Ayo menjadi GURU!

Karena saya yakin bahwa setiap orang harus menjalankan peran sebagai guru, mentor, dan trainer

Dua Kecenderungan Abadi

Pendidik membantu menguatkan kecenderungan manusia pada pilihan-pilihan baik, sehingga tidak ada waktu untuk melirik pada pilihan-pilihan buruk

Mengajar Bukan Sekedar Bunyi

Memulai kebaikan dari diri sendiri ternyata merupakan unsur vital bagi keberhasilan pendidikan

Menembus Cakrawala

Belajar dan mengajarkan ilmu mengasyikan tak kepalang, sampai-sampai langit serasa di genggaman

Kunci Sukses Itu

Ia adalah kunci bagi pintu-pintu kebahagiaan yang selama ini tertutup dan terabaikan

Rabu, 27 Februari 2013

Pengelolaan Kelas

Setelah kita melaksanakan tahapan persiapan dan siap dengan segala 'perangkat tempur' yang ada, maka jadikan kelas sebagai 'medan tempur' kita. Di kelaslah kita melepaskan amunisi yang sudah kita siapkan, mengeksekusi rencana, juga termasuk melakukan hal-hal lain yang muncul di luar dugaan namun penting untuk dilakukan saat itu juga. Harapan utamanya tentu kita bisa menguasai medan dan mengendalikan keadaan, yaitu terciptanya suasana optimal untuk belajar sejak dari awal sampai akhir kegiatan. Sebab itulah penting sebelumnya melakukan proyeksi di bagian perencanaan agar kita bisa mengestimasi sendiri kejadian apa saja yang mungkin muncul saat kita presentasi di kelas.

Pengelolaan kelas adalah perkara skill. Sangat mungkin kemampuan itu bersifat given, tapi pasti bisa dipelajari dan dibakati oleh mereka yang merasa kurang mampu. Semakin lama pengalaman seseorang mengajar, maka keterampilan mengelola kelas (seharusnya) akan lebih baik. Satu prinsip yang harus dipercayai adalah pengelolaan kelas ini memiliki peran sentral dalam pembelajaran yang disokong oleh common sense, konsistensi, kejujuran, kewajaran, dan keberanian. Persyaratan lainnya adalah pemahaman yang baik terhadap psikologi dan tahap perkembangan peserta didik. Keterampilan ini berkembang seiring seringnya praktik, feedback, dan mau belajar dari kesalahan. Mudah dikatakan tapi penuh tantangan/kesulitan sebenarnya saat di praktik.

Merancang Kondisi untuk Perilaku yang Diharapkan
Kita pasti punya harapan terhadap orang lain, sebagaimana orang lainpun menyimpan harapan tertentu kepada kita. Dalam perilakupun demikian, terkadang kondisi saling harap ini dibungkus dalam etika hingga tak perlu semuanya disampaikan secara lugas. Tapi dalam pengelolaan kelas, kita perlu sengaja mengidentifikasi harapan kita terhadap peserta didik dan kemudian mengkomunikasikannya secara periodik. Pernyataan eksplisit bahwa kelas yang kita kelola memerlukan peraturan atau prosedur menjadi kerangka yang menopang keteraturan selama proses pengajaran.
So, jangan sampai lupa untuk menyusun peraturan kelas. Seandainya kita mengetahui bahwa di kelas belum terbentuk aturan yang kita harapkan, maka inisiatif awal kita bisa menjadi kesepakatan permanen untuk kelas-kelas berikutnya.
Buatlah peraturan kelas dengan melibatkan peserta didik agar mereka merasa memiliki peraturan itu dan sadar bahwa peraturan tersebut dibuat untuk kebaikan mereka sendiri. Buat peraturan mulai dari ketentuan umum yang akan mudah disepakati bersama, tidak ditulis terlalu panjang, tidak terlalu rinci dan mendetil, dan bisa juga dipajang di dinding kelas.




Senin, 25 Februari 2013

Persiapan

Pengajaran yang baik yang disampaikan seorang pendidik berbuah pada pencerahan pada individu. Itulah 'goal antara' yang sebenarnya sangat dirindukan oleh seorang pendidik sebagai buah keringat yang diupayakannya. Meski dalam cerita kenabian pencerahan ada yang datang secara lambat dan melalui proses yang relatif panjang, tapi kita dapat merekayasa proses itu melalui perencanaan yang baik dan matang. Terlebih untuk pembelajaran di ruang kelas yang kerap dibatasi waktu. Oleh sebab itu saya batasi tulisan ini pada konteks pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan di kelas, seminar, atau public lecture secara umum.

Perencanaan yang baik adalah setengah dari kesuksesan, dan gagal melakukan perencanaan sama artinya dengan merencanakan kegagalan. Semangat serta keseriusan kita untuk mendesimenasi pencerahan sebenarnya dapat diukur dengan seberapa semangat yang sengaja kita tuangkan dalam bab persiapan ini.Tak heran makanya dalam buku-buku kependidikan dan public speaking, bab persiapan mendapat porsi pembahasan tersendiri. Karena pada dasarnya, sesingkat apapun pesan yang kita sampaikan di depan orang-orang, kesemuanya itu tak lebih sebagai sebuah 'acara' atau 'sajian' yang merepresantasikan kapasitas kita sebagai pendidik.



Unsur-unsur yang mesti dipersiapkan dalam perencanaan ini yaitu
1. Lingkungan belajar. Sederhananya atmosfer keseluruhan dari tempat kita mengajar terasa kondusif untuk belajar. Tidak sekedar nyaman/cozzy, nanti kalo terlalu nyaman bisa-bisa mudah ngantuk. Meski bersifat relatif, tapi kondisi belajar diusahakan mendorong terciptanya pembelajaran yang serius tanpa harus terlalu tegang.

2. Isi/content. Ini adalah nyawa dari kegiatan mengajar/presentasi kita. Selain menyediakan judul yang menarik sebagai pengundang perhatian, yakinkan juga bahwa kita telah membatasi ruang kajian. Menjaga keluasan uraian.Tidak memaparkan apa yang tidak perlu, tapi pandai menyertakan informasi yang memperkuat dan mendukung.


Senin, 18 Februari 2013

Berbicara Sesuai Tuntutan Keadaan

Seorang WI atau Trainer selayaknya memahami bahwa setiap perkataan ada tempatnya dan setiap tempat ada perkataanya. Kaidah tersebut tidak hanya berlaku dalam kehidupan di luar kelas, tapi juga menjadi spirit yang menyetir intuisi kita untuk menyampaikan pesan sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi. Memahami hal ini setaraf dengan mengenali pintu-pintu yang menjadi gerbang bagi penerimaan sehingga pesan yang kita sampaikan mendapat tempat di hati dan pikiran pendengar.

Beberapa keadaan yang dimaksud antara lain adalah :
- Berbicara di hadapan orang yang cerdas. Tuntutannya adalah kita berbicara dengan memberi uraian singkat.
- Berbicara di hadapan orang yang kurang cerdas. Tuntutannya adalah berbicara dengan jelas, perlahan, dan diulang-ulang.
- Berbicara di hadapan orang yang berkecenderungan tinggi untuk menolak/ingkar. Tuntutannya adalah menambah muatan 'penguat' di balik pembicaraan kita dengan dalil ilmiah, logika yang kuat, fakta sejarah, statistik, dan lain sebagainya.
- Berbicara dengan orang yang umur, pengalaman, dan pengetahuannya di bawah kita. Tuntutannya kita berbicara dengan simpel, mudah dipahami, dengan sikap bijaksana.
- Berbicara di depan masa yang homogen dengan limit waktu yang singkat, menuntut kita untuk selektif dengan kata yang sederhana tapi tepat dan memberi penekanan-penekanan substansi yang mudah membekas di benak.
-Berbicara di depan orang tua, atau lebih dari sisi kedudukan, pengalaman, pengetahuan, dan ilmu  menuntut pembicaraan santun, penuh hormat, dan tidak menggurui.



Setiap peluang berada di depan kelas adalah saat berharga yang tidak akan berulang dua kali. "Every seconds count", tidak hanya waktu Anda yang berharga, tapi waktu mereka yang bersedia mendengarkan 'celoteh' Andapun memiliki harga yang tidak bisa dinilai dengan materi. Penghargaan terhadap momentum itu selayaknya menjadi pelecut inisiatif untuk mendifinisikan secara jelas cara yang kita pilih sehingga pembicaraan kita bisa secara optimal diterima oleh akal sekaligus hati pendengar.



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More