Kamis, 30 Juli 2020

Pendidikan Rumah

Sekarang ini home schooling sedang tren di kalangan orang tua. Kenapa tren-nya hanya terjadi di kalangan orang tua saja? Jawabannya yaa karena orang tualah yang selama ini menyekolahkan anaknya. Merekahlah yang berhak menyekolahkan anaknya di sekolah negeri ataupun swasta, di dalam maupun luar negeri, dan pesantren/boarding school atau di sekolah biasa. Pilihan-pilihan seputar sekolah anak selama ini pada dasarnya jatuh kepada orang tua. Termasuk ke dalam pilihan untuk menyekolahkan anaknya atau tidak.

Di zaman ini orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya memang bisa dituntut oleh hukum karena dikategorikan menghalangi pendidikan yang merupakan salah satu hak dasar seorang anak. Kewajiban orang tualah menyediakan pendidikan itu sebagaimana kewajiban mereka untuk memberinya makan, sandang, papan, perlindungan, serta pengasuhan yang baik. Sebenarnya kita beruntung hidup di sebuah masa yang komunitas dan pemerintahnya memberikan perhatian yang besar terhadap hak pendidikan anak. Tapi orang tua di era sekarang dihadapkan pada banyak dilema yang membuat mereka merasa berat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah seperti kebanyakan orang.

Permasalahan yang kompleks di dunia persekolahan seperti bullying, kurikulum yang terlalu padat, pendidikan yang tidak memperhatikan keunikan dan karakteristik khusus anak, lingkungan sosial yang buruk, dan aneka permasalahan lainnya mendorong orang tua untuk mencari alternatif pendidikan luar sekolah. Orang tua pada dasarnya ingin yang terbaik untuk anak mereka, termasuk dalam hal pendidikan. Apalagi orang tua yang sadar betul bahwa melalui pendidikanlah masa depan seorang anak dibentuk dan diarahkan. Oleh sebab itu orang tua memikirkan bagaimana agar segala hal yang negatif yang terdapat pada dunia persekolahan umum dihindari semaksimal mungkin sambil tetap berupaya memberikan pendidikan yang terbaik untuk sang anak. Ada juga alasan lain seperti alasan keyakinan, agama, atau filosofis pendidikan yang dipegang teguh orang tua sebagai idealisme.

Oleh sebab itu hal ini pula yang mendorong masyarakat kreatif dalam menciptakan model-model persekolahan. Sekarang kita mengenal sekolah seperti sekolah Islam Terpadu, sekolah alam, sekolah yang khusus mengajarkan matematika dan IPA, dan jenis sekolah lainnya sebagai hasil kreativitas masyarakat. Keragaman sekolah yang kita temui tersebut adalah jawaban dari warga sendiri atas tantangan-tantangan masa depan, juga atas permasalahan yang tidak bisa diatasi oleh sekolah-sekolah umum yang ada. Keberadaan sekolah yang variatif tersebut juga memberikan masyarakat alternatif yang banyak untuk anak-anak mereka. Orang tua dimanjakan dengan aneka pilihan sekolah seperti menu makanan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan selera anak-anak mereka.

Di antara jenis persekolahan yang beraneka rupa tersebut terdapat alterntif sekolah yang dinilai bagus, yaitu yang kita kenal dengan home schooling. Kenapa dinilai bagus? Karena berdasarkan testimoni orang tua yang menyelenggarakan home schooling itu sendiri. Mereka mendapatkan manfaat besar yang terlihat kongkrit pada diri anak mereka. Oleh sebab itu home schooling beranjak dari sekedar alternatif sekolah menjadi sebuah gerakan besar di pelbagai penjuru dunia.

Home schooling dilakukan melalui cara orang tua memberikan sendiri pendidikan untuk anaknya sebagai pengganti kegiatan belajar di sekolah tradisional. Home schooling menjadi gerakan yang tumbuh sejak tahun 1970 di Amerika Serikat. Sekarang ini di sana diperkirakan ada 2 juta anak-anak yang dididik melalui home schooling berdasarkan the National Home Education Research Institute. Angka anak yang belajar via home schooling tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Di Amerika serikat ketentuan legal untuk kegiatan home schoolng berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada yang ketat tapi ada juga yang sangat longgar.

Berdasarkan buku Teach Your Own karangan Holt, hal paling penting yang dibutuhkan oleh orang tua untuk menyekolahkan anaknya di rumah adalah “ to like them, enjoy their company, their physical presence, their energy, foolishness, andd passion”. Orang tua harus bisa menikmati semua omongan dan pertanyaan sang anak, selain mereka juga harus bisa menikmati untuk memberi jawaban atas semua pertanyaan tersebut. Itulah persyaratan pokok untuk orang tua, dan mesti sejalan dengan dedikasi mereka terhadap proses pendidikan di kegiatan home schooling.

Kegiatan home school dapat dimulai pagi hari seperti halnya kegiatan belajar di sekolah tradisional. Tapi jangan heran, ada juga orang tua yang benar-benar membedakan belajar seperti sekolah biasa. Ada yang memulai belajar kapanpun yaitu ketika anak mereka menunjukkan rasa penasaran. Kegiatan tersebut dapat dilakukan sebelum tidur, bisa siang hari ataupun malam.

Filosofi pendidikan yang dianut oleh orang tua sangat menentukan bagaimana mereka membuat struktur belajar di rumah. Kita yang belajar di sekolah tradisional mengenal satu gaya pendidikan, sistem yang berbasis buku, barisan meja belajar, dan tes terstandar, tapi sebenarnya ada banyak filosofi pendidikan di dunia ini. Termasuk metode Waldorf, Montessori, Charlote Mason, Classical, leadership education, interest-led learning, unit study, dan lain-lain. Para pelaku home schooling memiliki kemerdekaan untuk memilih dan mencampur ide-ide dari sekian banyak metode yang menurut mereka terbaik untuk pendidikan anak-anak di rumah.

Orang tua juga mengkombinasikan beberapa materi yang tidak terikat usia anak seperti sejarah, literatur, dan seni. Anak-anak yang usianya berbeda bisa jadi memperoleh materi sejarah yang sama tapi ketika diberi tugas, mereka diberi beban yang berbeda sesuai dengan perkembangan tingkat berpikir mereka. Sementara untuk mata pelajaran lain seperti matematika, orang tua biasanya memberikan topik yang berbeda untuk setiap anak sesuai kebutuhan dan perkembangan mereka.

Dalam buku best seller-nya, Element, Sir Ken Robinson menuliskan bahwa “ kunci menuju transformasi pendidikan adalah bukan dengan standarisasi pendidikan, tapi dengan mempersonalisasi pendidikan, untuk membangun prestasi dengan menemukan bakat individu dari setiap anak. Menempatkan siswa di lingkungan di mana mereka ingin belajar dan mereka dapat secara mudah/alami menemukan hasrat mereka yang sesungguhnya”. Atmosfer yang diberikan dalam home schooling menyediakan setting alami yang membuat orang tua bisa memberikan metode/cara belajar yang khas, yang sesuai dengan ketertarikan setiap anak, kemampuan, dan gaya belajar mereka.

Di Indonesia komunitas home schoolers ini juga banyak anggotanya. di medsos ada tokoh-tokoh home schoolers yang rajin menulis metode dan keunikan serta prestasi anak didikannya. Sangat menarik untuk dipelajari dan diambil hikmahnya. Sebab buat orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah tradisional juga punya keinginan untuk mendidik anaknya di rumah ketika ada kesempatan. Menjadi orang tua sekaligus guru adalah hasrat dasar sekaligus tantangan untuk kita semua.

Disarikan dari https://www.parents.com/kids/education/home-schooling/homeschooling-101-what-is-homeschooling/

 

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More