Ayo menjadi GURU!

Karena saya yakin bahwa setiap orang harus menjalankan peran sebagai guru, mentor, dan trainer

Dua Kecenderungan Abadi

Pendidik membantu menguatkan kecenderungan manusia pada pilihan-pilihan baik, sehingga tidak ada waktu untuk melirik pada pilihan-pilihan buruk

Mengajar Bukan Sekedar Bunyi

Memulai kebaikan dari diri sendiri ternyata merupakan unsur vital bagi keberhasilan pendidikan

Menembus Cakrawala

Belajar dan mengajarkan ilmu mengasyikan tak kepalang, sampai-sampai langit serasa di genggaman

Kunci Sukses Itu

Ia adalah kunci bagi pintu-pintu kebahagiaan yang selama ini tertutup dan terabaikan

Minggu, 29 Maret 2020

Like di Medsos yang Membunuh Produktivitas

Pernahkah Anda melihat status seseorang di facebook yang mengancam akan meng unfriend siapapun yang ga pernah like statusnya? Hehehe

Fitur like di facebook dan medsos lain memang membawa situasi yang berbeda pada era digital ini. Ga cuma fitur like, ada fitur love, ketawa, sedih, dan marah juga. Tampak kecil dan ga ada artinya, tapi fitur tersebut dibuat bukan buat iseng-isengan.

Dulu ketika launching pertama kali the facebook.com sama sekali tidak fitur like. Facebook dibuat om Mark bener-bener murni untuk mengajak orang saling terhubung, mencari dan menemukan teman lama, bersilaturahim tujuan besarnya...mulia sekali bukan.

Tapi pada tahun 2009 dimunculkanlah fitur like. Tujuannya untuk mempermudah pengguna facebook agar ga usah nulis-nulis di status: waw keren, bagus ya, cantiknyaa, subhanallah luar biasa...ga perlu lagi nulis apa kalo mau...ckukup tekan satu tombol yg berarti ribuan makna dirangkum jadi satu...Like...

Tapi kemudian like ini punya arti besar buat facebook. Tombol like ternyata bernilai besar buat perusahaan yang kemudian jadi sumur duit dan harta karun besar buat facebook. Di awal berdirinya facebook adalah cuma buat mahasiswa, kemudian di tahun ini nilainya sebesar 450 milyar dollar. Perusahaan digital ini malah lebih menggoda daripada perusahaan penyedot minyak seperti Exxon mobile yang malang melintang puluhan tahun usia dan pengalaman bisnisnya.

Selama ini kita meyakini bahwa teknologi itu bersifat netral. Tapi keyakinan ini mesti kita ubah, sebab pada kenyataannya teknologi digital tidaklah demikian adanya. Teknologi ini telah direkayasa oleh perusahaan untuk memanipulasi psikologi manusia dan memanfaatkan kelemahannya untuk keuntungan perusahaan.

Mereka memanfaatkan para pakar untuk mendesain media sosial bukan lagi untuk sekedar mencari tahu kabar kelahiran saudara atau teman kita. Tapi mereka menjadikan media sosial sebagai magnet yang terus menarik perhatian manusia di seluruh dunia untuk terus menempelkan mata mereka ke layar gadgetnya. Hal ini dibongkar oleh mantan pegawai Silicon Valey Tristan Harris. Profesor Adam Alter, pakar bisnis sekaligus psikologi sosial meneliti tentang sifat adiktif yang didorong oleh teknologi baru.

Kita melihat berbagai kalangan begitu lengket dengan medsos, mulai dari rakyat jelata sampai hoyang kayah, mulai dari orang ga sekolah sampe profesor. Fakta ini terjadi di seluruh dunia, ga cuma di negara berkembang, di negara2 majupun fenomenanya sama saja.

Medsos atau situs2 yang bersifat nagih seperti ini adalah tambang emas dan berlian di abad 21. Prinsipnya sama dengan jualan koran majalah abad 20 dulu. Majalah dan koran menjadikan pembacanya sebagai objek pasar yang dijual ke perusahaan pengiklan. Majalah dan koran mengumpulkan manusia, dan kumpulan manusia ini adalah aset yang menarik buat pengiklan.

Di era ini, situs2 yang banyak dikunjungi (google, facebook, youtube, instagram, blog2, kaskus, dll) punya peran sama yaitu mengumpulkan pembaca. Semakin banyak yg dateng sebagai pembaca atau subscriber, semakin luas tambang uangnya. Makanya di youtube pun orang berebut subscriber. Artis2, atlit2, youtuber punya angka subsrciber fantastis, penghasilan mereka milyaran perbulan atau pertahunnya, makin naik karena popularitas, karena angka pengunjungnya.

Tapi saya ga perdalam itu di tulisan ini. Hal yang ingin saya tekankan adalah kita sebagai pengguna medsos setiap hari mesti tahu akan rahasia besar ini. Bahwa medsos tidaklah netral. Tapi ia adalah perusahaan yang berorientasi duit yang memanfaatkan kelemahan pada psikologi manusia.

Cal Newport dalam bukunya Digital Minimalisme menjelaskan bagaimana perusahaan digital mendorong manusia untuk memiliki perilaku seperti orang yang kecanduan. Sebabnya ada 2 hal: Intermittent positive reinforcement dan the drive for social approval.

1. Intermittent positive reinforcement kalo diterjemahkan bebas, maksudnya adalah penguatan yang bersifat positif, munculnya berselang seling atau sebentar2. Dasarnya adalah penelitian behavioral Zeiler pada burung merpati. Si burung yang menerima reward dengan pola yang acak ternyata lebih menarik daripada reward yg diberikan secara berpola.

Contoh sederhana dari Intermittent positive reinforcement itu begini: Kalo seseorang posting sesuatu di medsos, dia mengharapkan timbal balik dari teman2nya. dia akan mengecek apakah mendapat like atau tidak. Atau ada yg ngasih love, sad, atau retweet. Semua itu adalah reward buat di pemosting.

Ada beberapa kemungkinan, bisa jadi di dapat like atau sama sekali tidak. Kalo dapat like, bisa jadi sedikit atau bisa jadi banyak, kemungkinannya bisa ga terbatas. Kondisi feedbback serba tidak pasti seperti inilah yang bikin kecanduan :) mirip seperti judi. Ketidakpastian bikin ketagihan. Itulah yang membuat pengguna medsos secara rutin mengecek aplikasi mereka dari waktu ke waktu. Inilah Intermittent positive reinforcement.

Perusahaan teknologi tahu akan Intermittent positive reinforcement  ini, mereka menyengaja menempelkan fitur2 yang semakin menguatkan Intermittent positive reinforcement. Lihatlah bagaimana muncul fitur story, fitur status pada WA, dan sebagainya. Semuanya bagus buat bisnis mereka.

2. The drive for social approval. Kita kan makhluk sosial. Kita sangat memperhatikan apa yang dikatakan orang lain kepada kita. Sejak kecil misalnya, seorang anak akan mencari tahu apakah orang tua dan temannya akan setuju pada ucapan yg dia katakan atau tidak melalui pengamatan muka atau perilaku. Di era digital ini, pemberian like dan komen atau share dan retweet merupakan salah satu bentuk approval (persetujuan) juga. Approval itu adalah sesuatu yang kita kejar dalam kehidupan sosial kita (baik offline maupun online). Perusahaan teknologi tentu sudah tahu soal kecenderungan manusia yang satu ini.

Sosial media sudah disesuaikan oleh mereka untuk memberikan informasi kepada anda tentang bagaimana pendapat dan pikiran orang lain terhadap anda. Bisa juga bermain sebaliknya, yaitu untuk menunjukkan bagaimana anda sedang memikirkan orang lain saat membuat postingan. Lihat saja fitur autotagging. Ketika masang foto, kita bisa men-tag orang yang ada di foto dengan mudah. Semua aktivias ini mengarahkan kita untuk merasakan kepuasan bermedsos dan terus mengulang atau mengecek medsos dalam jangka waktu yang lama.

Sekali lagi...ini dsengaja, didesain oleh perusahaan teknologi karena beginilah cara mereka mencetak uang.

"Tapi kan kita mendapatkan manfaat yang besar dengan menggunakan medsos. Bisa update berita Corona, bisa tahu makar jahat sekelompok orang, bisa tahu kondisi umat, bisa cari jodoh, dan laen-laen...."

Ya memang benar ada manfaatnya. Banyak sekali malah.

Tapi apa yakin manfaat medsos tidak menghalangi anda buat mendapat menfaat yang lebih besar kalo waktu yang disita untuk medsos digunakan untuk aktivitas lain? Apa anda tahu kalo medsos ternyata menimbulkan bahaya buat pribadi, perusahaan, atau kita sebagai umat? Di negeri kampiun teknologi digital di amerika sana sudah ada kesadaran akan bahaya medsos/situs2 nagih seperti ini, maka semestinya kita waspada pula... Kapan2 kita bahas jika ada kesempatan dan usia.


Senin, 16 Maret 2020

CUE - Sang stimulus


Seperti pernah ditulis, kebiasaan (habit) dibangun melalui 4 tahapan. Cue, Craving, Response, dan Reward.
Setiap kebiasaan pasti diawali Cue. Ini adalah penanda. Penanda ini yang memicu kita buat berperilaku atau berpikir sesuatu. Misalnya: Kebiasaan nonton tv, Cue-nya mungkin remote tv. Ketika lihat remote tv misalnya, anda tergerak untuk meraihnya lalu menyalakan tv yang sedang mati.

Cue itu bisa berbeda-beda untuk setiap orang (untuk kebiasaan yang sama). Untuk si A, Cue untuk menonton tv adalah sofa. Artinya setiap kali si A duduk di sofa, ia akan terdorong untuk menyalakan tv. Tapi untuk orang lain Cue menonton tv adalah keberadaan remote tadi.

Kita kan sedang membicarakan perubahan kebiasaan. Ada kebiasaan yang ingin dihilangkan, ada juga yang ingin di hidupkan. Nah, awali dengan mengidentifikasi Cue kebiasaan anda.
Kebiasaan negatif ingin dihilangkan kan...maka cobalah untuk menghilangkan keberadaan Cue ini. Jika tidak hilang, minimal samarkan.

Misalnya dengan menyimpan sofa tempat beristirahat di tempat yang berbeda dengan lokasi tv. Atau simpanlah remote tv di tempat yang sulit untuk dilihat dan dijangkau.

Kalo ingin mengurangi kebiasaan ngemil, maka jangan menyimpan cemilan di tempat yang mudah dilihat dan mudah dijangkau. Kalo tidak,, ya Cue itu akan 'melambai-lambai', bikin anda Craving, gatel tangan buat nyomot (meskipun tidak dalam kondisi lapar).
Kalo ingin mengurangi kebiasaan merokok, jangan ada stimulus rokok (bungkusnya) atau teman2 perokok sebisa mungkin dihindari :D. Makanya memilih dan merekayasa tempat kita hidup adalah salah satu elemen penting dalam mengubah kebiasaan.

Lalu mengenai kebiasaan baik, anda ingin menghidupkannya bukan?
maka kalo mau punya kebiasaan bagus membaca buku, simpanlah buku di tempat yang mudah dilihat dan diraih. Jika remote tv biasanya terletak di sofa, maka ganti remote tersebut dengan buku (yang judulnya menarik perhatian anda), maka anda sudah melakukan 1 langkah maju untuk mengubah kebiasaan nonton tv menjadi kebiasaan membaca.

Oh ya, jangan simpan buku dan remote di wadah yang sama. Karena remote pasti 'menang'. Dan ini wajar. Karena manusia punya dorongan untuk mempertahankan kebiasaan. Jadi kalo mau berubah, harus berani tegas. Ada yang harus dihilangkan (untuk kebiasaan buruk) dan ada yang mesti dihadirkan (untuk kebiasaan baik).

Kalo di lemari makanan anda biasanya banyak jenis makanan gurih, berlemak, berminyak, berkalori tinggi, maka ganti menunya dengan buah-buahan. Craving anda buat ngemil tetep terpenuhi, dapat Reward 'puas' /kenyang pula, tapi kini dampaknya adalah tubuh makin sehat :D

Jadi langkah pertama (saran saya), mulai dengan menghilangkan Cue kebiasaan buruk, dan hadirkan Cue untuk memulai kebiasaan baik.

Silakan mau mulai dengan kebiasaan yang mana...

Habit di Era Corona

Ketika saya menulis ini beberapa kepala daerah (Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Mang Oded) sudah mengumumkan surat edaran yang isinya perihal ajakan kewaspadaan kepada penduduk atas penyebaran virus Corona. Warga diarahkan untuk beraktivitas di dalam rumah dalam rangka mencegah penyebaran dan memutus mata rantai inveksi virus Corona. Sekolah-sekolah diliburkan selama 2 minggu, fasilitas-fasilitas umum ditutup, ada himbauan untuk menghentikan segala macam pertemuan, perkumpulan, yang intinya mencegah kontak antar sesama.

Pengajian banyak dihentikan, santri-santri dipulangkan dari pesantrennya. Orang-orang diminta untuk tidak berwisata, tidak pulang kampung, membawa sejadah sendiri ke mesjid, tidak bersalaman dengan siapapun, sampai rutinitas mencuci tangan dengan hand sanitizer ditingkatkan.

Doa saya semoga Allah swt memberi kedisiplinan kepada warga negara ini agar upaya isolasi diri setiap warga bisa berdampak efektif dalam mencegah penularan virus corona. Semoga musibah ini diangkat dari negeri kita dan dunia secara umum.

Wabah virus Corona saat ini mendorong umat manusia untuk mengubah kebiasaan/habit. Beberapa perubahan kebiasaan yang baru muncul didorong oleh fenomena penyebaran virus ini antara lain:
- Tidak terbiasa mencuci tangan tiba-tiba harus rajin mencuci tangan memakai sabun atau hand sanitizer.
- Terbiasa pelukan sekarang harus menjaga batas dan sentuhan, bahkan adu tinju (fist bump) pun tidak disarankan Cukup bersalaman ala sunda saja, sikap salaman dari jarak jauh untuk penanda salam.
- Tidak terbiasa menggunakan masker bagi yg sakit kini harus berdisplin memakai masker agar mencegah penyebaran cairan dari batuk atau bersinnya.

Mengingatkan kembali, unsur pembentuk habit ada 4. Yaitu Cue, Craving, Routine , dan Reward.
Kita ambil contoh kebiasaan memakai hand sanitizer. Jika kebiasaan ini akan kita rutinkan, maka perhatikan langkah-langkah mengubah 4 unsur habit di atas:
Cue: upayakan agar terlihat jelas. Wadah hand sanitizer mesti disimpan di lokasi yang mudah diliat.
Craving: buat peringatan melalui audio atauvisual agar keinginan untuk memakai had sanitizer semakin menguat.
Routine:Pastikan isi hand sanitizer ada :D hehehe
Reward: beri wangi-wangian pada hand sanitizer yang membuat anda merasa puas dengan aktivitas mencuci tangan tersebut.

trik-trik di atas dapat diganti oleh anda dengan menyesuaikan dengan kreativitas yang anda miliki. Intinya membuat kebiasaan baru itu bisa dilakukan oleh siapapun dengan mensiasati 4 hal tersebut. Termasuk menghentikan kebiasaan lama. Latihan mengubah kebiasaan sebenarnya adalah bagian dari kebiasaan itu sendiri. Sebab tidak ada yang statis dalam kehidupan ini. semua mengalami perubahan. Perubahan adalah sunnatullah. Jika alam ini secara tabiat memang selaluberubah, bagaimana mungkin manusia sebagai penghuninya tidak ikut berubah. yang penting bagi kita adalah kita ikut berubah ke arah yang memberi benefit/keuntungan kepada kita. Baik jangka panjang maupun jangka pendek.




Senin, 09 Maret 2020

Review Teach Like Finland

Finlandia adalah salah satu negara kecil Nordic di ujung Eropa Utara yang terkenal karena skor PISA Test-nya yang mentereng bertengger di nomor 1. Pasti udah banyak pendidik atau pejabat kita yg ke sana buat studi banding. Anda juga mungkin sudah banyak baca tentang keunikan negara ini dalam hal pendidikan terutam.

Di sini saya mau menuliskan saja ringkasan tentang buku Teach Like Findland yang ditulis oleh Timothy D Walker. Dia ini seorang guru dari Massachusetts, Amerika Serikat yang mendapat pengalaman fantastis mengajar 2 tahun di Finlandia.

Dari uraian di bukunya kita bisa menyelami pengalaman dan perbandingan yg dibuat oleh seorang praktisi pendidik langsung tentang perbedaan pendidikan di Finlandia dan Amerika Serikat. di sini saya uraikan singkat2 saja, biar anda tertarik membaca bukunya langsung :) uraian ini juga lompat-lompat saja, ga berurutan seperti di bukunya. Isinyapun mungkin ada yg saya skip agar kita bisa fokus pada unsur yang uniknya saja.

1. Cara orang hidup dan atmosfer sekolahnya sangat memperhatikan 'well being'/Kesejahteraan. Gimana menterjemahkannya ya. Secara prinsip kehidupan di sana tidak tergesa-gesa seperti hidup di kota besar Amerika yg untuk memperhatikan kebutuhan batin saja sulit. Di Finlandia seakan waktu berjalan tenang, tidak ada yg narik napas ngos-ngosan karena sibuk ngejar target.
Si penulis menekankan agar pendidikan di amerika tidak perlu mengejar target untuk sukses dalam pendidikan dengan mengesampingkan kesejahteraan batin.

2. Ada jeda 15 menit setiap selesai 1 jam mengajar. Siswa maen dan guru ngopi bareng rekan sejawat. Guru yg memakai waktu break ini di kelas malah ditegur dan diwanti-wanti agar istirahat agar tidak jenuh. Kalo jenuh bisa menurunkan kualitas pembelajaran kan?
Jika dilewat momen 15 menit break ini siswa jadi  kurang fokus, cepat lelah, tidak belajar optimal.

3. Banyak aktivitas fisik yang menuntut motorik siswa diaktifkan.

4. Belajar sehari cuma 6 jam. Tapi rasanya sama efektifnya dengan belajar lebih lama di amerika. Ajaib.

5. Guru dan siswa suka buka jendela atau beraktivitas di luar untuk menikmati udara segar. Bahkan masyarakat umum senang beraktivitas di luar meski musim dingin.

6. Anak-anak finlandia sangat menikmati bermain di luar. Di taman-taman, danau, hutan, lapang, dan sebagainya.

7. Sistem sekolah mendorong kelas untuk keep the peace (memelihara suasana tenang, tidak berisik). Mereka menerapkan mindfulness-based practiced.

8. Guru dimotivasi untuk membangun belonging pada siswa. Agar siswa dibuat merasa memiliki pembelajarannya sendiri. Caranya adalah dengan mengenal setiap siswa, sering main dan makan siang dengan mereka, merayakan hasil belajar mereka (presentasi buku yg dibaca, makan bareng masakan yg mereka buat,dll), mengejar impian kelas (Seperti kemping bareng), berusaha mengeliminir bullying, memasangkan kelas senior dengan junior dalam momen tertentu.

9. Autonomy. Siswa diberi kesempatan untuk menentukan beberapa aspek dalam pembelajaran sehingga rasa memilikinya tinggi terhadap aktivitas belajar. Mereka diberi kebebasan tertentu. Kadang ada 1 komepetensi yg bebas dicapai oleh siswa dgn caranya sendiri, tanpa ada kelas tatap muka. Hanya tugas dan proyek selama 1 minggu.

10. Siswa sangat mandiri sejak kecil dan dalam kelaspun mereka terbiasa diberi tanggung jawab. Misalnya dalam hal pengelolaan catatan. mereka punya notebook sendiri yg dikelola sendiri sehingga memudahkan cara belajarnya masing-masing.

11. komputer sekolah sangat jadul. Sekolah tidak terlalu peduli terhadap updating teknologi komputer. Teknologi benar-benar jadi suportif saja. Interaksi guru siswa yg diutamakan dalam belajar dan hasilnya mereka memang jago dalam PISA.

12. Elemen luar sekolah ikut berperan mendidik anak. Sehingga selepas sekolah anak-anak setidaknya minimal aktif di 1 kegiatan positif di luar sekolahnya. Baik di bidang olah raga, seni, budaya dll. Ini juga bagian dari kurikulum sekolah sebenarnya. Jadi kurikulum di Finlandia begitu luar biasa memperhatikan beragam aspek kepribadian dan bakat anak-anak. Ada 100 ribu asosiasi non pemerintah yang ikut terlibat 'mendidik' generasi muda di luar sekolah dan memfasilitasi kegiatan sosial di luar sekolah. Sepertinya begitulah keseriusan pemerintah dan masyarakat bersatu padu membentuk generasi unggul. Kerja sama mereka kompak mendidik anak baik di dalam maupun di luar sekolah.

13. Pemerintah dan sekolah sangat memperhatikan kebutuhan dasar anak-anak. Mereka meyakinkan bahwa anak-anak bisa belajar dengan baik dengan memperhatikan asupan gizi, kesehatan sejak dari rumah, mengetahui kondisi rumah tangga, dan seterusnya. Pemerintah punya mekanisme khusus agar kebutuhan kesehatan dan pengasuhan anak-anak terjamin sejak dari rumah. Ga mikirin masalah ga punya seragam, uang jajan, kurang tidur, peretengkaran rumah tangga, kekurangan asupan gizi, dsb. Pokoknya ketika di sekolah anak-anak itu wajib sehat, sejahtera, gembira. Jadi wajar saja di sana tidak ada sekolah favorit atau sekolah non favorit. Semua sekolah dikategorikan sekolah bagus.

Demikian ulasan singkat dari pengalaman berharga Timothy D Walker. Terlalu berharga pengalaman kongkrit seorang guru seperti beliau untuk dilewatkan. Baca lengkap bukunya jika Anda tertarik dengan wawasan lengkapnya.

Kita melihat kecerdasan anak Finlandia dari skot PISA saja (dalam hal ini tertuju pada kekuatan sains, matematika, membaca). Padahal seperti penuturan Sir Kevin Robinsin, pendidikan di Finlandia tidak memfokuskan pada 3 aspek tersebut. Pendidikan di Finlandia memperhatikan semua unsur manusia dan ingin menjadikan pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia.



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More