Sabtu, 26 Mei 2012

Tuntutan dan Kebutuhan

Manusia memang telah membuktikan dominasinya di bumi ini dan menunjukkan bahwa ia dilahirkan untuk mengelola dan menguasainya. Kekuatan yang dimiliki manusia untuk menuntaskan tugas kekhalifahan itu bukan berasal dari unsur badannya, tapi merupakan hasil dari pengoptimalan daya pikir yang diasah dari waktu ke waktu. Ilmu pengetahuan yang lahir dari akumulasi pengalaman dan penelitian di rentang sejarah hidup manusia menuntut mereka melakukan kerja mengajar-mendidik-melatih.

Di zaman primitif, dalam bentuk usahanya yang paling sederhana, manusia berkepentingan untuk mendidik anak keturunan mereka untuk berburu makanan dan bertahan hidup dari serangan para predator. Mengatasi teriknya panas saat kemarau dan perihnya rasa dingin saat musim salju.
Pendidikan menjadi penting sebagai jembatan penghubung dua generasi agar saling terikat secara visi, ideologis, ataupun sekedar melanjutkan kebiasaan sederhana seperti berdoa sebelum makan. dalam prakteknya, pendidikan dapat berlangsung melalui arahan dan skenario orang dewasa atau bisa juga berlangsung melalui eksplorasi mandiri, permainan, dan menciptakan pengalaman sendiri.


Di awal sejarah manusia yang hidup sebagai pemburu dan pengumpul makanan, (berdasarkan bukti antropologi) anak-anak belajar dalam budaya masyarakat mereka agar menjadi orang dewasa yang efektif melalui permainan dan eksplorasi. Motivasi kuat untuk bermain dan eksplorasi ini diasumsikan berasal dari pemenuhan tuntutan kebutuhan akan pendidikan. Orang dewasa di zaman ini memberi ruang yang luas kepada anak-anak mereka untuk bermain dan bereksplorasi sendiri karena mereka mengenali bahwa aktivitas itu adalah cara alamiah anak-anak untuk belajar.

Cara hidup pemburu dan pengumpul makanan bersifat "skill-intensive" dan "knowledge intensive", tapi tidak "labor intensive". Agar menjadi pemburu dan pengumpul makanan yang baik, mereka harus memiliki wawasan luas tentang tumbuhan dan hewan (yang terkait langsung hidup mereka) dan juga lahan tempat hidup dan berjuang dalam mempertahankan hidup. Selain itu diperlukan pengembangan kemampuan dalam membuat dan menggunakan alat-alat berburu. Orang-orang di zaman itu harus memiliki inisiatif tinggi dan kreatif agar bisa melacak dan menemukan makanan. Akan tetapi mereka tidak perlu bekerja lama. Tapi pekerjaan mereka begitu menarik, tidak monoton. Antropologis menyatakan bahwa kelompok-kelompok pemburu dan pengumpul makanan itu tidak bisa membedakan antara pekerjaan dan permainan. Secara esensial, seluruh kehidupan mereka dimaknai sebagai 'bermain'.

Disinilah kita melihat pendidikan sebagai bagian dari kebutuhan, tak begitu terasa menjadi bagian dari sebuah  tuntutan.

Penemuan sistem agrikultur sekitar 10.000 tahun yang lalu menimbulkan arus perubahan dalam cara menjalankan hidup sebagian orang. Dengan sistem agrikultur orang bisa menghasilkan makanan lebih banyak, sehingga mereka bisa memiliki lebih banyak anak. Agrikultur juga mendorong (bahkan memaksa) orang untuk hidup secara permanen dekat lahan pertanian mereka yang lama kelamaan membiasakan manusia untuk mengakumulasi properti/lahan. Lalu terjadilah pembagian kelas, yaitu 'pemilik lahan' yang memerlukan bantuan 'tenaga kasar' yang tidak memiliki lahan. Di zaman ini sistem perbudakan berkembang. Feodalisme menuntut pengajaran kepada anak-anak bahwa mereka harus bersikap tunduk, patuh, menekan hasrat dan keinginan mereka sendiri, menunjukkan penghormatan tinggi kepada tuan mereka. Segala bentuk sikap memberontak bisa berakibat pada kematian.

Setelah zaman revolusi industri, feodalisme mulai surut tapi tidak otomatis mendorong budaya pendidikan yang baik di semua kalangan. Tetap diperlukan tenaga-tenaga buruh yang murah untuk dijadikan pekerja di pabrik-pabrik. Sampai sekarang masih ada beberapa negara yang mengabaikan hak-hak pendidikan anak-anak dan menjadikan mereka sebagai buruh kasar di pabrik-pabrik.

Dengan demikian, beberapa ribu tahun setelah perkembangan sistem agrikultur, pendidikan pada taraf tertentu memang diarahkan agar segala potensi peserta didik dikembangkan hingga mereka menjadi pekerja yang baik. Anak yang baik adalah anak yang 'patuh', mereka yang mampu menekan hasrat bermain dan bereksplorasi dan mampu menjalankan dengan baik segala perintah dari orang dewasa.

Di sini pendidikan menjadi sebuah tuntutan. Atau apakah ia sebenarnya berasal dari sebuah jawaban atas kebutuhan ?

Bagi saya satu hal yang pasti, pendidikan harus bisa mempersiapkan generasi baru agar mereka bisa menjawab tantangan zamannya dan itu adalah sebuah tuntutan. Asal peserta didik itu tidak dididik agar mereka jadi budak atas orang lain.Tapi pendidikan itu harus memerdekakan dirinya yang sejak awal adalah merdeka dan menjadi hamba Tuhannya saja. Pendidikan menjadikan mereka tokoh yang memberi solusi bagi kehidupan, bukan sekedar menyenangkan penguasa di zamannya.

Ketika pendidikan itu terimplementasi dalam sebuah sistem, maka sistem itu harus mampu berinteraksi dengan segenap komponen dan potensi mereka dengan caranya sendiri sehingga guru dan peserta didik mampu memahami bahwa mereka membutuhkan pendidikan itu. Lalu mereka hidup bersamanya dengan penuh rasa cinta, gembira, dan pengharapan luhur.


Disarikan dari http://www.psychologytoday.com/blog/freedom-learn/200808/brief-history-education, dan lain-lain.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More