Minggu, 29 Maret 2020

Like di Medsos yang Membunuh Produktivitas

Pernahkah Anda melihat status seseorang di facebook yang mengancam akan meng unfriend siapapun yang ga pernah like statusnya? Hehehe

Fitur like di facebook dan medsos lain memang membawa situasi yang berbeda pada era digital ini. Ga cuma fitur like, ada fitur love, ketawa, sedih, dan marah juga. Tampak kecil dan ga ada artinya, tapi fitur tersebut dibuat bukan buat iseng-isengan.

Dulu ketika launching pertama kali the facebook.com sama sekali tidak fitur like. Facebook dibuat om Mark bener-bener murni untuk mengajak orang saling terhubung, mencari dan menemukan teman lama, bersilaturahim tujuan besarnya...mulia sekali bukan.

Tapi pada tahun 2009 dimunculkanlah fitur like. Tujuannya untuk mempermudah pengguna facebook agar ga usah nulis-nulis di status: waw keren, bagus ya, cantiknyaa, subhanallah luar biasa...ga perlu lagi nulis apa kalo mau...ckukup tekan satu tombol yg berarti ribuan makna dirangkum jadi satu...Like...

Tapi kemudian like ini punya arti besar buat facebook. Tombol like ternyata bernilai besar buat perusahaan yang kemudian jadi sumur duit dan harta karun besar buat facebook. Di awal berdirinya facebook adalah cuma buat mahasiswa, kemudian di tahun ini nilainya sebesar 450 milyar dollar. Perusahaan digital ini malah lebih menggoda daripada perusahaan penyedot minyak seperti Exxon mobile yang malang melintang puluhan tahun usia dan pengalaman bisnisnya.

Selama ini kita meyakini bahwa teknologi itu bersifat netral. Tapi keyakinan ini mesti kita ubah, sebab pada kenyataannya teknologi digital tidaklah demikian adanya. Teknologi ini telah direkayasa oleh perusahaan untuk memanipulasi psikologi manusia dan memanfaatkan kelemahannya untuk keuntungan perusahaan.

Mereka memanfaatkan para pakar untuk mendesain media sosial bukan lagi untuk sekedar mencari tahu kabar kelahiran saudara atau teman kita. Tapi mereka menjadikan media sosial sebagai magnet yang terus menarik perhatian manusia di seluruh dunia untuk terus menempelkan mata mereka ke layar gadgetnya. Hal ini dibongkar oleh mantan pegawai Silicon Valey Tristan Harris. Profesor Adam Alter, pakar bisnis sekaligus psikologi sosial meneliti tentang sifat adiktif yang didorong oleh teknologi baru.

Kita melihat berbagai kalangan begitu lengket dengan medsos, mulai dari rakyat jelata sampai hoyang kayah, mulai dari orang ga sekolah sampe profesor. Fakta ini terjadi di seluruh dunia, ga cuma di negara berkembang, di negara2 majupun fenomenanya sama saja.

Medsos atau situs2 yang bersifat nagih seperti ini adalah tambang emas dan berlian di abad 21. Prinsipnya sama dengan jualan koran majalah abad 20 dulu. Majalah dan koran menjadikan pembacanya sebagai objek pasar yang dijual ke perusahaan pengiklan. Majalah dan koran mengumpulkan manusia, dan kumpulan manusia ini adalah aset yang menarik buat pengiklan.

Di era ini, situs2 yang banyak dikunjungi (google, facebook, youtube, instagram, blog2, kaskus, dll) punya peran sama yaitu mengumpulkan pembaca. Semakin banyak yg dateng sebagai pembaca atau subscriber, semakin luas tambang uangnya. Makanya di youtube pun orang berebut subscriber. Artis2, atlit2, youtuber punya angka subsrciber fantastis, penghasilan mereka milyaran perbulan atau pertahunnya, makin naik karena popularitas, karena angka pengunjungnya.

Tapi saya ga perdalam itu di tulisan ini. Hal yang ingin saya tekankan adalah kita sebagai pengguna medsos setiap hari mesti tahu akan rahasia besar ini. Bahwa medsos tidaklah netral. Tapi ia adalah perusahaan yang berorientasi duit yang memanfaatkan kelemahan pada psikologi manusia.

Cal Newport dalam bukunya Digital Minimalisme menjelaskan bagaimana perusahaan digital mendorong manusia untuk memiliki perilaku seperti orang yang kecanduan. Sebabnya ada 2 hal: Intermittent positive reinforcement dan the drive for social approval.

1. Intermittent positive reinforcement kalo diterjemahkan bebas, maksudnya adalah penguatan yang bersifat positif, munculnya berselang seling atau sebentar2. Dasarnya adalah penelitian behavioral Zeiler pada burung merpati. Si burung yang menerima reward dengan pola yang acak ternyata lebih menarik daripada reward yg diberikan secara berpola.

Contoh sederhana dari Intermittent positive reinforcement itu begini: Kalo seseorang posting sesuatu di medsos, dia mengharapkan timbal balik dari teman2nya. dia akan mengecek apakah mendapat like atau tidak. Atau ada yg ngasih love, sad, atau retweet. Semua itu adalah reward buat di pemosting.

Ada beberapa kemungkinan, bisa jadi di dapat like atau sama sekali tidak. Kalo dapat like, bisa jadi sedikit atau bisa jadi banyak, kemungkinannya bisa ga terbatas. Kondisi feedbback serba tidak pasti seperti inilah yang bikin kecanduan :) mirip seperti judi. Ketidakpastian bikin ketagihan. Itulah yang membuat pengguna medsos secara rutin mengecek aplikasi mereka dari waktu ke waktu. Inilah Intermittent positive reinforcement.

Perusahaan teknologi tahu akan Intermittent positive reinforcement  ini, mereka menyengaja menempelkan fitur2 yang semakin menguatkan Intermittent positive reinforcement. Lihatlah bagaimana muncul fitur story, fitur status pada WA, dan sebagainya. Semuanya bagus buat bisnis mereka.

2. The drive for social approval. Kita kan makhluk sosial. Kita sangat memperhatikan apa yang dikatakan orang lain kepada kita. Sejak kecil misalnya, seorang anak akan mencari tahu apakah orang tua dan temannya akan setuju pada ucapan yg dia katakan atau tidak melalui pengamatan muka atau perilaku. Di era digital ini, pemberian like dan komen atau share dan retweet merupakan salah satu bentuk approval (persetujuan) juga. Approval itu adalah sesuatu yang kita kejar dalam kehidupan sosial kita (baik offline maupun online). Perusahaan teknologi tentu sudah tahu soal kecenderungan manusia yang satu ini.

Sosial media sudah disesuaikan oleh mereka untuk memberikan informasi kepada anda tentang bagaimana pendapat dan pikiran orang lain terhadap anda. Bisa juga bermain sebaliknya, yaitu untuk menunjukkan bagaimana anda sedang memikirkan orang lain saat membuat postingan. Lihat saja fitur autotagging. Ketika masang foto, kita bisa men-tag orang yang ada di foto dengan mudah. Semua aktivias ini mengarahkan kita untuk merasakan kepuasan bermedsos dan terus mengulang atau mengecek medsos dalam jangka waktu yang lama.

Sekali lagi...ini dsengaja, didesain oleh perusahaan teknologi karena beginilah cara mereka mencetak uang.

"Tapi kan kita mendapatkan manfaat yang besar dengan menggunakan medsos. Bisa update berita Corona, bisa tahu makar jahat sekelompok orang, bisa tahu kondisi umat, bisa cari jodoh, dan laen-laen...."

Ya memang benar ada manfaatnya. Banyak sekali malah.

Tapi apa yakin manfaat medsos tidak menghalangi anda buat mendapat menfaat yang lebih besar kalo waktu yang disita untuk medsos digunakan untuk aktivitas lain? Apa anda tahu kalo medsos ternyata menimbulkan bahaya buat pribadi, perusahaan, atau kita sebagai umat? Di negeri kampiun teknologi digital di amerika sana sudah ada kesadaran akan bahaya medsos/situs2 nagih seperti ini, maka semestinya kita waspada pula... Kapan2 kita bahas jika ada kesempatan dan usia.


0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More