Ayo menjadi GURU!

Karena saya yakin bahwa setiap orang harus menjalankan peran sebagai guru, mentor, dan trainer

Dua Kecenderungan Abadi

Pendidik membantu menguatkan kecenderungan manusia pada pilihan-pilihan baik, sehingga tidak ada waktu untuk melirik pada pilihan-pilihan buruk

Mengajar Bukan Sekedar Bunyi

Memulai kebaikan dari diri sendiri ternyata merupakan unsur vital bagi keberhasilan pendidikan

Menembus Cakrawala

Belajar dan mengajarkan ilmu mengasyikan tak kepalang, sampai-sampai langit serasa di genggaman

Kunci Sukses Itu

Ia adalah kunci bagi pintu-pintu kebahagiaan yang selama ini tertutup dan terabaikan

Kamis, 12 September 2019

Gurunya Helen Keller

Tulisan terakhir tentang Helen Keller yang menyajikan kepada kita cerita ajaib tentang kesungguhan seorang anak buta tuli yang bisa menjadi guru dunia. Tapi di balik cerita itu ada perjuangan serius seorang guru.

Seorang guru yang berhasil mengajak anak yang buta tuli ke pintu gerbang dunia, yang penuh dengan nama-nama benda dan warna. Sebuah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua Helen Keller sendiri. Guru Helen tersebut bernama Anne Sullivan. Anne muncul di kehidupan Helen Keller pada musim semi tahun 1887. Sejak itu sampai di sebagian besar kehidupan Helen, Anne selalu membimbingnya.

Sejarah yang tidak diketahui orang banyak adalah Anne sendiri mengalami banyak penderitaan sejak kecilnya. Ini yang bikin hati saya sendiri sedih, kembali karena inget anak sendiri. Anne kehilangan sebagian pengelihatannya di usia 5 tahun, lalu bayangkan saja seorang anak gadis harus hidup dengan adik laki-lakinya berdua, karena ibunya wafat saat Anne berusia 8 tahun dan ayahnya yang pemabuk meninggalkan mereka. Saudara mereka juga menolak untuk mengasuh sampai akhirnya mereka berdua harus tinggal di rumah penampungan, yang di zaman itu identik dengan tempat orang-orang pembuangan.

Hidup di penampungan derita demi derita mesti dirasakan 2 anak kecil tanpa ayah ibu tersebut. Karena rumah penampungan berisi juga orang berpenyakit, adik laki2 Anne tertular TBC, perjuangannya tidak bisa lama hingga akhirnya ia wafat meninggalkan Anne sendiri.

Di tengah penderitaan yang bertubi-tubi, satu hal yang membuat Anne istimewa adalah semangatnya. Dengan modal ini Anne memberanikan diri menyergap dan memegang erat tangan inspektur pemerintah yang berkunjung ke penampungan. Dia memohon untuk bisa disekolahkan olehnya. Watak nekad itu membuahkan hasil, Anne sekolah di sekolah tuna netra, Perkins Institution.

Di sana Anne mendapat bully dari teman2nya, karena Anne tidak pandai membaca, ditambah lagi sifat Anne yang emosional dan suka memberontak (mungkin ini disebabkan kurangnya kasih sayang dan perhatian di usia kecilnya). Selain kawan-kawan yang suka mengejek, sebagian guru Anne juga tidak bisa bersabar dengan sifat Anne. Tapi...ada beberapa guru yang melihat potensi Anne dan mau mengembangkan potensi terpendam Anne.

Di sini kita lihat, dalam rentang kehidupan berat seseorang...selalu ada guru yang tidak pernah berputus asa dan bersedia terus memupuk kematangan anak didiknya.

Setelah lulus sekolah, Anne menerima tawaran menjadi pengasuh anak yang bernama Helen Keller. Ketika itu Helen berusia 7 tahun, artinya sudah 5 tahun dia menderita kebutaan dan ketulian. Sebuah ujian berat bagi guru belia yang baru lulus sekolah seperti Anne.

Helen seperti biasa, bersikap bengis dan keras kepala kepada siapapun. Akan tetapi ada sesuatu pada diri Anne yang dalam waktu singkat bisa menenangkan Helen. Simak apa yang tidulis Anne di jurnalnya, 2 minggu setelah bertemu Helen:

"Makhluk liar yang saya kenal 2 minggu lalu telah berubah menjadi anak lembut. Ia duduk di samping saya saat saya sedang menulis jurnal ini. Wajahnya tenang dan bahagia.
Kini menjadi tugas menyenangkan bagi saya untuk mengarahkan dan membentuk kecerdasannya yang indah yang mulai menggugah jiwanya."


Senin, 09 September 2019

Hellen Keller yang Menggugah

Saya ingin menulis tentang Helen Keller.
Tapi ko saya merasa engga percaya diri.
Bukan apa-apa...saya merasa ga percaya diri karena khawatirnya ga bisa menuliskan dengan tepat muatan kesedihan dan keluhuran cerita dalam perjalanan hidup Hellen Keller.

Tapi walaupun demikian, saya akan memaksakan diri untuk menuliskannya sebatas yang saya mampu untuk mengambil beberapa pesan pelajaran yang bisa kita ambil.

Helen adalah seorang anak yang lahir 27 Juni 1880 di Alabama, Amerika Serikat. Dia terlahir sempurna dan lucu, karunia terindah buat orang tuanya. Hanya saja di usia 19 bulan penyakit panas hebat menyerangnya, panas yang membuatnya menderita. Tapi Hellen terus berjuang dan akhirnya bisa selamat dari kematian. Namun sayang, penyakit panas tersebut mengambil pendengaran dan pengelihatannya.

Saya selalu sedih di bagian ini, teringat andaikata kejadian serupa terjadi pada anak sendiri. Seorang anak harus merasakan kehidupan yang penuh kesulitan. Pernahkah Anda sendiri membayangkan hidup dalam suasana gelap terus menerus? Lalu pernahkah Anda membayangkan hidup dalam suasana hening, tanpa suara terus menerus? Konon menurut yang mengalami, suasana hening itu lebih membuat stress daripada tidak bisa melihat.

Helen Keller mesti menjalani suasana gelap sekaligus sunyi. Bayangkan stress yang dialami anak sekecil itu...Oleh sebab itu di awal-awal tahunnya Helen Keller hanya bisa menunjukkan sifat liar seperti binatang. Ia frustasi karena komunikasi hanya bisa searah.
Ia bisa merasakan sesuatu dari mencium atau memegangnnya. Jika ia mau roti, ia akan menangis karena tidak tahu bagaimana cara memintanya. Ia bisa tahu orang tuanya setelah meraba wajah dan pakaian, bisa tau berada di luar rumah saat merasakan hangat sinat matahari menerpa kulitnya. Tapi selain itu, hanya kegelapan dan kesunyian yang ia rasakan...

Di usia 7 tahun datanglah seorang guru yang mengerti kemarahannya, mau bersabar dan mengajarkan alfabet melalui telapak tangan. Hal pertama yang diajarkan sang guru adalah 'air'. Ya...Helen dibawa ke sumur tua dan merasakan aliran air yang segar dan diperkenalkan namanya melalui sentuhan tangan. Hellen mulai belajar bahwa setiap benda punya nama. Ia bahkan mulai sekolah, mengenal dan mulai membaca buku-buku dengan ditemani gurunya. Hellen berupaya keras agar bisa berbicara, Helen makin dikenal karena kegigihan dalam keterbatasannya.

Hasil belajarnya, Helen bisa membaca aplhabet, huruf Braille, membaca bibir, menulis dengan mesin tik. Ia juga mampu membaca buku dalam bahasa Jerman, Perancis, Yunani, dan Latin. Hellen kuliah di Raddcliffe College dan lulus dengan predikat memuaskan. Helen menulis banyak buku. Dia bahkan menjadi penulis, dosen, dan pembicara terkenal di masanya.

Helen Keller telah bertemu dengan beberapa presiden Amerika, mendapat berbagai gelar dari banyak universitas, memberi inspirasi bagi banyak orang.

Inilah sedikit kisah dari seorang anak yang bergelut melawan kekurangan dirinya sejak balita. Helen Keller wafat tanggal 1 juni 1968.

Quotes Helen Keller yang indah:

"Sesuatu yang terbaik dan terindah di dunia ini, Tidak dapat dilihat atau disentuh...Kau harus merasakannya dengan hatimu"

"Saya percaya, walaupun dalam tahun-tahun kesunyian dan kegelapan, Tuhan menggunakan hidup saya untuk suatu tujuan yang tidak saya ketahui. Tapi suatu hari nanti, saya akan mengerti maksud-Nya...dan saya bahagia"

Sedih dan menggunggah sekali kisahnya..Tapi satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah keberadaan satu sosok berarti dalam hidup Helen Keller. Siapa dia?

Ya...Gurunya! Kita tuliskan siapa sosok beliau itu nanti...insya Allah


Jumat, 06 September 2019

Tinjauan Ulang Arti Sekolah

Membaca beberapa artikel dan ceramah Ken Robinson, meyakinkan saya sekaligus membuka wawasan tentang sifat pendidikan formal yang selama ini kita kecap. Tidak cuma kita, tapi juga anak dan cucu kita jika keadaan belum berubah.

Begini, dari ceramah dan tulisan yang saya baca, saya mendapat helicopter view tentang bagaimana sistem pendidikan di sekolah ibaratnya bagian dari industrialisasi yang mengkooptasi nyaris seluruh aspek kehidupan manusia. Sekolah menjadi 'pabrik manusia' yang menelurkan calon-calon pekerja yang jika nanti lulus akan segera dipekerjaan untuk kepentingan industri. Oleh karena itu maka secara tak sadar (entah sadar), mata pelajara primadona pun tak jauh dari matematika dan IPA, atau yang sekarang sedang tren, yaitu STEM.

Buruknya dari situasi ini adalah, pendidikan (sekolah) melihat anak-anak sebagai entitas yang seragam dan diseragamkan. Padahal, anak-anak yang lahir dari 1 rahim ibunda, tidak pernah ada yang sama persis. Meskipun ia kembar. Anak-anak lahir ke dunia dengan membawa keunikan, potensi, dan ciri khas yang membedakannya dengan anak lain.

Tapi apa yang terjadi? Sekolah justru ingin menyeragamkan anak-anak kita.

Sekolah bahkan memberikan pakaian, sepatu, dan tas yg seragam untuk mereka.

Sekolah 'memaksa' mereka untuk berperilaku dan duduk dengan cara yang sama.

Satu hal yang paling ngeri dari situasi ini adalah, sekolah mengabaikan banyak potensi anak agar mereka jago di bidang tertentu yang tidak sesuai dengan potensi mereka. Bidang tersebut biasanya ya itu...matematika dan IPA.

Jika sungkan disebut tidak ada, ya bisa dibilang hanya sedikit saja yang memberi encourage pada anak-anak untuk menemukan dan 'memeluk' erat potensi mereka di bidang bahasa, sosial, agama, olah raga, musik, dan sebagainya.

Mereka yang masuk ke dunia non IPA bahkan ada yg ditakut-takuti bahwa minat tersebut tidak akan memberi penghasilan yg sepadan di masa mendatang.

Sistem yang rumit dan melibatkan ribuan orang dalam dunia pendidikan tampaknya kompak pada satu tujuan yaitu menuntaskan kurikulum yang belum tentu bisa menghantarkan anak pada potensi terbaiknya. Begitulah sistem pendidikan yang begitu mekanistis. Tidak sepenuhnya menganggap muris sebagai manusia. Maka wajarlah andaikata seorang anak lulus SMA (Bayangkan, 12 tahun pendidikan), tapi dia planga plongo...belum bisa mengenal minat, bakat, dan potensinya.

Sebab sekolah tidak memfasilitasi hal tersebut. Sekolah merasa cukup menjalankan tugas kalo sudah menjejali kepala anak dengan wawasan dan si anak bisa mengeluarkan kembali wawasan tersebut dalam selembar kertas yaitu ketika ujian.

Perlu ada refleksi yang mendalam pada para stakeholder pendidikan untuk mereview ulang cara pandang komunitas terhadap pendidikan. Semoga Allah swt memeri petunjuk kepada kita semua.

Rabu, 04 September 2019

Memulihkan Fokus

Kemarin kita sudah mengulas keberadaan stimulus yang luar biasanya banyaknya di sekitar. Stimulus/rangsangan yang kentara kerasa dengan adanya gadget di dekat kita. Stimulus-stimulus tersebut disenangi oleh otak kita karena pengaruh hormon dopamin yang menimbulkan sensasi nikmat. Persis seperti saat kita makan santapan lezat, berhubungan intim, dan sejenisnya (tentu dengan kadar berbeda).

Keadaan 'puas' itulah yang membuat kita menikmati membuka medsos, mengecek email, atau aktivitas apapun dalam rangka 'melayani ajakan2' stimulasi yang datang ga henti2. Permasalahannya, otak manusia ga cuma menikmati, tapi ia akan menagih lagi dan lagi dalam waktu yang semakin rapat.

Permasalahan berikutnya adalah dikaitkan dengan produktivitas. Jangan mengira kalo otak disibukkan dengan mengecek notifikasi2 di hp, baca info-info yg berseliweran di layar gadget membuat kita jadi produktif.

Mungkin...
ada perasaan bahwa kegiatan mengumpulkan informasi-informasi dr gadget bikin kita nambah wawasan, merasa update dengan info kekinian, merasa terkoneksi dengan masyarakat luas, dan seterusnya. Tapi bukan itu arti produktivitas (mudah-mudahan lain kesempatan bisa kita tuliskan makna dari produktivitas).

Apa kamu ingin bebas dari kondisi yang over stimulating yang lagi tren sekarang ini?

Sebelumnya, perlu dipahami bahwa antara kondisi penuh dengan stimulus dan kondisi yang rendah dengan stimulus ada sebuah keadaan yg disebut 'kejemuan'. Bosen...gitu deh.
Kerasa kalo kita sudah selesai mengerjakan banyak urusan yang menyibukkan lahir batin, lalu tiba-tiba saja ada waktu kosong yang tidak tahu harus diisi dengan ide atau kegiatan apa...
Datanglah makhluk itu...yaitu kondisi 'jemu'.

Itulah saat di mana otak kita diisi oleh sangat sedikit sekali stimulasi.

Jadi kuncinya adalah dengan membuat otak bebas merdeka dari terdampak stimulasi yang banyak di sekitar. Jadikan otak kita less stimulated, ga gampang terstimulus.

Makanya..jika kamu pernah dengar, cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget adalah dengan mengurangi waktu membuka gadget. Tujuannya tak lain adalah untuk mengurangi otak dari terstimulus tadi.

Cara lainnya (Selain kurangi penggunaan gadget) adalah membiasakan diri dalam situasi jemu atau bosan tadi. Ini yang unik.
Apa yang bikin kamu bosan? membaca petunjuk penggunaan HP? bisa jadi :) bacalah sampai tuntas lembaran petunjuk tersebut. Atau cari yg lebih bermanfaat, misalnya membaca al qur'an (ini bagi yg khusus ga kuat lama2 membaca al quran). Atau main dengan anak2. Jika kamu orang yg termasuk mudah bosan main dengan anak, maka lakukan hal itu. Intinya..melakukan apapun yang dari sudut pandang kebiasaanmu itu membosankan, maka itu adalah cara melatih otak agar tidak terus terstimulus.

Tentunya dilakukan dengan disiplin, waktu yg lumayan panjang, dan berulang-ulang dengan kegiatan yg variatif. Beginilah cara relaksasi otak dari ketegangan akibat stimulus berlebih.
Nanti manfaatnya bakal kerasa. Yaitu kemampuan fokus yang lebih baik, rentang waktunya lebih lama, dan kemudahan untuk dapat ide2 kreatif.

Fokus dan Distraksi

Banyaknya gadget atau banyak aplikasi bikin orang sekarang sulit fokus. Dalam rentang waktu yg pendek pikiran akan gampang teralihkan. Makanya kita lihat ada yg sering buka hp, sekian menit sekali gatel pengen cek notifikasi medsos, sekian menit sekali periksa berita on line, hp sudah disimpan di saku tapi ga perlu waktu lama keluarin lagi cuma sekedar buka pesan obrolan di grup.
Awalnya sebagian psikolog mengatakan hal ini terjadi karena otak banyak menyalami distraksi (gangguan/selingan/pengalih perhatian). Itu menjelaskan kenapa rentang waktu untuk fokus orang zaman sekarang semakin sempit. Tapi setelah didalami lagi ternyata akar masalahnya ada di stimulus yg diterima. Otak kita menerima banyaak sekali stimulus dan ternyata otak kita menikmatinya. Otak kita senang dengan rangsangan2 pikiran yg bermacam macam itu, ia merespon dan akan terus menuntut untuk direspon (craving for more). Maka wajar rasa penasaran terhadap notifikasi gadget yg ga ada berhentinya itu ingin terus dipuaskan.
Apakah hal itu bagus?
Dari sudut produktivitas justru engga baik. Kepala yang banyak disibukan dengan stimulus2, rentang fokus yg makin menyempit, justru malah bikin agenda yg sedang dijalani ga optimal. Malah bisa jadi kl belajar ga tuntas, pekerjaan engga beres, andaipun beres tidak akan memuaskan. Bahkan obrolan ringan dgn anak istri kl terdistraksi bisa jadi mengurangi kualitas kedekatan yg sedang dibangun.
Kondisi ini buruk bagi individu atopun komunitas dalam jangka panjang...lalu gimana buat mengobatinya ? nanti insya Allah ditulis kapan2

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More