Ayo menjadi GURU!

Karena saya yakin bahwa setiap orang harus menjalankan peran sebagai guru, mentor, dan trainer

Dua Kecenderungan Abadi

Pendidik membantu menguatkan kecenderungan manusia pada pilihan-pilihan baik, sehingga tidak ada waktu untuk melirik pada pilihan-pilihan buruk

Mengajar Bukan Sekedar Bunyi

Memulai kebaikan dari diri sendiri ternyata merupakan unsur vital bagi keberhasilan pendidikan

Menembus Cakrawala

Belajar dan mengajarkan ilmu mengasyikan tak kepalang, sampai-sampai langit serasa di genggaman

Kunci Sukses Itu

Ia adalah kunci bagi pintu-pintu kebahagiaan yang selama ini tertutup dan terabaikan

Rabu, 03 April 2013

Kompetensi yang Masih Terabai

Menjadi pendidik adalah profesi yang cukup menyita 'segalanya'. Anda juga tentu paham, tidak hanya ilmu yang harus kita transfer. Soalnya di sana ada juga tenaga dan waktu yang harus kita korbankan untuk belajar secara mandiri. Ga mungkin kan seorang pendidik bisa memberi sesuatu sebelum ia memiliki sesuatu yang akan dia beri. Setidaknya ketika akan menyampaikan topik Penilaian Otentik, dia harus membaca dan mengulas buku-buku tentang evaluasi secara umum dan tentang penilaian otentik itu sendiri. Berikut menghimpun contoh-contoh relevan yang diperlukan.

Bisa-bisa memakan semua waktu yang kita punya untuk melengkapi relung-relung kognisi kita ketika undangan mengajar datang. Masalah ternyata tidak selesai sampai di situ. Karena seorang pendidik ga cukup  dinilai baik karena ia pinter dan wawasannya luas. Ada tuntutan kepribadian juga di sana. Tuntutan ini tentu terbentuk melalui proses yang panjangnya melebihi tuntutan kompetensi profesional. I mean....You can't just memorize those theory about wisdom, moral, and religion. Tapi kita harus mempraktekkannya sampai membentuk 'kepribadian utuh' as we practice in our daily life.

Saya juga yakin kita semua sudah berinteraksi dengan banyak pranata yang menyokong kompetensi sosial dan kepribadian, bahkan semenjak usia kita belia. Mungkin itu sebabnya kedua kompetensi ini seolah dianggap 'mudah' dan 'sudah' dikuasai oleh semua pendidik. Sampai-sampai ia jarang dikontrol, jarang dievaluasi, jarang diperkuat. Tapi pada realitasnya, masya Allah...

Kawan, saya jadi teringat bagaimana para ulama (tentu mereka itu tergolong kaum pendidik) zaman dulu begitu menaruh perhatian yang kuat pada KEIMANAN mereka sendiri...Kehebatan mereka terukur dari 2 faktor. Pertama adalah murid. Para ulama itu menghasilkan banyak murid tak semata karena ketenarannya di tengah masyarakat. Tapi karena para alumninya dikenal berkontribusi besar terhadap kemajuan masyarakat. Soo...apa artinya hal tersebut? Itu artinya adalah para ulama itu memiliki 'daya ubah' yang luar biasa sampai-sampai bisa menjadikan murid-muridnya ibarat replika sang guru yang meniupkan angin perubahan ke berbagai penjuru negeri. Sang guru tidak mem-'produksi' siswa-siswa yang hanya membawa muatan ilmu di kepalanya kemanapun ia pergi dan ia sendiri kebingungan tak tahu mau diapakan dengan kumpulan pengetahuan tersebut.
Lalu...selain faktor alumni, ada faktor lain yang bisa dijadikan ukuran kehebatan sang ulama, yaitu karya-karyanya yang ia tulis dalam banyak kitab.Kitab-kitab mereka jadi warisan yang langgeng, khasanah peradaban yang tak lekang dimakan usia meski sebagian isinya bisa jadi dikoreksi sejalan perkembangan pengetahuan. Yang teramat unik, kebiasaan para ulama yang menjadikan tulisannya itu 'sosok yang hidup' dan mampu berbicara kepada semua manusia di berbagai zaman. Tahukah kawan, apa sebabnya tulisan mereka begitu 'hidup' ? Itu karena KEIMANAN mereka! Sang penulis yang meniupkan segala kesungguhan, cinta, dan pengorbanan dalam setiap tulisan yang mereka tuangkan dalam lembaran-lembaran kertas. Bahkan tak jarang mereka melakukan shalat sunnat 2 rakaat sebelum menulis sesuatu, dan memohon perlindungan dan ampunan kepada Allah sekiranya isi tulisan mereka salah dan menyesatkan pembacanya.

Saya yakin tentu mereka memegang kaidah-kaidah ilmiah secara ketat, menulis berdasarkan info dan data yang valid, melakukan deskripsi yang adil dan membedakannya dengan pendapat subjektif. Imam Bukhari pernah melakukan perjalanan sangat jauh untuk mendapat info hadits yang valid, tapi ia tidak jadi mencatat dari orang bersangkutan ketika menemukan sumber info (salah seorang ulama) yang membohongi binatang peliharaanya dengan makanan yang sebenarnya tidak ada di tangannya. Beliau tidak ingin mengambil pengetahuan yang valid dari seseorang (meskipun terkenal shalih) tapi ia pernah berbohong (meski bohong hanya kepada binatang peliharaannya). Setelah usaha manusiawi (kaidah ilmiah) itu ditempuh, mereka sama sekali tidak lupa untuk melakukan usaha ukhrawi (berdoa, shalat, istighfar) atas produk kitab mereka.



Nah, kembali membahas tentang kompetensi kepribadian. Kepribadian itu menurut saya buah dari iman.  Para ulama zaman dulu telah menjadi sosok guru yang berkompetensi kepribadian luar biasa, tak hanya menjadi panutan muridnya, tapi juga panutan masyarakat. Mereka begitu takzhim/penuh hormat dan memberikan pengagungan amat tinggi kepada sang ulama. Tingkah laku perkataannya ditiru dan dijadikan rujukkan. Bahkan untuk memberi nama seorang bayi yang baru lahir, orang tua kerap mendatangi sang ulama. Ada pancaran kekuatan wibawa yang bukan direkayasa pada diri sang ulama, sang guru. Ia adalah cahaya yang berjalan di tengah masyarakat.

Iman bukan sekedar emosi, rasa, keyakinan, semangat, keteguhan. Tapi iman itu, keyakinan di hati, diucapkan di lisan, dan diamalkan melalui TINDAKAN atau PERBUATAN. Jadi tidak cukup meyakini di hati, atau mengetahui dan paham dari sisi keilmuan. Tapi yang menjadikan kita nyata orang beriman adalah tindakan yang kita pilih. Ada ragam benteng psikologis yang menghalangi seseorang berbuat sesuai dengan ilmu dan nilai kebaikan. Di antaranya sifat malas, banyak alasan, mengikuti nafsu sesaat, berpikiran pendek, dan lain-lain. Setidaknya kalo disederhanakan dalam kategori, maka ada 2 kategori 'musuh' yang harus  ditangani seorang pendidik agar keimanannya baik, kepribadiannya kuat. Pertama adalah bisikan syaitan, dan kedua adalah hawa nafsu. Keduanya ada dalam diri setiap kita.

Tak ayal lagi bagi para pendidik, kompetensi kepribadian yang paripurna itu mulai dibangun dengan melawan bisikan syaitan yang selalu menggoda dan mendorong pada keburukan dan melawan Tuhan. Juga dibangun dengan mengelola nafsu yang selalu cenderung menarik jiwa pada kemalasan, kenikmatan sesaat, serakah, dan amarah. Energi kita harus dialokasikan secara khusus di wilayah ini. Bahkan kalo bisa, beri porsi yang paling besar. Karena kesuksesan perjuangan di wilayah ini justru menghasilkan kekuatan dan semangat untuk membenahi kompetensi kita di bidang lain. Misalnya, seseorang yang terbiasa ibadah baik dan membersihkan hati, maka ia biasanya dianugerahi Allah kecerdasan. 
Dengan demikian, kecerdasan dan penguasaan terhadap materi, kemampuan pedagogi, keterampilan presentasi, berargumen dan bicara di depan umum, kreatif dan lain sebagainya itu adalah nilai tambahan setelah seorang pendidik berhasil 'memenangkan perang dalam diri', berhasil menguasai kompetensi pribadi, sukses mengaplikasikan iman yang benar.
Wallahua'lam.

Senin, 01 April 2013

Catatanku - Kurikulum Berbasis Kompetensi

Nah sekarang ini saya mau nyatet seputar KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang dimulai dari tahun 2004. Katanya sih, sebelum tahun tersebut kurikulum yang digunakan ga berbasis kompetensi, tapi berbasis isi (sekumpulan materi ajar). Jadiii...sebenarnya isi materinya ya sama, tapi sasaran yang ingin di capai dari peserta didiknya yang berbeda. Dengan demikian proses pembelajaran di kelaspun akan menunjukkan perbedaan. Pembelajaran jadi lebih student centered, ga lagi transfer knowledge.

Elaborasi kita atas suatu istilah akan sangat membantu mengungkap maksud yang terkandung di dalam kalimat atau frasa. Nah kawan, satu kata kunci penting di sini yaitu kata "Kompetensi". UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 1 (10) sih bilangnya gini : Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai dengan standar yang ditetapkan". Coba hayati baik-baik istilah itu....gimana...sudah???...sudah ??? :P
Kalo sudah dihayati, ini ada pengertian lain dari McAshan, 1981 (kayanya dia orang pinter makanya dikutip ucapannya :). Kata beliau kompetensi itu adalah pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif,dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.
Gordon (1988) menjelaskan beberapa aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi sebagai berikut :
Pengetahuan (Knowledge); Pemahaman (undestanding); Kemampuan (Skill);Nilai (Value); Sikap (Attitude); dan Minat (Interest). Apalin baek-baek yaawwhh...


Nah dengan pengertian itu, kurikulum berbasis kompetensi bisa diartikan sebagai konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar performansi tertentu (Dr.E.Mulyasa). Kurikulum ini mengandung sejumlah kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan.

Sampai di sini dulu catatannya. Boring sebetulnya nyalin begini. Tapi moga idenya melekat dan membawa manfaat.

Selasa, 12 Maret 2013

Sendiri yang Asik di TOT PRIORITAS

Alhamdulillah, ini hari ketigaku di TOT PRIORITAS USAID. Seru, ga ada stress, sarat pengalaman baru. Bay de way (salah ya...biarin! blog blog uing [maaph]), apaan sih program PRIORITAS itu ?

PRIORITAS itu singkatan kang..teh..Singkatan dari Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunities for REaching Indonesia's Teacers, Administrators, and Students. Program ini atas bantuan pemerintah US buat bantu meningkatkan kualitas pendidikan dasar di negara kita. Tapi sumpah, selama di sini saya ga ketemu sama sekali orang bule. Konon biaya yang dikeluarkannya 84 juta dollar. Sudah berlangsung sejak 2005 , dulu namanya DBE katanye...nah, yang diundang di sini adalah para fasilitator yang sebenarnya sudah dilatih beberapa kali dan berpengalaman membimbing guru-guru di daerah binaan DBE. Yang diundang terdiri atas unsur pengawas, kepala sekolah, dan guru-guru dari 9 kab/kota. Juga dosen-dosen UPI, UIN, seorang WI LPMP, dan seorang WI P4TK IPA yang malang (karena sendirian dan paling muda usianya di sini).

Mundur sedikit...ini kegiatan pertama di hotel di tahun 2013. Terbersit rasa males sebenarnya setelah lama 'diam' ga keliling daerah. Teringat masa dulu waktu mau monev BERMUTU di Tasik. Pergi sendirian naik bus Budiman dari Cicaheum. Jadi kebayang setidaknya jalur yang harus ditempuh. Di luar dugaan, ketemu macet di beberapa titik. Jadinya total perjalanan makan waktu dari 13.30 - 19.00-an. Tapi untunglah di jalan berdampingan dengan seorang dosen Ekologi UGM, sudah senior, namanya Cut (lupa lagi). Seperti orang tua umumnya beliau yang lebih banyak cerita dan seperti orang muda umumnya akulah yang paling banyak ngantuk...lho. Alhamdulillah perjalanan tak terlalu terasa lama. Ditambah enaknya nih, bu Elin dan suaminya berkenan jemput di pool bus. Tapi kemudian aku di'culik' dan dibawa ke rumah makan Cibiuk. Tambah enak banget tauu iiih....

Nikmat Allah memang selalu datang tanpa henti. Meski kita jarang menghitungnya...Malam itu ga ada pembukaan, terus di sana aku sekamar dengan pa Dedi dan Pa Zukron yang ramah dan ga merokok. Jadi ta apalah sekamar bertiga. lumayan gede ko kamarnya. Hotel Santika ini bintang 4 dengan menu sarapan yang selalu bikin bingung. Kebanyakan menunya cuy... :D. Ditambah lagi aku bertemu para pengawas Ciamis dan Indramayu yang ditatar sewaktu diklat pengawas tahun lalu. Reuni lagi deh. Alhamdulillah

Kegiatan lumayan rame, meski polanya dari awal sampai akhir ga berubah.Tapi metoda diskusi yang digunakannya memberi kesempatan luas kepada seluruh peserta untuk saling berinteraksi. Ice breaker juga beberapa ada yang baru saya tahu. Fasilitator ramah-ramah dan begitu sabar melayani sikap peserta yang kerap bercanda. Yap...mereka sudah menunjukkan sikap seorang fasilitator yang memang harus punya segudang sabar dalam pembelajaran orang dewasa. Sayangnya, muatan materi terlalu sedikit. Tidak ada pengayaan yang berarti buat sebagian besar peserta yang rata-rata adalah fasilitator dan dosen-dosen.

Uniknya, di malam hari kita ga dikasih makan di hotel. Kita diberi kesempatan buat cari makan di luar. Alhamdulillah ada banyak pilihan makanan di sekitar hotel. Ada Ampera, PAdang Citra Bunda, nasigor, seafood, pecel lele, soto ayam, de el el pokoknya. Buat saya sih seneng aja dengan cara itu, toh uang makan malam akan dicairkan di akhir kegiatan. Tapi buat sebagian bapak-bapak yang senior yang 'pilihan' soal menu, juga ibu-ibu yang ga terbiasa keluar malam karena alasan keamanan dan kenyamanan, maka dihilangkannya sesi makan malam kurang mengenakkan buat mereka. 7 malam tanpa dinner ternyata setara dengan uang Rp. 250.000 :)

Di kesempatan TOT itu pilihan menjadi seorang pendengar yang baik adalah yang terbaik. Dengan harapan agar Allah membukakan pintu ilmu dari arah manapun yang tidak bisa saya duga. Ketika kita menemukan kekecewaan yang ga diharapkan, maka jangan marah dan menutup pintu-pintu kebaikan yang pasti masih terbuka di banyak sisi. Sekiranya kita ga mendapat ilmu dari seoarang pengajar, maka bisa jadi kita mendapat ilmu dari rekan peserta yang duduk di samping kita. Bila kita kecewa karena buah berasa asam di tangan kita maka alihkan saja perhatian kita. Barangkali kita sedang berteduh justru tepat di bawah pohon yang sedang berbuah ranum dan manis. Allah punya skenario atas diri kita, lalu ayo kita jalankan skenario itu dengan enjoy dan penuh baik sangka :)






Rabu, 27 Februari 2013

Pengelolaan Kelas

Setelah kita melaksanakan tahapan persiapan dan siap dengan segala 'perangkat tempur' yang ada, maka jadikan kelas sebagai 'medan tempur' kita. Di kelaslah kita melepaskan amunisi yang sudah kita siapkan, mengeksekusi rencana, juga termasuk melakukan hal-hal lain yang muncul di luar dugaan namun penting untuk dilakukan saat itu juga. Harapan utamanya tentu kita bisa menguasai medan dan mengendalikan keadaan, yaitu terciptanya suasana optimal untuk belajar sejak dari awal sampai akhir kegiatan. Sebab itulah penting sebelumnya melakukan proyeksi di bagian perencanaan agar kita bisa mengestimasi sendiri kejadian apa saja yang mungkin muncul saat kita presentasi di kelas.

Pengelolaan kelas adalah perkara skill. Sangat mungkin kemampuan itu bersifat given, tapi pasti bisa dipelajari dan dibakati oleh mereka yang merasa kurang mampu. Semakin lama pengalaman seseorang mengajar, maka keterampilan mengelola kelas (seharusnya) akan lebih baik. Satu prinsip yang harus dipercayai adalah pengelolaan kelas ini memiliki peran sentral dalam pembelajaran yang disokong oleh common sense, konsistensi, kejujuran, kewajaran, dan keberanian. Persyaratan lainnya adalah pemahaman yang baik terhadap psikologi dan tahap perkembangan peserta didik. Keterampilan ini berkembang seiring seringnya praktik, feedback, dan mau belajar dari kesalahan. Mudah dikatakan tapi penuh tantangan/kesulitan sebenarnya saat di praktik.

Merancang Kondisi untuk Perilaku yang Diharapkan
Kita pasti punya harapan terhadap orang lain, sebagaimana orang lainpun menyimpan harapan tertentu kepada kita. Dalam perilakupun demikian, terkadang kondisi saling harap ini dibungkus dalam etika hingga tak perlu semuanya disampaikan secara lugas. Tapi dalam pengelolaan kelas, kita perlu sengaja mengidentifikasi harapan kita terhadap peserta didik dan kemudian mengkomunikasikannya secara periodik. Pernyataan eksplisit bahwa kelas yang kita kelola memerlukan peraturan atau prosedur menjadi kerangka yang menopang keteraturan selama proses pengajaran.
So, jangan sampai lupa untuk menyusun peraturan kelas. Seandainya kita mengetahui bahwa di kelas belum terbentuk aturan yang kita harapkan, maka inisiatif awal kita bisa menjadi kesepakatan permanen untuk kelas-kelas berikutnya.
Buatlah peraturan kelas dengan melibatkan peserta didik agar mereka merasa memiliki peraturan itu dan sadar bahwa peraturan tersebut dibuat untuk kebaikan mereka sendiri. Buat peraturan mulai dari ketentuan umum yang akan mudah disepakati bersama, tidak ditulis terlalu panjang, tidak terlalu rinci dan mendetil, dan bisa juga dipajang di dinding kelas.




Senin, 25 Februari 2013

Persiapan

Pengajaran yang baik yang disampaikan seorang pendidik berbuah pada pencerahan pada individu. Itulah 'goal antara' yang sebenarnya sangat dirindukan oleh seorang pendidik sebagai buah keringat yang diupayakannya. Meski dalam cerita kenabian pencerahan ada yang datang secara lambat dan melalui proses yang relatif panjang, tapi kita dapat merekayasa proses itu melalui perencanaan yang baik dan matang. Terlebih untuk pembelajaran di ruang kelas yang kerap dibatasi waktu. Oleh sebab itu saya batasi tulisan ini pada konteks pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan di kelas, seminar, atau public lecture secara umum.

Perencanaan yang baik adalah setengah dari kesuksesan, dan gagal melakukan perencanaan sama artinya dengan merencanakan kegagalan. Semangat serta keseriusan kita untuk mendesimenasi pencerahan sebenarnya dapat diukur dengan seberapa semangat yang sengaja kita tuangkan dalam bab persiapan ini.Tak heran makanya dalam buku-buku kependidikan dan public speaking, bab persiapan mendapat porsi pembahasan tersendiri. Karena pada dasarnya, sesingkat apapun pesan yang kita sampaikan di depan orang-orang, kesemuanya itu tak lebih sebagai sebuah 'acara' atau 'sajian' yang merepresantasikan kapasitas kita sebagai pendidik.



Unsur-unsur yang mesti dipersiapkan dalam perencanaan ini yaitu
1. Lingkungan belajar. Sederhananya atmosfer keseluruhan dari tempat kita mengajar terasa kondusif untuk belajar. Tidak sekedar nyaman/cozzy, nanti kalo terlalu nyaman bisa-bisa mudah ngantuk. Meski bersifat relatif, tapi kondisi belajar diusahakan mendorong terciptanya pembelajaran yang serius tanpa harus terlalu tegang.

2. Isi/content. Ini adalah nyawa dari kegiatan mengajar/presentasi kita. Selain menyediakan judul yang menarik sebagai pengundang perhatian, yakinkan juga bahwa kita telah membatasi ruang kajian. Menjaga keluasan uraian.Tidak memaparkan apa yang tidak perlu, tapi pandai menyertakan informasi yang memperkuat dan mendukung.


Senin, 18 Februari 2013

Berbicara Sesuai Tuntutan Keadaan

Seorang WI atau Trainer selayaknya memahami bahwa setiap perkataan ada tempatnya dan setiap tempat ada perkataanya. Kaidah tersebut tidak hanya berlaku dalam kehidupan di luar kelas, tapi juga menjadi spirit yang menyetir intuisi kita untuk menyampaikan pesan sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi. Memahami hal ini setaraf dengan mengenali pintu-pintu yang menjadi gerbang bagi penerimaan sehingga pesan yang kita sampaikan mendapat tempat di hati dan pikiran pendengar.

Beberapa keadaan yang dimaksud antara lain adalah :
- Berbicara di hadapan orang yang cerdas. Tuntutannya adalah kita berbicara dengan memberi uraian singkat.
- Berbicara di hadapan orang yang kurang cerdas. Tuntutannya adalah berbicara dengan jelas, perlahan, dan diulang-ulang.
- Berbicara di hadapan orang yang berkecenderungan tinggi untuk menolak/ingkar. Tuntutannya adalah menambah muatan 'penguat' di balik pembicaraan kita dengan dalil ilmiah, logika yang kuat, fakta sejarah, statistik, dan lain sebagainya.
- Berbicara dengan orang yang umur, pengalaman, dan pengetahuannya di bawah kita. Tuntutannya kita berbicara dengan simpel, mudah dipahami, dengan sikap bijaksana.
- Berbicara di depan masa yang homogen dengan limit waktu yang singkat, menuntut kita untuk selektif dengan kata yang sederhana tapi tepat dan memberi penekanan-penekanan substansi yang mudah membekas di benak.
-Berbicara di depan orang tua, atau lebih dari sisi kedudukan, pengalaman, pengetahuan, dan ilmu  menuntut pembicaraan santun, penuh hormat, dan tidak menggurui.



Setiap peluang berada di depan kelas adalah saat berharga yang tidak akan berulang dua kali. "Every seconds count", tidak hanya waktu Anda yang berharga, tapi waktu mereka yang bersedia mendengarkan 'celoteh' Andapun memiliki harga yang tidak bisa dinilai dengan materi. Penghargaan terhadap momentum itu selayaknya menjadi pelecut inisiatif untuk mendifinisikan secara jelas cara yang kita pilih sehingga pembicaraan kita bisa secara optimal diterima oleh akal sekaligus hati pendengar.



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More