identik dengan tempat orang-orang pembuangan.

Hidup di penampungan derita demi derita mesti dirasakan 2 anak kecil tanpa ayah ibu tersebut. Karena rumah penampungan berisi juga orang berpenyakit, adik laki2 Anne tertular TBC, perjuangannya tidak bisa lama hingga akhirnya ia wafat meninggalkan Anne sendiri.

Di tengah penderitaan yang bertubi-tubi, satu hal yang membuat Anne istimewa adalah semangatnya. Dengan modal ini Anne memberanikan diri menyergap dan memegang erat tangan inspektur pemerintah yang berkunjung ke penampungan. Dia memohon untuk bisa disekolahkan olehnya. Watak nekad itu membuahkan hasil, Anne sekolah di sekolah tuna netra, Perkins Institution.

Di sana Anne mendapat bully dari teman2nya, karena Anne tidak pandai membaca, ditambah lagi sifat Anne yang emosional dan suka memberontak (mungkin ini disebabkan kurangnya kasih sayang dan perhatian di usia kecilnya). Selain kawan-kawan yang suka mengejek, sebagian guru Anne juga tidak bisa bersabar dengan sifat Anne. Tapi...ada beberapa guru yang melihat potensi Anne dan mau mengembangkan potensi terpendam Anne.

Di sini kita lihat, dalam rentang kehidupan berat seseorang...selalu ada guru yang tidak pernah berputus asa dan bersedia terus memupuk kematangan anak didiknya.

Setelah lulus sekolah, Anne menerima tawaran menjadi pengasuh anak yang bernama Helen Keller. Ketika itu Helen berusia 7 tahun, artinya sudah 5 tahun dia menderita kebutaan dan ketulian. Sebuah ujian berat bagi guru belia yang baru lulus sekolah seperti Anne.

Helen seperti biasa, bersikap bengis dan keras kepala kepada siapapun. Akan tetapi ada sesuatu pada diri Anne yang dalam waktu singkat bisa menenangkan Helen. Simak apa yang tidulis Anne di jurnalnya, 2 minggu setelah bertemu Helen:

"Makhluk liar yang saya kenal 2 minggu lalu telah berubah menjadi anak lembut. Ia duduk di samping saya saat saya sedang menulis jurnal ini. Wajahnya tenang dan bahagia.
Kini menjadi tugas menyenangkan bagi saya untuk mengarahkan dan membentuk kecerdasannya yang indah yang mulai menggugah jiwanya."


Senin, 09 September 2019

Hellen Keller yang Menggugah

Saya ingin menulis tentang Helen Keller.
Tapi ko saya merasa engga percaya diri.
Bukan apa-apa...saya merasa ga percaya diri karena khawatirnya ga bisa menuliskan dengan tepat muatan kesedihan dan keluhuran cerita dalam perjalanan hidup Hellen Keller.

Tapi walaupun demikian, saya akan memaksakan diri untuk menuliskannya sebatas yang saya mampu untuk mengambil beberapa pesan pelajaran yang bisa kita ambil.

Helen adalah seorang anak yang lahir 27 Juni 1880 di Alabama, Amerika Serikat. Dia terlahir sempurna dan lucu, karunia terindah buat orang tuanya. Hanya saja di usia 19 bulan penyakit panas hebat menyerangnya, panas yang membuatnya menderita. Tapi Hellen terus berjuang dan akhirnya bisa selamat dari kematian. Namun sayang, penyakit panas tersebut mengambil pendengaran dan pengelihatannya.

Saya selalu sedih di bagian ini, teringat andaikata kejadian serupa terjadi pada anak sendiri. Seorang anak harus merasakan kehidupan yang penuh kesulitan. Pernahkah Anda sendiri membayangkan hidup dalam suasana gelap terus menerus? Lalu pernahkah Anda membayangkan hidup dalam suasana hening, tanpa suara terus menerus? Konon menurut yang mengalami, suasana hening itu lebih membuat stress daripada tidak bisa melihat.

Helen Keller mesti menjalani suasana gelap sekaligus sunyi. Bayangkan stress yang dialami anak sekecil itu...Oleh sebab itu di awal-awal tahunnya Helen Keller hanya bisa menunjukkan sifat liar seperti binatang. Ia frustasi karena komunikasi hanya bisa searah.
Ia bisa merasakan sesuatu dari mencium atau memegangnnya. Jika ia mau roti, ia akan menangis karena tidak tahu bagaimana cara memintanya. Ia bisa tahu orang tuanya setelah meraba wajah dan pakaian, bisa tau berada di luar rumah saat merasakan hangat sinat matahari menerpa kulitnya. Tapi selain itu, hanya kegelapan dan kesunyian yang ia rasakan...

Di usia 7 tahun datanglah seorang guru yang mengerti kemarahannya, mau bersabar dan mengajarkan alfabet melalui telapak tangan. Hal pertama yang diajarkan sang guru adalah 'air'. Ya...Helen dibawa ke sumur tua dan merasakan aliran air yang segar dan diperkenalkan namanya melalui sentuhan tangan. Hellen mulai belajar bahwa setiap benda punya nama. Ia bahkan mulai sekolah, mengenal dan mulai membaca buku-buku dengan ditemani gurunya. Hellen berupaya keras agar bisa berbicara, Helen makin dikenal karena kegigihan dalam keterbatasannya.

Hasil belajarnya, Helen bisa membaca aplhabet, huruf Braille, membaca bibir, menulis dengan mesin tik. Ia juga mampu membaca buku dalam bahasa Jerman, Perancis, Yunani, dan Latin. Hellen kuliah di Raddcliffe College dan lulus dengan predikat memuaskan. Helen menulis banyak buku. Dia bahkan menjadi penulis, dosen, dan pembicara terkenal di masanya.

Helen Keller telah bertemu dengan beberapa presiden Amerika, mendapat berbagai gelar dari banyak universitas, memberi inspirasi bagi banyak orang.

Inilah sedikit kisah dari seorang anak yang bergelut melawan kekurangan dirinya sejak balita. Helen Keller wafat tanggal 1 juni 1968.

Quotes Helen Keller yang indah:

"Sesuatu yang terbaik dan terindah di dunia ini, Tidak dapat dilihat atau disentuh...Kau harus merasakannya dengan hatimu"

"Saya percaya, walaupun dalam tahun-tahun kesunyian dan kegelapan, Tuhan menggunakan hidup saya untuk suatu tujuan yang tidak saya ketahui. Tapi suatu hari nanti, saya akan mengerti maksud-Nya...dan saya bahagia"

Sedih dan menggunggah sekali kisahnya..Tapi satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah keberadaan satu sosok berarti dalam hidup Helen Keller. Siapa dia?

Ya...Gurunya! Kita tuliskan siapa sosok beliau itu nanti...insya Allah


Jumat, 06 September 2019

Tinjauan Ulang Arti Sekolah

Membaca beberapa artikel dan ceramah Ken Robinson, meyakinkan saya sekaligus membuka wawasan tentang sifat pendidikan formal yang selama ini kita kecap. Tidak cuma kita, tapi juga anak dan cucu kita jika keadaan belum berubah.

Begini, dari ceramah dan tulisan yang saya baca, saya mendapat helicopter view tentang bagaimana sistem pendidikan di sekolah ibaratnya bagian dari industrialisasi yang mengkooptasi nyaris seluruh aspek kehidupan manusia. Sekolah menjadi 'pabrik manusia' yang menelurkan calon-calon pekerja yang jika nanti lulus akan segera dipekerjaan untuk kepentingan industri. Oleh karena itu maka secara tak sadar (entah sadar), mata pelajara primadona pun tak jauh dari matematika dan IPA, atau yang sekarang sedang tren, yaitu STEM.

Buruknya dari situasi ini adalah, pendidikan (sekolah) melihat anak-anak sebagai entitas yang seragam dan diseragamkan. Padahal, anak-anak yang lahir dari 1 rahim ibunda, tidak pernah ada yang sama persis. Meskipun ia kembar. Anak-anak lahir ke dunia dengan membawa keunikan, potensi, dan ciri khas yang membedakannya dengan anak lain.

Tapi apa yang terjadi? Sekolah justru ingin menyeragamkan anak-anak kita.

Sekolah bahkan memberikan pakaian, sepatu, dan tas yg seragam untuk mereka.

Sekolah 'memaksa' mereka untuk berperilaku dan duduk dengan cara yang sama.

Satu hal yang paling ngeri dari situasi ini adalah, sekolah mengabaikan banyak potensi anak agar mereka jago di bidang tertentu yang tidak sesuai dengan potensi mereka. Bidang tersebut biasanya ya itu...matematika dan IPA.

Jika sungkan disebut tidak ada, ya bisa dibilang hanya sedikit saja yang memberi encourage pada anak-anak untuk menemukan dan 'memeluk' erat potensi mereka di bidang bahasa, sosial, agama, olah raga, musik, dan sebagainya.

Mereka yang masuk ke dunia non IPA bahkan ada yg ditakut-takuti bahwa minat tersebut tidak akan memberi penghasilan yg sepadan di masa mendatang.

Sistem yang rumit dan melibatkan ribuan orang dalam dunia pendidikan tampaknya kompak pada satu tujuan yaitu menuntaskan kurikulum yang belum tentu bisa menghantarkan anak pada potensi terbaiknya. Begitulah sistem pendidikan yang begitu mekanistis. Tidak sepenuhnya menganggap muris sebagai manusia. Maka wajarlah andaikata seorang anak lulus SMA (Bayangkan, 12 tahun pendidikan), tapi dia planga plongo...belum bisa mengenal minat, bakat, dan potensinya.

Sebab sekolah tidak memfasilitasi hal tersebut. Sekolah merasa cukup menjalankan tugas kalo sudah menjejali kepala anak dengan wawasan dan si anak bisa mengeluarkan kembali wawasan tersebut dalam selembar kertas yaitu ketika ujian.

Perlu ada refleksi yang mendalam pada para stakeholder pendidikan untuk mereview ulang cara pandang komunitas terhadap pendidikan. Semoga Allah swt memeri petunjuk kepada kita semua.

Rabu, 04 September 2019

Memulihkan Fokus

Kemarin kita sudah mengulas keberadaan stimulus yang luar biasanya banyaknya di sekitar. Stimulus/rangsangan yang kentara kerasa dengan adanya gadget di dekat kita. Stimulus-stimulus tersebut disenangi oleh otak kita karena pengaruh hormon dopamin yang menimbulkan sensasi nikmat. Persis seperti saat kita makan santapan lezat, berhubungan intim, dan sejenisnya (tentu dengan kadar berbeda).

Keadaan 'puas' itulah yang membuat kita menikmati membuka medsos, mengecek email, atau aktivitas apapun dalam rangka 'melayani ajakan2' stimulasi yang datang ga henti2. Permasalahannya, otak manusia ga cuma menikmati, tapi ia akan menagih lagi dan lagi dalam waktu yang semakin rapat.

Permasalahan berikutnya adalah dikaitkan dengan produktivitas. Jangan mengira kalo otak disibukkan dengan mengecek notifikasi2 di hp, baca info-info yg berseliweran di layar gadget membuat kita jadi produktif.

Mungkin...
ada perasaan bahwa kegiatan mengumpulkan informasi-informasi dr gadget bikin kita nambah wawasan, merasa update dengan info kekinian, merasa terkoneksi dengan masyarakat luas, dan seterusnya. Tapi bukan itu arti produktivitas (mudah-mudahan lain kesempatan bisa kita tuliskan makna dari produktivitas).

Apa kamu ingin bebas dari kondisi yang over stimulating yang lagi tren sekarang ini?

Sebelumnya, perlu dipahami bahwa antara kondisi penuh dengan stimulus dan kondisi yang rendah dengan stimulus ada sebuah keadaan yg disebut 'kejemuan'. Bosen...gitu deh.
Kerasa kalo kita sudah selesai mengerjakan banyak urusan yang menyibukkan lahir batin, lalu tiba-tiba saja ada waktu kosong yang tidak tahu harus diisi dengan ide atau kegiatan apa...
Datanglah makhluk itu...yaitu kondisi 'jemu'.

Itulah saat di mana otak kita diisi oleh sangat sedikit sekali stimulasi.

Jadi kuncinya adalah dengan membuat otak bebas merdeka dari terdampak stimulasi yang banyak di sekitar. Jadikan otak kita less stimulated, ga gampang terstimulus.

Makanya..jika kamu pernah dengar, cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget adalah dengan mengurangi waktu membuka gadget. Tujuannya tak lain adalah untuk mengurangi otak dari terstimulus tadi.

Cara lainnya (Selain kurangi penggunaan gadget) adalah membiasakan diri dalam situasi jemu atau bosan tadi. Ini yang unik.
Apa yang bikin kamu bosan? membaca petunjuk penggunaan HP? bisa jadi :) bacalah sampai tuntas lembaran petunjuk tersebut. Atau cari yg lebih bermanfaat, misalnya membaca al qur'an (ini bagi yg khusus ga kuat lama2 membaca al quran). Atau main dengan anak2. Jika kamu orang yg termasuk mudah bosan main dengan anak, maka lakukan hal itu. Intinya..melakukan apapun yang dari sudut pandang kebiasaanmu itu membosankan, maka itu adalah cara melatih otak agar tidak terus terstimulus.

Tentunya dilakukan dengan disiplin, waktu yg lumayan panjang, dan berulang-ulang dengan kegiatan yg variatif. Beginilah cara relaksasi otak dari ketegangan akibat stimulus berlebih.
Nanti manfaatnya bakal kerasa. Yaitu kemampuan fokus yang lebih baik, rentang waktunya lebih lama, dan kemudahan untuk dapat ide2 kreatif.

Fokus dan Distraksi

Banyaknya gadget atau banyak aplikasi bikin orang sekarang sulit fokus. Dalam rentang waktu yg pendek pikiran akan gampang teralihkan. Makanya kita lihat ada yg sering buka hp, sekian menit sekali gatel pengen cek notifikasi medsos, sekian menit sekali periksa berita on line, hp sudah disimpan di saku tapi ga perlu waktu lama keluarin lagi cuma sekedar buka pesan obrolan di grup.
Awalnya sebagian psikolog mengatakan hal ini terjadi karena otak banyak menyalami distraksi (gangguan/selingan/pengalih perhatian). Itu menjelaskan kenapa rentang waktu untuk fokus orang zaman sekarang semakin sempit. Tapi setelah didalami lagi ternyata akar masalahnya ada di stimulus yg diterima. Otak kita menerima banyaak sekali stimulus dan ternyata otak kita menikmatinya. Otak kita senang dengan rangsangan2 pikiran yg bermacam macam itu, ia merespon dan akan terus menuntut untuk direspon (craving for more). Maka wajar rasa penasaran terhadap notifikasi gadget yg ga ada berhentinya itu ingin terus dipuaskan.
Apakah hal itu bagus?
Dari sudut produktivitas justru engga baik. Kepala yang banyak disibukan dengan stimulus2, rentang fokus yg makin menyempit, justru malah bikin agenda yg sedang dijalani ga optimal. Malah bisa jadi kl belajar ga tuntas, pekerjaan engga beres, andaipun beres tidak akan memuaskan. Bahkan obrolan ringan dgn anak istri kl terdistraksi bisa jadi mengurangi kualitas kedekatan yg sedang dibangun.
Kondisi ini buruk bagi individu atopun komunitas dalam jangka panjang...lalu gimana buat mengobatinya ? nanti insya Allah ditulis kapan2

Kamis, 15 Agustus 2019

Mencari Minat

Kata 'minat' rasanya jarang sekali mendapat porsi perhatian yang besar dalam dunia pendidikan kita. Saya mungkin salah, tapi itulah yang saya dengar setelah sekolah 20 tahun dan bekerja 14 tahun bersama kaum pendidik.

Padahal di luar negeri, kata 'minat' menjadi primadona yang digunakan sebagai motivasi di berbagai tempat. Di acara-acara wisuda kelulusan, berulang kali para lulusan didorong untuk mengejar impian,  mereka dimotivasi untuk melakukan ha-hal yang diminati di masa depan mereka lalu dengan menggeluti minat tersebut akhirnya akan menggapai kebahagiaan. Kegembiraan apa lagi yang bisa dialami mereka yang lulus sekolah selain tenggelam dalam menyelami minat dan bisa menghasilkan uang darinya.

Menjalani minat adalah melakukan pekerjaan yang membuat hati kita senang ketika menjalaninya. Tidak ada paksaan, intimidasi, dan tekanan dari siapapun. Menjalani minat bisa menimbulkan gairah bahkan dengan memikirkannya. Menjalani minat bisa memudahkan kita untuk mencurahkan segenap tenaga dan perasaan sebab emosi positif selalu mengiringi selama minat itu hidup terus.

Tapi faktanya...orang-orang dibelahan bumi barat dan timur selalu menemui benturan antara minal dan fakta. Inginnya bisa menjadikan minat sebagai profesi yang menghasilkan uang, tapi berapa banyak pekerjaan tersedia yang selaras dengan minat? bisa dikatakan sangat sedikit, atau bahkan bisa jadi tidak ada.

Sementara para lulusan sekolah itu harus bekerja dan menghasilkan uang untuk menjalankan roda ekonomi keluarga. Apa mereka harus terus mencari dan menunggu lama untuk akhirnya bisa menemukan pekerjaan yang selaras minat? Apa mereka harus makan dan numpang hidup di orang tua sambil menekuni minat sampai minat tersebut menghasilkan uang dalam jumlah yang mencukupi tuntutan hidup?

Pengalaman juga mengungkapkan, betapa banyak orang di sekitar kita yang bekerja dengan motivasi uang saja. Apalagi di wilayah yang sedikit menawarkan lapangan kerja, Orang mencari pekerjaan sekedar menyambung hidup, apapun yang bisa dilakukan tangannya asal bisa mengebuli dapur. Obrolan tentang minat tenggelam di antara topik-topik yang lebih mendesak untuk dipenuhi.

Memang....ada nasihat agar kita berupaya 'menyukai' pekerjaan apapun yang sedang kita jalani. Terdengar rasional dan manis. Tapi bisa jadi pahit pada prakteknya.

Lalu apa yang mesti kita lakukan mengenai minat yang selama ini (mungkin) belum pernah kita dapatkan?

Caranya menurut seorang psikolog ternama adalah dengan memahami bahwa minat itu bisa berubah.

Minat yang sekarang kita miliki bisa jadi nanti akan tenggelam dan berganti dengan minat lain yang berbeda. Seiring dengan waktu akan ditemui minat yang bisa membangkitkan gairah kita untuk menekuninya.

Berdasarkan penelitian terhadap orang-orang unggul di bidang yang diminati, rata-rata mereka pernah meninggalkan minat lamanya. Seorang pemenang lomba olimpiade renang katanya begitu menikmati olah raga renang (artinya dia meminatinya), tapi ketika pertama kali renang dia merasa 'biasa' saja dan bahkan menyangka renang sama sekali bukan minatnya. Seiring dengan waktu ternyata dia bisa menemukan bahwa renang adalah minat terpendamnya dan bisa dia tekuni untuk terjun ke dunia profesional berenang.

Jadi...kunci pertamanya adalah: TEMUKAN MINATMU TERLEBIH DAHULU.
dan jangan menyerah dalam mencarinya!






Minggu, 17 Maret 2019

Cari Jurnal dan Literatur Lain Yuk!

Ok Teman-teman, di bawah ini saya tuliskan beberapa situs yang bisa kamu akses untuk 'meraup' jurnal/artikel sebanyak-banyaknya :D

1. https://garuda.ristek,dikti.go.id
Ini adalah situs rujukan digital milik kementerian riset, teknologi, dan pendidikan tinggi. Laman depannya menarik dengan menampilkan kata-kata kunci yang mewakili keanekaragaman topik penelitian.

Kalo mau cari jurnal, klik 'journal / conference' di kanan atas. Kamu bisa browsing cari judul dengan meng-klik tanda 'lup'/ kaca pembesar.

2. www.lib.ui.ac.id
Ini adalah portal perpustakaan digital milik universitas Indonesia. Kalo sudah masuk, untuk mencari tesis atau artikel tertentu scroll ke bawah, dan lihat daftar link di sebelah kanan. Ada UI tugas akhir, UI tesis, dan sebagainya. Klik yang 'open' dan sesudah masuk, entry kata kunci yang kamu cari.

3. oneserach.id
Portal ini merupakan portal perpustakaan raksasa yang dikelola Perpusnas (Perpustakaan Nasional). Kontennya berasal dari koleksi-koleksi perpustakaan di seluruh Indonesia, baik itu universitas, arsip daerah, museum, dan berbagai sumber elektronik.

Di sini kamu coba daftar ya jadi anggota perpustakaan nasional. Secara daring aja ko, gampang.

masuklah ke http://keanggotaan.perpusnas.go.idJangan lupa siapkan KTP ya. Ikuti instruksi pengisian form seperti di layar lalu terakhir jangan lupa klik centang paling bawah sebagai tanda pesertujuan akan persyaratan.

setelah bisa log in, nanti masuklah ke bagian 'layanan' lalu setelahnya klik 'e resources'. cari judul. kalo sudah ketemu klik 'konten digital' untuk membaca secara daring.

untuk mencari artikel dari luar negeri di onesearch.id ini, klik 'proquest'. Masukkan kata kunci yang kamu siapkan.
pencarian di proquest menggunakan 'ti'. contoh ti(stem) AND ti(education).

untuk mencari tesis atau desertas, klik di kiri "dissertation & thesis". Bisa juga kamu gunakan 'advanced search'. klik 'in' lalu doc, tittle, etc.

Apabila dari artkel yang kamu baca akan dikutip untuk tulisanmu, maka klik 'cite' di artikel tersebut, lalu copy-paste kan ke makalah.

4. neliti.com
neliti.com adalah repositori ilmiah Indonesia yang bermitra dengan Perpustakaan Nasional, LIPI, dan The Conversation. neliti.com yang mengkoleksi jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku, laporan penelitian, makalah kebijakan, makalah konferensi, dan data primer dari universitas, badan penelitian, lembaga pemerintahan, dan penerbit seluruh Indonesia.


Mungkin kamu punya sumber e resources (dalam negeri) lain yang biasa dipake untuk mencari jurnal/artikel ilmiah. Sementara 4 situs itu saja yang saya informasikan di sini. Empat situs itu saja ga akan habis dieksplorasi dalam setahun kayaknya...wkwkwk

Berikutnya adalah situs-situs yang sering dibuka untuk mencari jurnal/artikel ilmiah terpercaya dari luar negeri.

1. doaj.org








Googling Efektif: Cara berliterasi Zaman Now!

Definisi Literasi Informasi menurut American LibraryAssosiation (2000) adalah satu rangkaian kemampuan individu untuk mengenali informasi saat diperlukan dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi tersebut secara efektif. Dari definisi tersebut ada beberapa aspek yang dapat ditekankan, yaitu "mengenali informasi saat diperlukan", lalu kemampuan untu :"menemukan informasi", "mengevaluasi informasi, dan "menggunakan informasi".

Di tulisan ini kita belajar sedikit tips untuk "menemukan informasi" yuk! (Bagian lainnya lain kali aja kalo sempat)

Kenapa ko mesti pake TIPS segala untuk menemukan informasi?

Jawabannya adalah karena tanpa menggunakan tips-tips efektif ini, maka akan sulit mencari informasi yang benar dan akurat atau sesuai harapan kamu. Bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Karena dunia maya punya banyaak sekali informasi buat dibagi. Kamu bisa kehabisan banyak waktu buat memilah dan memilih informasi yang sesuai keinginanmu.

Di sini kita akan menggunakan search engine yang sudah akrab dengan jari kita (hehee...) apalagi kalo bukan google!
Caranya adalah dengan menggunakan beberapa strategi, yaitu:

1. Gunakan kata "Allintitle" jika kamu mau mendapatkan hasil penelusuran di bagian JUDUL (saja!) pada artikel/buku/makalah, dsb.
Contoh, ketiklah: Allintitle: hutan tropis dunia

maka kamu akan mendapatkan hasil pencarian yang bagian judulnya berisi 3 kata tersebut ('hutan', 'tropis', dan 'dunia')

2. Manfaatkan tanda kutip ("...") untuk mencari serangkaian kata/frase yang tidak terpisah.
Contohnya gini, ketiklah: "manfaat hutan tropis"

maka kamu akan mendapatkan hasil pencarian yang mengandung kalimat 'manfaat hutan tropis' tanpa terpisah oleh kata atau tanda baca. Cara ini berguna jika kamu benar-benar ingin mencari judul artikel yang sangat spefisik dengan perpaduan kata yang kamu inginkan.

3. Pakailah 'filetype' untuk mencari dokumen yang sesuai.
Contoh, jika kamu mencari tulisan dalam format PDF, maka jangan lupa mengetik: filetype:PDF. tentu saja jangan lupa mengetik kata kunci yang kamu cari terlebih dahulu
Misal ketiklah: "manfaat hutan tropis" filetype:PDF

maka kamu akan mendapatkan hasil pencarian berupa PDF yang berisi 3 kata terangkai tersebut.

4. Gunakan 'site:...' untuk menentukan lokasi situs yang spesifik di hasil pencarian google kamu.
Contohnya, ketiklah: 'site:ac.id' untuk mencari artikel-artikel di semua situs yang berekstensi ac.id. biasanya kampus-kampus seperti itb.ac.id, ui.ac.id, dsb.
Jadi kamu ga dapet seabreg tulisan dari berbagai situs yang tidak jelas, dan tidak kamu harapkan ada. Lebih mudah dalam pencariannya bukan? Tentu jangan lupa pula menuliskan kata kunci untuk artikel yang mau dicari.

Keempat cara di atas tersebut dapat kamu gabung sekaligus juga lho.

Contohnya ketiklah: allintitle:"penilaian kinerja siswa" filetype:pdf site:ac.id

maka kamu akan mendapatkan artikel-artikel PDF yang di bagian judulnya terdapat serangkaian kata 'penilaian kinerja siswa' yang diambil dari situs-situs kampus seperti unj.ac.id, uinsby.ac.id dan lain-lain.

Mudah-mudahan dengan tips-tips di atas kamu dapat lebih cepat dan akurat dalam mengakses dokumen digital :) 

Alhamdulillah


Selasa, 12 Maret 2019

Untuk Apa Menulis?

Menulis adalah kegiatan yang bermanfaat. Siapapun tahu akan hal itu. Tapi kenapa muncul pertanyaan "untuk apa menulis?"

Pertanyaan tersebut muncul karena diajukan oleh mereka yang penasaran apakah nulis itu layak dilakukan dengan mengorbankan waktu dan tenaganya :D Sebab selama ini orang kalo tidak menulis, ya mereka jadi pembaca, dan mereka menjadi pembaca hampir di sepanjang hidup mereka. Menulis dilakukan jika diminta oleh guru, jika ada tugas, atau kewajiban lain yang dirasa olehnya mendesak.

Kalolah orang-orang tahu manfaat menulis, niscaya mereka akan selalu meluangkan waktu untuk menulis secara serius. Lalu apakah manfaat menulis itu? Menulis mempunyai beberapa manfaat sebagai berikut:

1. Menulis dapat menyalurkan bakat terpendam. Penulis berbakat bisa jadi tidak akan menjadi terkenal jika tidak pernah memegang pena dan menulis, tidak pernah memegang keyboard dan mengetik tulisan. Seperti pendekar pedang berbakat, tidak akan pernah menjadi pendekar pedang sejati tanpa diawali oleh 'memegang pedang'.

2.Menulis dapat mengembangkan dan merangkai ide/gagasan. Dengan menulis, tangan seolah menjadi otak kedua yang membimbing tangan untuk terus mengembangkan ide-ide yang bermunculan di kepala kita. Sebuah keadaan yang tidak akan muncul andaikata kita berdiam diri. Melalui kegiatan menulis seseorang selain dapat mengembangkan ide juga dapat menyusun serangkaian ide-ide yang awalnya terpisah dan tidak berkaitan menjadi sebuah ide besar yang saling terpaut satu sama lain.

3. Menulis dapat menjadi sarana melepas stres, menyalurkan kegelisahan dan pikiran yang buntu saat tidak tahu harus mengadu secara bebas kepada siapa. Dalam beberapa artikel dituliskan manfaat menulis dalam mengurangi stres, meringankan beban psikologis, dan semacamnya.

4. Menulis membantu kita untuk berpikir dan fokus. Sebab itulah cara untuk menyelesaikan tulisan. Meskipun tulisan itu ringan, tapi perlu fokus dan berpikir yang baik untuk menyelesaikannya. Cobalah baca pengalaman-pengalaman para penulis besar. Mereka memerlukan waktu dan tempat khusus untuk menulis disebabkan alasan ini (fokus dan berpikir). Semakin lama menjadi penulis, semakin terlatih seseorang untuk berpikir kuat dan fokus dalam jangka waktu yang lama.

5. Menulis membantu rasa percaya diri dengan kepemilikan karya tulis. Karya tulisan yang dibuat dan disimpan dalam beragam format tersebut jadi portofolio kebanggaan meskipun isinya 'tak seberapa hebat'. Terlebih apabila tulisan-tulisan tersebut dikumpulkan lalu dibukukan. Dibuat novel dan buku. Selain kebanggaan juga menjadi sumber penghasilan.

6. Menulis membantu kita untuk merekam kenangan. Tulisan diary, fiksi, ilmiah, populer, atau ilmiah populer yang kita buat pasti punya latar belakang (baik peristiwa atau motivasi tertentu misalnya). Dengan membaca tulisan-tulisan lama, kita akan mengingat latar belakang atau konteks tulisan tersebut (bring back memories). Baik itu peristiwa lucu, sedih, gembira, dan berkesan lainnya yang mungkin sudah lama terlupakan. 'Reuni perasaan' ketika kita membaca tulisan lama hampir sama kesannya dengan melihat foto-foto lama. Apalagi jika di dalam tulisan tersebut mengandung foto-foto juga, maka semakin lengkaplah memori tersebut tersimpan.

Demikian beberapa manfaat menulis dari sudut pandang penulis pribadi. Ada beberapa manfaat lain yang sengaja tidak saya tulis. Barangkali bisa menjadi tambahan untuk pembaca dan bahan diskusi kita. 

Alhamdulillah
Semangat menulis dan berbagi!






Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More