Ayo menjadi GURU!

Karena saya yakin bahwa setiap orang harus menjalankan peran sebagai guru, mentor, dan trainer

Dua Kecenderungan Abadi

Pendidik membantu menguatkan kecenderungan manusia pada pilihan-pilihan baik, sehingga tidak ada waktu untuk melirik pada pilihan-pilihan buruk

Mengajar Bukan Sekedar Bunyi

Memulai kebaikan dari diri sendiri ternyata merupakan unsur vital bagi keberhasilan pendidikan

Menembus Cakrawala

Belajar dan mengajarkan ilmu mengasyikan tak kepalang, sampai-sampai langit serasa di genggaman

Kunci Sukses Itu

Ia adalah kunci bagi pintu-pintu kebahagiaan yang selama ini tertutup dan terabaikan

Sabtu, 25 April 2020

Rewriting: Mengubah Tulisan Jelek

Saya melihat budaya menulis masih kurang dimilik oleh bangsa kita. Ini mungkin pendapat subjektif, karena bukti yang saya kumpulkan saya lihat dari sedikit sekali tulisan di blog-blog milik teman, baik teman kerja, teman kuliah, atau teman semasa sekolah.

Saya tidak menemukan tulisan mereka di artikel on line, majalah, koran, atau berupa wujud buku. Bahkan media tulis yang mudah selain blog, semisal facebook (yang tidak dibatasi karakternya seperti twitter) masih sulit menemukan jejak kepenulisan mereka. Sangat-sangat sulit...

Saya menilai dari sekian banyak alasan yang menyebabkan seseorang tidak menulis, salah satu yang paling menonjol adalah perasaan bahwa tulisan yang dibuat tidak berkualitas.
"Tulisan saya jelek, pasti orang males bacanya"
"Tulisan saya ga layak tayang, pernah nulis tapi sampe sekarang ga minat nulis lagi karena saya tau isinya buruk"
"Daripada orang-orang membaca tulisan saya yang jelek, biar mereka baca tulisan orang lain saja. Soalnya saya ga akan pernah menulis lagi". Mungkin seperti itu di benaknya. Hehehe...

Ada yang memutuskan untuk tidak pernah menulis karena kapok. Sebab sekalinya nulis cuma sedikit yang ngasih 'liat'. Sebagian lagi berhenti menulis disebabkan kritikan yang diterima rasanya jauh lebih banyak daripada pujian. Secara keseluruhan pengalaman menulis ternyata memberi reward yang tidak terlalu positif sehingga keputusan untuk berhenti menulis rasanya akan lebih baik.

Menulis yang saya maksud di sini adalah menulis bebas lho. Entah tulisan curhat yang panjang, review masakan, ulasan pengalaman, resensi buku, opini perisiwa, atau tulisan receh semacam curhat rumah tangga.

Saya sudah membuat blog sejak lama, lebih dari 10 tahun malah. Saya senang menulis di blog tersebut. Tapi tahukah anda, bahwa saya ga pernah mempublikasikan blog itu? Selidik punya selidik alasannya adalah sama dengan kebanyakan orang. Yaitu saya tidak punya kepercayaan diri terhadap tulisan saya. Singkat kata saya percaya bahwa tulisan saya jelek! Ahahaha

Akibat keyakinan tersebut, aktivitas menulis saya terus terang jadi terhambat. Semisal saya tidak merutinkan diri untuk menulis, saya menahan diri dari membuat tulisan di facebook. Semua karena saya takut hanya menghasilkan tulisan berkualitas buruk yang tidak layak dibaca orang.

Andaipun ada yang membaca tulisan saya ujungnya cuma akan mendatangkan kritik yang ga enak didengar. Padahal tulisan tersebut biarpun buruk, tapi ada usaha besar untuk merampungkannya. Ketakutan akan buruknya tulisan, ketakutan akan pedasnya kritik membuat saya tidak rutin memproduksi tulisan, membuat saya menahan diri dari kegiatan menulis.

Setelah membaca buku-buku tentang kepenulisan dari barat, alhamdulillah saya mendapat pencerahan dalam mental penghambat ini. Masalahnya begini:

1. Kita menyangka bahwa tulisan ketika lahir harus dalam kondisi sudah bagus. Seperti manusia melahirkan anaknya, kondisi fisiknya pastilah sempurna. Padahal asumsi ini sangat lah tidak benar. Tulisan yang baru dibuat dan buruk adalah fenomena yang lumrah, dan kita mesti memahami ini. Jangan memaksakan diri untuk selalu menghasilkan tulisan bagus pertama kali.
Kita mungkin mengira bahwa penulis profesional dan ternama selalu menghasilkan tulisan sempurna dari setiap goresan pertama penanya. Seolah mereka yang namanya berderet di antara penulis legendaris pasti menghasilkan mutiara berharga dari setiap ketikan pertama mereka.

Sama sekali tidak! Penulis-penulis buku justru mengemukakan fakta sebaliknya. Mereka bilang bahwa tidak ada tulisan baru lahir lalu sempurna seketika itu juga, sekalipun dibuat oleh penulis berpengalaman.


2. Kita menganggap tulisan jelek karena sering membandingkannya dengan tulisan orang lain, entah dari penulis lama maupun baru. Melihat kualitas tulisan para penulis tersebut seringnya justru membuat mental jatuh. Kita merasa jarak antara mereka dan kita sangat jauh dari segi pengalaman maupun keterampilan. Kita menganggap tulisan apapun yang dibuat semestinya memenuhi standar penulisa kawakan. Ini sama sekali tidak benar.

Bacalah tulisan orang lain untuk mengambil pelajaran, tapi jangan jadi bahan untuk dibandingkan dengan tulisan kita. Tulisan kita adalah tulisan kita, yakinlah bahwa apa yang kita tulis unik sebagaimana halnya keunikan pemikiran dan kepribadian kita. Buatlah tulisan dengan percaya diri sambil mengembangkan kesadaran bahwa tulisan saya sedang bertumbuh. Sebagaimana tubuh, kognitif, dan wawasan, keterampilan menulispun berkembang setahap demi setahap.

Lalu apa rahasia agar tulisan jelek jadi bagus?

Untuk menjawab ini ada jawaban normatif, bahwa tulisan bagus dihasilkan dari wawasan banyak, dan keterampilan yang tinggi, dan pengalaman yang luas. Tapi ada satu jawaban yang jadi kunci untuk menghasilkan tulisan bagus. Jawabannya adalah ada pada kegiatan Penyuntingan/Editing/Rewriting. Pepatah dari penulis barat terkait ini adalah: There is no good writing, there are only good rewriting.

Rewriting bukan menulis tulisan kedua atau ketiga, tapi adalah kegiatan menyunting terhadap tulisan yang sudah dibuat. Rewriting inilah kunci dari keberhasilan para penulis, hata penulis berpengalamanpun melakukan rewriting. Seperti yang sudah dituliskan di atas, penulis kawakanp sering membuat tulisan jelek pada tulisan pertamanya (yang biasa disebut dengan draft tulisan). Tapi rewriting-lah yang membuat tulisan jelek menjadi bagus, tulisan acak-acakan menjadi rapi, tulisan yang sulit dipahami menjadi mudah dimengerti, tulisan yang mengandung kesalahan tulis, ejaan, kosa kata, atau struktur menjadi tulisan yang 'nyaris' sempurna.

Sekarang saya paham, rewriting adalah tahapan yang wajib dilalui oleh sebelum sebuah tulisan diterbitkan di blog, medsos atau di percetakan. Sekarang saya sadar bahwa setiap tulisan yang kita baca di berbagai media pada dasarnya adalah hasil rewriting. Dari bacaan yang saya baca, penulis-penulis fiksi maupun nonfiksi ada yang melakan rewriting berulang kali pada bukunya,  bahkan ada yang sampe puluhan kali untuk mencapai kondisi sekarang yang telah dinikmati jutaan orang.

Saya mengajak teman-teman pembaca juga untuk menyadari keberadaan tahapan rewriting ini. Karena dengan itu kita jadi paham bahwa tulisan pertama itu tidak mesti bagus apalagi sempurna. Karena nanti ada tahapan rewriting yang menambal bolong-bolong dan kekurangna di tulisan pertama tersebut. Semoga dengan mengikuti fase rewriting ini kita semakin berani menulis. Tidak menahan sisi liar untuk menuangkan isi pikiran ke dalam bentuk tulisan. Karena nanti akan ada proses rewriting yang meng-edit apa yang ingin kita perbaiki.

So...Have a nice writing and rewriting :)

Senin, 13 April 2020

let the earth rest for a while

Saya Pernah liat di timeline foto2 sepi kota2 dunia lalu diberi caption: "The earth is resting"
Mengharukan caption tersebut buat saya. Mengingat beban berat yg ditanggung planet ini akibat ulah manusia.
Keberadaan wabah besar yg sangat menyita perhatian warga dunia ini mesti bikin kita sadar agar bisa berpikir global.
Sambil diem di rumah sama2 bertafakur tentang konsumerisme kita. Gaya konsumsi yang menyita sumber daya planet bumi sedemikian rupa sehingga menimbulkan daya rusak yg besar.
Dulu....orang tua kita membeli baju kalo butuh, kakek nenek kita makan sehari2 dengan lauk yg sederhana, para leluhur kita melakukan perjalanan dengan alat transportasi yg apa adanya. Dulu bahkan kita waktu masih kecil cukup makan makanan berat, tidak merengek saat tidak ada cemilan di dalam rumah.
Sekarang...manusia beli baju bukan karena butuh, tapi karena ingin ganti fashion, ingin terlihat beda.
Sekarang manusia makan bukan karena lapar, tapi ingin memanjakan lidah dengan rasa yg berbeda.
Orang2 sekarang beli kendaraan bukan karena butuh, tapi karena ingin membeli status.
Konsumsi manusia sekarang bukan atas dorongan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Barang2 begitu menggoda, segala macam furniture, gadget, vitamin, krim dan kosmetik, dan aksesoris2. Mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala ada aksesorisnya. Laki2 maupun wanita bisa engga tidur malam memikirkan aksesoris, printil2 yg kadang mengganggu pikiran.
Kita hidup di zaman industrialisasi, di mana barang semakin murah, mudah diakses dan melimpah. Tapi semua itu dengan ongkos lingkungan yang sangaat besar. Memakan bahan bakar minyak untuk pabrik2, untuk distribusi pake kapal laut dan udara antar negara, ke kota2 dan desa2.
Bahan2 dasar logampun diambil dari tambang2, bumi dikeruk dan digali. Senyawa untuk obat2 dan kosmetik diambil dari tanaman2 dan hewan2. Pohon2 ditebang untuk jadi lahan kebun untuk minyak goreng kita, untuk ternak sapi2 yg dagind dan susunya kita konsumsi. Bicara global, maka kita bicara angka 'kematian masal' makhluk hidup dan perusakan besar2an lingkungan.
Jangan tanya soal polusi yg dihasilkan. Dahsyatnya polusi dari kendaraan di darat, laut, dan udara. Akibat semua sibuk memenuhi kebutuhan manusia. Planet bumi pula yg menanggungnya.
Ini terjadi karena ulah manusia. Ingin terus belanja dan terus belanja. Menstok dan mencoba makanan melebihi kebutuhan. Ganti2 kendaraan dan gadget tanpa lihat dampak lingkungan.
Ini keberhasilan para pengusaha dan teknik advertising yg luar biasa. Manusia dijanjikan impian2 indah agar membeli barang2 mereka.
Manusiapun belanja dan belanja, biar nyicil dan bekerja keras untuk bisa memenuhi hasrat yg ditanam agen pengiklan.
Roda kehidupanpun berputar. Kesibukan melanda dunia, semakin menyita sumber daya bumi, semakin kotor pula karena berbuah polusi.
Apakah semua demi ibadah dan memakmurkan bumi?
Engga juga. Sebagian besar adalah untuk memenuhi hasrat konsumsi yg makin hebat.
Mau bukti yg kongkrit kalo kita semua terlibat dalam perusakan planet bumi?
Coba beres2 rumah. Berapa banyak barang ga terpakai hasil hasrat membeli kita?
Di luar sana sungguh sepi, di mana2 sama. Bumi sedang istirahat. Sekarang manusia di seluruh penjuru dunia sedang di dalam rumah, mari sama2 bertafakur atas ulah2 kita.
Di saat wabah begini, Semoga Allah swt memberi kita taufik untuk bisa berpikir global, sadar bahwa kita terkait satu sama lain, bahkan dengan tumbuhan, hewan, udara, air, dan isi bumi. Mudah2an kita bisa berpikir bahwa tindakan2 kita berpengaruh kepada dunia, berpikir untuk hidup sederhana, hidup tanpa menyakiti ekosistem besar bumi kita.
Sementara ini, let the earth rest for a while

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More