Jumat, 03 Juli 2020

Well Being

Para filsuf menyebutkan motif dari semua perbuatan manusia adalah untuk memperoleh bahagia (seperti yang dikatakan Aristoteles). Nietzsche menduga bahwa semua aksi manusia bertujuan untuk mendapat kekuasaan. Beda lagi dengan Freud yang berpikir kalo semua perilaku manusia bertujuan untuk menghindari kegelisahan. Gimana dengan pendapat mang Udin tukang sayur yang saban hari lewat mengenai tujuan akhir dari semua usahanya? maka dengan sederhana ia akan menjawab: meraih bahagia.

Ketika menjelaskan arti well being dalam bukunya "Flourish", Martin Seligman mengkritisi semua pendapat tersebut yang cenderung pada penyederhanaan jawaban. Sebelumnya, sebagai seorang psikolog ulung yang pernah menjadi ketua APA di tahun 1996, Seligman juga mengusung teori kebahagiaan, yang dia sebut authentic happines. Di teorinya tersebut, kebahagiaan dapat dianalisis ke dalam 3 elemen yaitu emosi positif, engagement, dan kebermaknaan. Keberadaan 3 elemen ini menjelaskan lebih utuh dan lebih dapat terukur makna dari sebuah kata yang sering kita tuju, yaitu kebahagiaan.

Emosi positif yang menjadi elemen pertama happiness adalah apa yang kita rasakan berupa kesenangan, kehangatan, kenyamanan, perasaan suka, kedamaian. Perasaan ini yang kita sebagai manusia kejar dari waktu ke waktu. Elemen kedua adalah engagement. Engagement ini adalah keadaan flow. Saat manusia 'menyatu dengan musik', terbawa suasana saat beraktivitas, semacam hilangnya kesadaran diri ketika melakukan kegiatan dengan khusyu'. Lalu terakhir adalah elemen ketiga, yaitu kebermaknaan (meaning). Kebermaknaan ini terbentuk dari perbuatan yang membuat hidup terasa lebih bermakna. Misalnya dengan melakukan sesuatu yang dirasakan terkait dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita, melampui ego kita.

Begitulah Seligman meyakini dahulu bahwa psikologi positif yang digelutinya berada pada seputar meraih kebahagiaan. Kebahagiaan adalah standar emas yang berlaku untuk manusia di mana-mana dan berlaku pula sepanjang zaman. Tapi kemudian hari Seligman berubah pikiran, authentic happines bukan menjadi tujuan dari psikologi positif. Ia mengalihkan pandangan dari happiness ke well being.
Di sinilah well being kemudian menjadi perhatian banyak orang, menjadi landasan filosofi buat pembangunan, pendidikan, pelatihan militer, dan banyak hal.

Kalo kebahagiaan itu parameternya sulit diukur maka well being punya parameter yang selain subjektif juga bersifat objektif. Ukuran kemajuan/kemakmuran sebuah negara biasanya kan pake patokan GDP, ukuran ekonomi doang. produksi dalam negeri tinggi apa benar membuat rakyatnya bahagia? konsumsi barangnya tinggi apa benar mengurangi angka korupsi dan pencurian? pendapatan penduduk besar apa seiring dengan meningkatnya rasa aman? Kita tidak punya ukuran2 yang serius menilai kesejahteraan manusia secara total. Nah sepertinya well being setidaknya mengarah ke sana.

Apa saja yang dimaksud dengan well being?

bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More