Tulisan terakhir tentang Helen Keller yang menyajikan kepada kita cerita ajaib tentang kesungguhan seorang anak buta tuli yang bisa menjadi guru dunia. Tapi di balik cerita itu ada perjuangan serius seorang guru.
Seorang guru yang berhasil mengajak anak yang buta tuli ke pintu gerbang dunia, yang penuh dengan nama-nama benda dan warna. Sebuah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua Helen Keller sendiri. Guru Helen tersebut bernama Anne Sullivan. Anne muncul di kehidupan Helen Keller pada musim semi tahun 1887. Sejak itu sampai di sebagian besar kehidupan Helen, Anne selalu membimbingnya.
Sejarah yang tidak diketahui orang banyak adalah Anne sendiri mengalami banyak penderitaan sejak kecilnya. Ini yang bikin hati saya sendiri sedih, kembali karena inget anak sendiri. Anne kehilangan sebagian pengelihatannya di usia 5 tahun, lalu bayangkan saja seorang anak gadis harus hidup dengan adik laki-lakinya berdua, karena ibunya wafat saat Anne berusia 8 tahun dan ayahnya yang pemabuk meninggalkan mereka. Saudara mereka juga menolak untuk mengasuh sampai akhirnya mereka berdua harus tinggal di rumah penampungan, yang di zaman itu identik dengan tempat orang-orang pembuangan.
Hidup di penampungan derita demi derita mesti dirasakan 2 anak kecil tanpa ayah ibu tersebut. Karena rumah penampungan berisi juga orang berpenyakit, adik laki2 Anne tertular TBC, perjuangannya tidak bisa lama hingga akhirnya ia wafat meninggalkan Anne sendiri.
Di tengah penderitaan yang bertubi-tubi, satu hal yang membuat Anne istimewa adalah semangatnya. Dengan modal ini Anne memberanikan diri menyergap dan memegang erat tangan inspektur pemerintah yang berkunjung ke penampungan. Dia memohon untuk bisa disekolahkan olehnya. Watak nekad itu membuahkan hasil, Anne sekolah di sekolah tuna netra, Perkins Institution.
Di sana Anne mendapat bully dari teman2nya, karena Anne tidak pandai membaca, ditambah lagi sifat Anne yang emosional dan suka memberontak (mungkin ini disebabkan kurangnya kasih sayang dan perhatian di usia kecilnya). Selain kawan-kawan yang suka mengejek, sebagian guru Anne juga tidak bisa bersabar dengan sifat Anne. Tapi...ada beberapa guru yang melihat potensi Anne dan mau mengembangkan potensi terpendam Anne.
Di sini kita lihat, dalam rentang kehidupan berat seseorang...selalu ada guru yang tidak pernah berputus asa dan bersedia terus memupuk kematangan anak didiknya.
Setelah lulus sekolah, Anne menerima tawaran menjadi pengasuh anak yang bernama Helen Keller. Ketika itu Helen berusia 7 tahun, artinya sudah 5 tahun dia menderita kebutaan dan ketulian. Sebuah ujian berat bagi guru belia yang baru lulus sekolah seperti Anne.
Helen seperti biasa, bersikap bengis dan keras kepala kepada siapapun. Akan tetapi ada sesuatu pada diri Anne yang dalam waktu singkat bisa menenangkan Helen. Simak apa yang tidulis Anne di jurnalnya, 2 minggu setelah bertemu Helen:
"Makhluk liar yang saya kenal 2 minggu lalu telah berubah menjadi anak lembut. Ia duduk di samping saya saat saya sedang menulis jurnal ini. Wajahnya tenang dan bahagia.
Kini menjadi tugas menyenangkan bagi saya untuk mengarahkan dan membentuk kecerdasannya yang indah yang mulai menggugah jiwanya."
Seorang guru yang berhasil mengajak anak yang buta tuli ke pintu gerbang dunia, yang penuh dengan nama-nama benda dan warna. Sebuah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua Helen Keller sendiri. Guru Helen tersebut bernama Anne Sullivan. Anne muncul di kehidupan Helen Keller pada musim semi tahun 1887. Sejak itu sampai di sebagian besar kehidupan Helen, Anne selalu membimbingnya.
Sejarah yang tidak diketahui orang banyak adalah Anne sendiri mengalami banyak penderitaan sejak kecilnya. Ini yang bikin hati saya sendiri sedih, kembali karena inget anak sendiri. Anne kehilangan sebagian pengelihatannya di usia 5 tahun, lalu bayangkan saja seorang anak gadis harus hidup dengan adik laki-lakinya berdua, karena ibunya wafat saat Anne berusia 8 tahun dan ayahnya yang pemabuk meninggalkan mereka. Saudara mereka juga menolak untuk mengasuh sampai akhirnya mereka berdua harus tinggal di rumah penampungan, yang di zaman itu identik dengan tempat orang-orang pembuangan.
Hidup di penampungan derita demi derita mesti dirasakan 2 anak kecil tanpa ayah ibu tersebut. Karena rumah penampungan berisi juga orang berpenyakit, adik laki2 Anne tertular TBC, perjuangannya tidak bisa lama hingga akhirnya ia wafat meninggalkan Anne sendiri.
Di tengah penderitaan yang bertubi-tubi, satu hal yang membuat Anne istimewa adalah semangatnya. Dengan modal ini Anne memberanikan diri menyergap dan memegang erat tangan inspektur pemerintah yang berkunjung ke penampungan. Dia memohon untuk bisa disekolahkan olehnya. Watak nekad itu membuahkan hasil, Anne sekolah di sekolah tuna netra, Perkins Institution.
Di sana Anne mendapat bully dari teman2nya, karena Anne tidak pandai membaca, ditambah lagi sifat Anne yang emosional dan suka memberontak (mungkin ini disebabkan kurangnya kasih sayang dan perhatian di usia kecilnya). Selain kawan-kawan yang suka mengejek, sebagian guru Anne juga tidak bisa bersabar dengan sifat Anne. Tapi...ada beberapa guru yang melihat potensi Anne dan mau mengembangkan potensi terpendam Anne.
Di sini kita lihat, dalam rentang kehidupan berat seseorang...selalu ada guru yang tidak pernah berputus asa dan bersedia terus memupuk kematangan anak didiknya.
Setelah lulus sekolah, Anne menerima tawaran menjadi pengasuh anak yang bernama Helen Keller. Ketika itu Helen berusia 7 tahun, artinya sudah 5 tahun dia menderita kebutaan dan ketulian. Sebuah ujian berat bagi guru belia yang baru lulus sekolah seperti Anne.
Helen seperti biasa, bersikap bengis dan keras kepala kepada siapapun. Akan tetapi ada sesuatu pada diri Anne yang dalam waktu singkat bisa menenangkan Helen. Simak apa yang tidulis Anne di jurnalnya, 2 minggu setelah bertemu Helen:
"Makhluk liar yang saya kenal 2 minggu lalu telah berubah menjadi anak lembut. Ia duduk di samping saya saat saya sedang menulis jurnal ini. Wajahnya tenang dan bahagia.
Kini menjadi tugas menyenangkan bagi saya untuk mengarahkan dan membentuk kecerdasannya yang indah yang mulai menggugah jiwanya."







