Sabtu, 25 Juli 2020

Belajar Mindfulness I

Satu pelajaran berharga dari praktik mindfulness yang dikembangkan Jon Kabat Zin adalah mengenali pikiran manusia yang selalu berada pada kondisi 'doing'. Dalam kondisi 'doing' pikiran manusia aktif memikirkan banyak hal, banyak sekali hal. Baik kejadian di masa lalu maupun kejadian (yang diprediksi terjadi) di masa depan.
Pikiran-pikiran yang mengembara tersebut tentu tidak berdiri sendiri, tapi juga selalu dibarengi dengan emosi yang melekat pada image/pikiran tersebut. Saya yakin anda suka mengalami ketika ada sebuah kejadian di jalan raya yang membuat anda kesal, saat anda mengingat kejadian itu saat ini, ternyata emosi 'kesal' tersebut juga hadir menyertai. Kejadiannya sih sudah lewat, tapi keselnya tetep melekat.
Uniknya, tidak cuma ingatan tentang masa lalu yang melibatkan emosi, imaginasi kita tentang masa depan berupa prediksi-prediksi juga sama saja dalam hal pelibatan emosi. Saya yakin kita sering begitu. Misalnya ketika akan pergi ke sebuah tempat dan di perjalanan kita memprediksikan kemacetan di jalan, maka sebelum kaki melangkah keluar rumah emosi jengkel tentang suasana jalanan yang macet sudah ada di hati kita.
Di atas itu cuma contoh kecil, pada kenyataannya banyak sekali imajinasi-imajinasi di kepala kita tentang masa depan yang didramatisir lalu mendatangkan emosi yang juga intensitasnya semakin kuat dan kuat. Padahal apa yang dipikirkan tersebut belum terjadi, dan kekhawatiran atas semua kejadian yang mungkin adalah imajinasi kita sendiri (meskipun kita meyakininya sebagai sebuah prediksi yang valid berdasarkan pengalaman).
Pada prinsipnya semua pikiran tentang masa lalu dan masa depan yang memenuhi kepala tersebut adalah hanya 'pikiran'. Jika pikiran tersebut dihilangkan, maka emosi yang menyertainyapun akan ikutan hilang. Semua keadaan dramatis yang menguasai jiwa dan hormon2 kita bisa hilang jika pikiran yang mengawalinya dihilangkan.
Begitulah hebatnya pikiran dan imajinasi manusia. Apa-apa yang kita imajinasikan bisa tampak sebagai sebuah fakta, bener-bener real (buat si pemilik pikiran).
Sadar atau tidak, beginilah keadaan pikiran dan emosi kita saling terkait dalam kondisi 'doing'. Ada fakta lain tentang pikiran manusia yang selalu memikirkan masa lalu dan masa depan dalam kondisi 'doing', yaitu manusia memiliki pikiran yang selalu aktif mencari solusi atas masalah yang sedang dipikirkannya (padahal masalah tersebut juga bisa jadi cuma ada di pikiran, bukan masalah aktual di dunia nyata yang perlu dipecahkan).
Pikiran yang selalu aktif mencari solusi ini tentunya terkait dengan pikiran sebelumnya yg berisi kenangan atau imajinasi masa lalu atau masa depan. Misal nih, dulu kita pernah merasa diremehkan oleh seseorang karena urusan ekonomi. Lalu, timbulah emosi kesal, marah, perasaan rendah diri, dendam, sedih, dan sebagainya.
Tentunya keadaan mental tersebut tidak berhenti di sana kan?
Pikiran kitapun kemudian aktif mencari solusi. Contohnya kita memikirkan bagaimana agar saya bisa membalas perlakuan buruk dia? bagaimana saya bisa membuat perasaan saya lebih baik? Bagimana saya bisa memperbaiki kesan tentang saya dan ekonomi saya? Bagimana agar kejadian seperti itu bisa tidak terulang? Baimana .... bagaimana dan bagaimana....
Pikiran kita lalu bercabang, membuat skenario-skenario. Setiap pikiran dan skenario sangat mungkin mendatangkan emosi-emosi baru yang sebelumnya tidak ada.
Ini baru memikirkan 1 masalah dari masa lalu. Belum lagi kita memikirkan masalah yang sama tapi terkait dengan masa depan. Semisal prediksi: Bagaimana kalo nanti saya ketemu orang yang kembali meremehkan saya karena urusan ekonomi? bagaimana kalo anak saya nanti diremehkan oleh orang lain seperti yang terjadi kepada saya dahulu? bagaimana...bagaimana...dan bagaimana...terus saja pikiran kita memprediksi masa depan (sambil membawa emosi ketakutan, marah, dan lain sebagainya).
Inilah fakta kedua tentang kondisi 'doing' dan memang bener juga ya. sayapun mengalaminya. Bahkan sangat sering.
Ada satu fakta lain yang membuat pikiran 'doing' ini bisa membuat manusia semakin 'sibuk dengan pikirannya sendiri', yaitu pikiran kita ga pernah istirahat kecuali kalo lagi tidur. Pikiran kita selalu melompat ke sana kemari, beralih topik dan tema tanpa terkendali. Kita tahu betul kondisi ini ketika melaksanakan shalat.
Silakan tanyakan ke diri sendiri apa yang anda pikirkan ketika menyebut Allahu Akbar saat takbiratul ihram? lalu ketika membaca iftitah, alfatihah, dan seterusnya sampai salam. Bisakah anda secara full tenggelam dalam mengahayati bacaan shalat? atau pikiran anda mengembara memikirkan kejadian, memikirkan orang, makanan, uang, kaos kaki, pekerjaan, peniti, bumbu masakan, sendal, atau agenda jalan-jalan?
Tanyakan ke diri sendiri apa yang anda pikirkan ketika sendiri, ketika nyetir di jalan, ketika masak, atau mandi. Pikiran kita melompat-lompat seperti monyet, berpindah-pindah dari satu pikiran tentang kejadian, keinginan, hasrat, dibarengi emosi-emosi, dan seringnya malah tidak terkendali.
Ya....kita benar-benar sulit mengendalikan isi pikiran kita. Kita pikir kita mengenal diri kita, menguasai diri sendiri. Padahal pada faktanya, kita punya masalah besar dalam mengendalikan konten pikiran. Dan ini adalah salah satu sumber dari banyak masalah dalam kehidupan kita manusia - sejak dari zaman nenek moyang.
Inilah fakta-fakta yang ingin dibenahi melalui praktek mindfulness. Inilah kondisi-kondisi yang bisa diperbaiki melalui konsep khusyu'. Hasilnya amat luar biasa untuk menciptakan ketenangan sejati, memunculkan perasaan menghargai dan menikmati setiap keadaan, menaikkan produktivitas, dan kebahagiaan. Melalui penciptaan kondisi yang berlawanan dengan kondisi 'doing', yaitu 'being'.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More