Ayo menjadi GURU!

Karena saya yakin bahwa setiap orang harus menjalankan peran sebagai guru, mentor, dan trainer

Dua Kecenderungan Abadi

Pendidik membantu menguatkan kecenderungan manusia pada pilihan-pilihan baik, sehingga tidak ada waktu untuk melirik pada pilihan-pilihan buruk

Mengajar Bukan Sekedar Bunyi

Memulai kebaikan dari diri sendiri ternyata merupakan unsur vital bagi keberhasilan pendidikan

Menembus Cakrawala

Belajar dan mengajarkan ilmu mengasyikan tak kepalang, sampai-sampai langit serasa di genggaman

Kunci Sukses Itu

Ia adalah kunci bagi pintu-pintu kebahagiaan yang selama ini tertutup dan terabaikan

Kamis, 30 Juli 2020

Pendidikan Rumah

Sekarang ini home schooling sedang tren di kalangan orang tua. Kenapa tren-nya hanya terjadi di kalangan orang tua saja? Jawabannya yaa karena orang tualah yang selama ini menyekolahkan anaknya. Merekahlah yang berhak menyekolahkan anaknya di sekolah negeri ataupun swasta, di dalam maupun luar negeri, dan pesantren/boarding school atau di sekolah biasa. Pilihan-pilihan seputar sekolah anak selama ini pada dasarnya jatuh kepada orang tua. Termasuk ke dalam pilihan untuk menyekolahkan anaknya atau tidak.

Di zaman ini orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya memang bisa dituntut oleh hukum karena dikategorikan menghalangi pendidikan yang merupakan salah satu hak dasar seorang anak. Kewajiban orang tualah menyediakan pendidikan itu sebagaimana kewajiban mereka untuk memberinya makan, sandang, papan, perlindungan, serta pengasuhan yang baik. Sebenarnya kita beruntung hidup di sebuah masa yang komunitas dan pemerintahnya memberikan perhatian yang besar terhadap hak pendidikan anak. Tapi orang tua di era sekarang dihadapkan pada banyak dilema yang membuat mereka merasa berat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah seperti kebanyakan orang.

Permasalahan yang kompleks di dunia persekolahan seperti bullying, kurikulum yang terlalu padat, pendidikan yang tidak memperhatikan keunikan dan karakteristik khusus anak, lingkungan sosial yang buruk, dan aneka permasalahan lainnya mendorong orang tua untuk mencari alternatif pendidikan luar sekolah. Orang tua pada dasarnya ingin yang terbaik untuk anak mereka, termasuk dalam hal pendidikan. Apalagi orang tua yang sadar betul bahwa melalui pendidikanlah masa depan seorang anak dibentuk dan diarahkan. Oleh sebab itu orang tua memikirkan bagaimana agar segala hal yang negatif yang terdapat pada dunia persekolahan umum dihindari semaksimal mungkin sambil tetap berupaya memberikan pendidikan yang terbaik untuk sang anak. Ada juga alasan lain seperti alasan keyakinan, agama, atau filosofis pendidikan yang dipegang teguh orang tua sebagai idealisme.

Oleh sebab itu hal ini pula yang mendorong masyarakat kreatif dalam menciptakan model-model persekolahan. Sekarang kita mengenal sekolah seperti sekolah Islam Terpadu, sekolah alam, sekolah yang khusus mengajarkan matematika dan IPA, dan jenis sekolah lainnya sebagai hasil kreativitas masyarakat. Keragaman sekolah yang kita temui tersebut adalah jawaban dari warga sendiri atas tantangan-tantangan masa depan, juga atas permasalahan yang tidak bisa diatasi oleh sekolah-sekolah umum yang ada. Keberadaan sekolah yang variatif tersebut juga memberikan masyarakat alternatif yang banyak untuk anak-anak mereka. Orang tua dimanjakan dengan aneka pilihan sekolah seperti menu makanan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan selera anak-anak mereka.

Di antara jenis persekolahan yang beraneka rupa tersebut terdapat alterntif sekolah yang dinilai bagus, yaitu yang kita kenal dengan home schooling. Kenapa dinilai bagus? Karena berdasarkan testimoni orang tua yang menyelenggarakan home schooling itu sendiri. Mereka mendapatkan manfaat besar yang terlihat kongkrit pada diri anak mereka. Oleh sebab itu home schooling beranjak dari sekedar alternatif sekolah menjadi sebuah gerakan besar di pelbagai penjuru dunia.

Home schooling dilakukan melalui cara orang tua memberikan sendiri pendidikan untuk anaknya sebagai pengganti kegiatan belajar di sekolah tradisional. Home schooling menjadi gerakan yang tumbuh sejak tahun 1970 di Amerika Serikat. Sekarang ini di sana diperkirakan ada 2 juta anak-anak yang dididik melalui home schooling berdasarkan the National Home Education Research Institute. Angka anak yang belajar via home schooling tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Di Amerika serikat ketentuan legal untuk kegiatan home schoolng berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada yang ketat tapi ada juga yang sangat longgar.

Berdasarkan buku Teach Your Own karangan Holt, hal paling penting yang dibutuhkan oleh orang tua untuk menyekolahkan anaknya di rumah adalah “ to like them, enjoy their company, their physical presence, their energy, foolishness, andd passion”. Orang tua harus bisa menikmati semua omongan dan pertanyaan sang anak, selain mereka juga harus bisa menikmati untuk memberi jawaban atas semua pertanyaan tersebut. Itulah persyaratan pokok untuk orang tua, dan mesti sejalan dengan dedikasi mereka terhadap proses pendidikan di kegiatan home schooling.

Kegiatan home school dapat dimulai pagi hari seperti halnya kegiatan belajar di sekolah tradisional. Tapi jangan heran, ada juga orang tua yang benar-benar membedakan belajar seperti sekolah biasa. Ada yang memulai belajar kapanpun yaitu ketika anak mereka menunjukkan rasa penasaran. Kegiatan tersebut dapat dilakukan sebelum tidur, bisa siang hari ataupun malam.

Filosofi pendidikan yang dianut oleh orang tua sangat menentukan bagaimana mereka membuat struktur belajar di rumah. Kita yang belajar di sekolah tradisional mengenal satu gaya pendidikan, sistem yang berbasis buku, barisan meja belajar, dan tes terstandar, tapi sebenarnya ada banyak filosofi pendidikan di dunia ini. Termasuk metode Waldorf, Montessori, Charlote Mason, Classical, leadership education, interest-led learning, unit study, dan lain-lain. Para pelaku home schooling memiliki kemerdekaan untuk memilih dan mencampur ide-ide dari sekian banyak metode yang menurut mereka terbaik untuk pendidikan anak-anak di rumah.

Orang tua juga mengkombinasikan beberapa materi yang tidak terikat usia anak seperti sejarah, literatur, dan seni. Anak-anak yang usianya berbeda bisa jadi memperoleh materi sejarah yang sama tapi ketika diberi tugas, mereka diberi beban yang berbeda sesuai dengan perkembangan tingkat berpikir mereka. Sementara untuk mata pelajaran lain seperti matematika, orang tua biasanya memberikan topik yang berbeda untuk setiap anak sesuai kebutuhan dan perkembangan mereka.

Dalam buku best seller-nya, Element, Sir Ken Robinson menuliskan bahwa “ kunci menuju transformasi pendidikan adalah bukan dengan standarisasi pendidikan, tapi dengan mempersonalisasi pendidikan, untuk membangun prestasi dengan menemukan bakat individu dari setiap anak. Menempatkan siswa di lingkungan di mana mereka ingin belajar dan mereka dapat secara mudah/alami menemukan hasrat mereka yang sesungguhnya”. Atmosfer yang diberikan dalam home schooling menyediakan setting alami yang membuat orang tua bisa memberikan metode/cara belajar yang khas, yang sesuai dengan ketertarikan setiap anak, kemampuan, dan gaya belajar mereka.

Di Indonesia komunitas home schoolers ini juga banyak anggotanya. di medsos ada tokoh-tokoh home schoolers yang rajin menulis metode dan keunikan serta prestasi anak didikannya. Sangat menarik untuk dipelajari dan diambil hikmahnya. Sebab buat orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah tradisional juga punya keinginan untuk mendidik anaknya di rumah ketika ada kesempatan. Menjadi orang tua sekaligus guru adalah hasrat dasar sekaligus tantangan untuk kita semua.

Disarikan dari https://www.parents.com/kids/education/home-schooling/homeschooling-101-what-is-homeschooling/

 

Senin, 27 Juli 2020

Berita Gembira

Berita gembira buat pendidik sangatlah banyak. Kalolah semua orang tahu keutamaan yang menggembirakan buat kontribusi dari seorang pendidik pastilah orang akan berbondong-bondong buat jadi pendidik. Sekarang saja sarjana yang ingin menjadi guru sangat banyak, sangat kontras dengan dulu ketika guru belum diberi tunjangan profesi. Apa sebabnya? Tak lain dan tidak bukan adalah janji akan upah yang tinggi atas jasa profesi.

Janji dalam wujud honorarium seperti itu saja membuat manusia tergoda dan berbondong-bondong untuk menjadi guru, semestinya buat orang beriman janji berupa ganjaran yang tidak tampak lebih menggiurkan lagi. Janji yang mesti diyakini buat para guru adalah ketinggian derajat bagi orang-orang yang berilmu.


يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ



Artinya : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat" (Al Mujadalah:11)

Siapa  sih yang tidak ingin punya derajat yang tinggi (dalam berbagai bentuknya) di antara kita ini?

Kita lihat manusia berlomba untuk menjadi pemimpin di suatu wilayah apa lagi motivasinya kalo bukan untuk mendapat derajat yang tinggi sebagai pejabat/pemimpin? Di sekitar kita orang-orang bekerja dari pagi hingga malam bahkan dari malam hingga pagi untuk mengumpulkan uang yang dipercaya bisa membuat derajat kedudukannya di masyarakat semakin baik. Kita menyaksikan orang-orang belajar dan mengumpulkan ilmu hingga memiliki gelar yang berdampak pada perkataan yang didengar dan digugu. Apalagi yang bisa menjelaskan keadaan ini kalo bukan derajat yang tinggi dari sisi ilmu.

Memang di mata manusia istilah 'derajat' itu bisa sangat nisbi. Oleh sebab itu kita bisa beralih pada sudut pandang ketuhanan dalam memandang derajat yang memang dijanjikan oleh Allah swt. Derajat yang dijanjikan pastilah bukan derajat serba relative di mata kita, tapi derajat yang absolut. Derajat yang mungkin tidak disepakati oleh semua manusia tapi pasti diakui oleh Allah Tuhan semesta alam.
Prof Dr Wahbah Al Zuhaili menuliskan bahwa orang-orang  yang beriman dan diberi ilmu pengetahuan di ayat tersebut artinya mereka akan diangkat derajatnya di dunia maupun di akhirat.

Janji lainnya yang datang dari Allah swt adalah pahala yang mengalir. Pahala mengalir ini tentu berbeda jauh  nilainya dengan pahala yang berlaku hanya sekali. Jika Anda memberi sedekah berupa makanan ke saudara, pahala datang pada saat itu saja. Tapi jika mengajar seseorang suatu ilmu, lalu ilmu itu dipakai terus menerus sampai batas waktu yang entah kapan, maka pahala akan terus datang meskipun kegiatan mengajar berhenti sejak lama.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR Muslim)

Banyak cara untuk menunjuki manusia kepada kebaikan. Anda bisa melakukannya dengan menulis, menunjukkan arah dengan jari, berbicara memberi arahan, nasihat, atau peringatan, atau berbagai kombinasi cara yang melibatkan banyak metode dan sarana.
Siapa lagi manusia yang paling sibuk dalam 'menunjuki kebaikan' selain para pendidik. Siang malam mereka memikirkan bagaimana caranya agar murid mereka menjadi lebih pintar, lebih berakhlak, lebih terampil.

Orang yang mereka ajari juga jumlahnya bukan satu atau dua orang, tapi bisa mencapai ribuan dalan kurun waktu tahunan. Sungguh jika para pendidik memikirkan tentang banyaknya pahala yang mereka kumpulkan, mereka akan tercengang dengan betapa besarnya kemurahan Tuhan yang diturunkan atas profesi mengajar, yang pada akhirnya bisa membuat mereka berupaya sungguh-sungguh untuk menjadi seorang yang shaleh dan serius menjalani profesinya.

Dari generasi ke generasi warisan yang selalu diturunkan dan dinilai paling berharga adalah ilmu. Sebodoh-bodohnya manusia paham betul bahwa ilmu sangat berarti dan sangat penting bagi keberlangsungan hidup umat manusia dan perubahannya ke arah yang lebih baik. Di atas itu semua kita semua sadar tidak ada usaha yang patut dipertahankan, dihargai, dijunjung tinggi, dan dimuliakan dalam perkara ilmu selain mengajarkannya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Wajar saja, Tuhan menjanjikan kabar gembira buat mereka yang mengabdikan hidupnya untuk kegiatan mengajar sambil terus membelajarkan dirinya.


Sabtu, 25 Juli 2020

Life Without Achievements

Kalo ditanya siapa di antara kita yang ingin hidup bahagia, rukun dengan orang-orang maka jawabannya pasti "saya!". Tiap orang ingin bahagia sekaligus menjalani kebahagiaan tersebut sambil dibarengi hidup yang akur serta guyub. Manusia bisa sebenarnya bahagia sambil menyendiri. Apalagi di zaman sekarang ini. Tinggal di rumah sempitpun asalkan ada wifi dan gadget orang bisa seharian baringan sambil berselancar di dunia maya. Ada berita-berita terkini, ada diskusi tentang topik-topik yang selaras sama minat, ada forum hobi, video-video lucu atau hiburan lainnya ga kenal henti, bahkan bisa kenalan sama orang asing sambil berpura-pura berperan jadi sosok lain.

Emosi yang dikandung dalam kata bahagia tak lebih dari kemunculan dan 'permainan' hormon-hormon di dalam tubuh. Sangat saintifik, bisa dipelajari dan bisa dimanipulasi. Orang sibuk era sekarang banyak membuat orang mencari cara singkat buat bahagia, salah satunya dengan aktif mengkonsusi narkoba. Di negara-negara maju, narkoba menjadi seperti kebutuhan primer. Mereka tidak membuatnya legal, tapi sebagian besar masyarakat mengkonsumsinya secara rutin, termasuk 'orang-orang baik'-nya.

Cara kita sebagai seorang muslim tentu saja berbeda. Kita tidak menghalalkan segala cara untuk mencari bahagia. Bahagia adalah hak setiap orang, ia adalah zona nyaman yang pasti dikejar manusia tanpa harus ada arahan sebelumnya. Setiap kita pasti punya mode auto pilot untuk mencari dan berdiam diri di posisi bahagia. Bahagia inilah zalah satu komponen dari well being yang pernah kita bahas sebelumnya. Ingat, salah satunya saja lo...ada elemen lain dari well being selain bahagia yang perlu kita bahas. Salah satunya adala achievements.

Keberadaan achievement memang penting sebagai elemen krusial dalam hidup manusia. Sebutlah anda hidup bahagia, setiap hari ketawa, makanan enak selalu tersedia, rumah berhalaman luas, kendaraan bagus nan nyaman, passive income berdatangan meskipun kaki ongkang-ongkang. Tapi pasti akan kerasa ada yang kurang. Akan ada masanya orang bosan ketika semua tercukupi sehingga tidak ada lagi tantangan buat ditaklukkan. Meski bahagia dan bisa tinggal di rumah seharian, tetap saja orang yg serba berkecukupan akan merasa perlu keluar dari rumah untuk mencari tantangan lain buat dikalahkan.

Saat itulah dia mencari achievements. Saat dia bisa puas telah mencapai sebuah tujuan dengan mengerahkan segala daya yang ia punya. Bisa jadi achievement tersebut didapat setelah berhasil menaiki puncak gunung, menyelesaika proyek besar, mengalahkan orang lain dalam pertandingan, atau menyelesaikan konflik dengan seseorang. Could be anything. Bisa terkait urusan besar bisa juga cuma seputar hal-hal yang terlihat receh. 

Oleh sebab itu dalam merancang hidup, tidak cukup kita berorientasi pada bahagia saja. Tapi kita juga perlu merancang cita-cita. Ada yang kecil ada yang besar. Tujuannya apa? Agar ada achievement2, perolehan2, prestasi2 yang membuat kita merasa terhibur di sepanjang jalan kehidupan kita.

Caranya bisa jadi dengan membuat target-target terkait hobi. Seperti yang hobi bersepeda, maka targetkanlah untuk mencapai jarak tertentu atau menaklukan tanjakan tercuram yang menjadi tantangan buat para goweser. Buat yang hobi menulis, buatlah target untuk menulis buku yang bisa jadi best seller atau buat target untuk menulis artikel sebanyak 100 buah dalam sebulan. Ini semua bisa berangkat dari hobi yang kita miliki. Anda pasti punya hobi...nah kembangkan tantangan dari hobi tersebut.

Selain dari hobi, bisa juga dari karier. Buatlah target tertentu pada karier anda. Misalkan jika sekarang di karier anda hanya  berfokus pada pelayanan pribadi (berapa duit yang bisa saya dapat dari kerjaan ini?), mulai sekarang buatlah target 'pelayanan'. Seperti 'berapa banyak orang yang bisa saya layani di bulan ini?' Seberapa luas jangkauan kerjaan saya bisa memberi manfaat?', dan banyak lagi. 



Belajar Mindfulness I

Satu pelajaran berharga dari praktik mindfulness yang dikembangkan Jon Kabat Zin adalah mengenali pikiran manusia yang selalu berada pada kondisi 'doing'. Dalam kondisi 'doing' pikiran manusia aktif memikirkan banyak hal, banyak sekali hal. Baik kejadian di masa lalu maupun kejadian (yang diprediksi terjadi) di masa depan.
Pikiran-pikiran yang mengembara tersebut tentu tidak berdiri sendiri, tapi juga selalu dibarengi dengan emosi yang melekat pada image/pikiran tersebut. Saya yakin anda suka mengalami ketika ada sebuah kejadian di jalan raya yang membuat anda kesal, saat anda mengingat kejadian itu saat ini, ternyata emosi 'kesal' tersebut juga hadir menyertai. Kejadiannya sih sudah lewat, tapi keselnya tetep melekat.
Uniknya, tidak cuma ingatan tentang masa lalu yang melibatkan emosi, imaginasi kita tentang masa depan berupa prediksi-prediksi juga sama saja dalam hal pelibatan emosi. Saya yakin kita sering begitu. Misalnya ketika akan pergi ke sebuah tempat dan di perjalanan kita memprediksikan kemacetan di jalan, maka sebelum kaki melangkah keluar rumah emosi jengkel tentang suasana jalanan yang macet sudah ada di hati kita.
Di atas itu cuma contoh kecil, pada kenyataannya banyak sekali imajinasi-imajinasi di kepala kita tentang masa depan yang didramatisir lalu mendatangkan emosi yang juga intensitasnya semakin kuat dan kuat. Padahal apa yang dipikirkan tersebut belum terjadi, dan kekhawatiran atas semua kejadian yang mungkin adalah imajinasi kita sendiri (meskipun kita meyakininya sebagai sebuah prediksi yang valid berdasarkan pengalaman).
Pada prinsipnya semua pikiran tentang masa lalu dan masa depan yang memenuhi kepala tersebut adalah hanya 'pikiran'. Jika pikiran tersebut dihilangkan, maka emosi yang menyertainyapun akan ikutan hilang. Semua keadaan dramatis yang menguasai jiwa dan hormon2 kita bisa hilang jika pikiran yang mengawalinya dihilangkan.
Begitulah hebatnya pikiran dan imajinasi manusia. Apa-apa yang kita imajinasikan bisa tampak sebagai sebuah fakta, bener-bener real (buat si pemilik pikiran).
Sadar atau tidak, beginilah keadaan pikiran dan emosi kita saling terkait dalam kondisi 'doing'. Ada fakta lain tentang pikiran manusia yang selalu memikirkan masa lalu dan masa depan dalam kondisi 'doing', yaitu manusia memiliki pikiran yang selalu aktif mencari solusi atas masalah yang sedang dipikirkannya (padahal masalah tersebut juga bisa jadi cuma ada di pikiran, bukan masalah aktual di dunia nyata yang perlu dipecahkan).
Pikiran yang selalu aktif mencari solusi ini tentunya terkait dengan pikiran sebelumnya yg berisi kenangan atau imajinasi masa lalu atau masa depan. Misal nih, dulu kita pernah merasa diremehkan oleh seseorang karena urusan ekonomi. Lalu, timbulah emosi kesal, marah, perasaan rendah diri, dendam, sedih, dan sebagainya.
Tentunya keadaan mental tersebut tidak berhenti di sana kan?
Pikiran kitapun kemudian aktif mencari solusi. Contohnya kita memikirkan bagaimana agar saya bisa membalas perlakuan buruk dia? bagaimana saya bisa membuat perasaan saya lebih baik? Bagimana saya bisa memperbaiki kesan tentang saya dan ekonomi saya? Bagimana agar kejadian seperti itu bisa tidak terulang? Baimana .... bagaimana dan bagaimana....
Pikiran kita lalu bercabang, membuat skenario-skenario. Setiap pikiran dan skenario sangat mungkin mendatangkan emosi-emosi baru yang sebelumnya tidak ada.
Ini baru memikirkan 1 masalah dari masa lalu. Belum lagi kita memikirkan masalah yang sama tapi terkait dengan masa depan. Semisal prediksi: Bagaimana kalo nanti saya ketemu orang yang kembali meremehkan saya karena urusan ekonomi? bagaimana kalo anak saya nanti diremehkan oleh orang lain seperti yang terjadi kepada saya dahulu? bagaimana...bagaimana...dan bagaimana...terus saja pikiran kita memprediksi masa depan (sambil membawa emosi ketakutan, marah, dan lain sebagainya).
Inilah fakta kedua tentang kondisi 'doing' dan memang bener juga ya. sayapun mengalaminya. Bahkan sangat sering.
Ada satu fakta lain yang membuat pikiran 'doing' ini bisa membuat manusia semakin 'sibuk dengan pikirannya sendiri', yaitu pikiran kita ga pernah istirahat kecuali kalo lagi tidur. Pikiran kita selalu melompat ke sana kemari, beralih topik dan tema tanpa terkendali. Kita tahu betul kondisi ini ketika melaksanakan shalat.
Silakan tanyakan ke diri sendiri apa yang anda pikirkan ketika menyebut Allahu Akbar saat takbiratul ihram? lalu ketika membaca iftitah, alfatihah, dan seterusnya sampai salam. Bisakah anda secara full tenggelam dalam mengahayati bacaan shalat? atau pikiran anda mengembara memikirkan kejadian, memikirkan orang, makanan, uang, kaos kaki, pekerjaan, peniti, bumbu masakan, sendal, atau agenda jalan-jalan?
Tanyakan ke diri sendiri apa yang anda pikirkan ketika sendiri, ketika nyetir di jalan, ketika masak, atau mandi. Pikiran kita melompat-lompat seperti monyet, berpindah-pindah dari satu pikiran tentang kejadian, keinginan, hasrat, dibarengi emosi-emosi, dan seringnya malah tidak terkendali.
Ya....kita benar-benar sulit mengendalikan isi pikiran kita. Kita pikir kita mengenal diri kita, menguasai diri sendiri. Padahal pada faktanya, kita punya masalah besar dalam mengendalikan konten pikiran. Dan ini adalah salah satu sumber dari banyak masalah dalam kehidupan kita manusia - sejak dari zaman nenek moyang.
Inilah fakta-fakta yang ingin dibenahi melalui praktek mindfulness. Inilah kondisi-kondisi yang bisa diperbaiki melalui konsep khusyu'. Hasilnya amat luar biasa untuk menciptakan ketenangan sejati, memunculkan perasaan menghargai dan menikmati setiap keadaan, menaikkan produktivitas, dan kebahagiaan. Melalui penciptaan kondisi yang berlawanan dengan kondisi 'doing', yaitu 'being'.

Jumat, 17 Juli 2020

Prinsip 80/20

Prinsip populer ini ditemukan tahun 1897 oleh seorang ahli ekonomi dari Itali yang bernama Vilfredo Pareto. Oleh karena itu mungkin teman-teman sering mendengarnya dengan sebutan lain pada prinsip ini sebagai Prinsip Pareto, Aturan Pareto, Aturan 80/20, Prinsip Prinsip ketidakseimbangan, dan lain-lain. Prinsip ini sering banget dipakai di buku-buku buat menjelaskan sebuah fenomena ketidakseimbangan yang ternyata kepake di berbagai bidang kehidupan. Para ahli dan praktisi di bidang bisnis, kemasyarakatan, teknolodi dan komputer, engineer, politik merasakan fenomena 80/20 ini begitu jelas tampak kehadirannya. Maka jangan heran prinsip Pareto sering disinggung pada buku-buku sebagai sebuah pendekatan teori atau formula keberhasilan. Tapi buku yang membahas secara fokus tentang 80/20 adalah buku berjudul 80/20 besutan ....

Awalnya Vilvredo Pareto meneliti pola kekayaan dan pendapatan di Inggris pada abad ke-19. Dia menemukan bahwa sebagian besar kekayaan dan pendapatan besar mengalir ke sejumlah minoritas orang saja. Pareto menemukan fakta hubungan matematika antara prosentase populasi manusia dengan jumlah kekayaan yang dinikmati individu. Sederhananya, dia temukan ada 20% orang yang menikmati 80% kekayaan. Prosentase ini tentu tidak selalu perssis 80/20, tapi menunjukkan fakta distribusi kekayaan di sebuah rentang populasi benar-benar tidak seimbang.

Termuan lain dari Pareto yang menarik adalah pola ketidakseimbangan ini berulang secara konsisten kapanpun di melihat data-data pada sejumlah periode waktu yang berbeda di beberapa negara. Baik di dalam Inggris ataupun di negara lain. Polanya selalu sama dengan presisi matematis yang kuat. Apa ini sebuah kebetulan atau ada sesuatu yang besar di balik ekonomi dan kemasyarakatan? apakah data dan perbandingan serupa juga berlaku pada bidang lain selain kekayaan dan jumlah penghasilan?

Ilmuwan sebelum Pareto belum pernah menyandingkan 2 data (kekayaan dan penghasilan) dan membandingkan prosentase dari kedua set data tersebut (tapi sekarang ini cara itu sudah sangat populer/biasa). Prinsip Pareto bisa kita pakai buat menjelaskan banyak fenomena di kehidupan profesional ataupun kehidupan sehari-hari kita.

Prinsip 80/20 menggambarkan sebab dan akibat yang ganjil. Bahwa usaha sedikit bisa menghasilkan banyak, minoritas bisa mempengaruhi suasan mayoritas, input yang minim bisa memberikan ouput yang paling besar. Secara kongkritnya sebagai contoh: 80% penghasilan yang kita peroleh berasal dari 20% waktu yang kita gunakan, 80% produktivitas lembaga dihasilkan oleh 20% karyawan, 80% kebahagiaan diperoleh dari 20% aktivitas, 80% keuntungan toko diperoleh dari 20% jenis produk, 80% nilai kejahatan ditentukan oleh 20% penjahat, 80% kecelakaan di jalan disebabkan oleh 20% pengguna motor, dan seterusnya.

Prinsip 80/20 ini sangat berarti karena dia bertentangan dengan intuisi dasar kita yang mengira bahwa usaha sebesar 100 akan menghasilkan buah atau produk sebesar 100 juga. Kita menanggap usaha besar akan memproduksi hasil besar. kita menganggap bahwa 100 karyawan memiliki nilai dan kontribusi yang sama terhadap perusahaan/lemabaga. Kita menganggap semua kegiatan refreshing kita memiliki kontribusi sama terhadap kualitas keceriaan. Kita menanggap semua orang yang diberi honor yang sama akan memberikan kontribusi yang sama terhadap pekerjaan. Kita menganggap bahwa semua universitas memiliki kualitas yang sama.

Prinsip 80/20 ini membuka penjelasan bahwa jika dua set data disandingkan, dikaitkan terhadap sebab dan akibat, lalu dianialisa, dan dijelaskan, bisa dipastikan bahwa hasil akhirnya adalah pola ketidakseimbangan. ketidakseimbangan itu bisa jadi 65/35, 70/30, 75/25, 80/20, 95/5, 99,0/0,1 atau berapa saja.

Kenapa kita mesti peduli sama prinsip 80/20 ini? Seperti penjelasan John Koch dalam bukunya, sadar atau tidak, prinsip tersebut berlaku juga pada kehidupan kita. Di kehidupan pribadi, sosial, ekonomi, pekerjaan, dan sebagainya. Prinsip 80/20 ini memberikan kita sudut pandang yang sangat berarti untuk memahami apa-apa yang terjadi pada dunia di sekitar kita. Prinsip 80/20 ini kabar baiknya juga bisa dimanfaatkan sebagai rumus buat meningkatkan kualitas hidup kita.

To be continued...




Jumat, 03 Juli 2020

Well Being

Para filsuf menyebutkan motif dari semua perbuatan manusia adalah untuk memperoleh bahagia (seperti yang dikatakan Aristoteles). Nietzsche menduga bahwa semua aksi manusia bertujuan untuk mendapat kekuasaan. Beda lagi dengan Freud yang berpikir kalo semua perilaku manusia bertujuan untuk menghindari kegelisahan. Gimana dengan pendapat mang Udin tukang sayur yang saban hari lewat mengenai tujuan akhir dari semua usahanya? maka dengan sederhana ia akan menjawab: meraih bahagia.

Ketika menjelaskan arti well being dalam bukunya "Flourish", Martin Seligman mengkritisi semua pendapat tersebut yang cenderung pada penyederhanaan jawaban. Sebelumnya, sebagai seorang psikolog ulung yang pernah menjadi ketua APA di tahun 1996, Seligman juga mengusung teori kebahagiaan, yang dia sebut authentic happines. Di teorinya tersebut, kebahagiaan dapat dianalisis ke dalam 3 elemen yaitu emosi positif, engagement, dan kebermaknaan. Keberadaan 3 elemen ini menjelaskan lebih utuh dan lebih dapat terukur makna dari sebuah kata yang sering kita tuju, yaitu kebahagiaan.

Emosi positif yang menjadi elemen pertama happiness adalah apa yang kita rasakan berupa kesenangan, kehangatan, kenyamanan, perasaan suka, kedamaian. Perasaan ini yang kita sebagai manusia kejar dari waktu ke waktu. Elemen kedua adalah engagement. Engagement ini adalah keadaan flow. Saat manusia 'menyatu dengan musik', terbawa suasana saat beraktivitas, semacam hilangnya kesadaran diri ketika melakukan kegiatan dengan khusyu'. Lalu terakhir adalah elemen ketiga, yaitu kebermaknaan (meaning). Kebermaknaan ini terbentuk dari perbuatan yang membuat hidup terasa lebih bermakna. Misalnya dengan melakukan sesuatu yang dirasakan terkait dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita, melampui ego kita.

Begitulah Seligman meyakini dahulu bahwa psikologi positif yang digelutinya berada pada seputar meraih kebahagiaan. Kebahagiaan adalah standar emas yang berlaku untuk manusia di mana-mana dan berlaku pula sepanjang zaman. Tapi kemudian hari Seligman berubah pikiran, authentic happines bukan menjadi tujuan dari psikologi positif. Ia mengalihkan pandangan dari happiness ke well being.
Di sinilah well being kemudian menjadi perhatian banyak orang, menjadi landasan filosofi buat pembangunan, pendidikan, pelatihan militer, dan banyak hal.

Kalo kebahagiaan itu parameternya sulit diukur maka well being punya parameter yang selain subjektif juga bersifat objektif. Ukuran kemajuan/kemakmuran sebuah negara biasanya kan pake patokan GDP, ukuran ekonomi doang. produksi dalam negeri tinggi apa benar membuat rakyatnya bahagia? konsumsi barangnya tinggi apa benar mengurangi angka korupsi dan pencurian? pendapatan penduduk besar apa seiring dengan meningkatnya rasa aman? Kita tidak punya ukuran2 yang serius menilai kesejahteraan manusia secara total. Nah sepertinya well being setidaknya mengarah ke sana.

Apa saja yang dimaksud dengan well being?

bersambung

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More