Membaca beberapa artikel dan ceramah Ken Robinson, meyakinkan saya sekaligus membuka wawasan tentang sifat pendidikan formal yang selama ini kita kecap. Tidak cuma kita, tapi juga anak dan cucu kita jika keadaan belum berubah.
Begini, dari ceramah dan tulisan yang saya baca, saya mendapat helicopter view tentang bagaimana sistem pendidikan di sekolah ibaratnya bagian dari industrialisasi yang mengkooptasi nyaris seluruh aspek kehidupan manusia. Sekolah menjadi 'pabrik manusia' yang menelurkan calon-calon pekerja yang jika nanti lulus akan segera dipekerjaan untuk kepentingan industri. Oleh karena itu maka secara tak sadar (entah sadar), mata pelajara primadona pun tak jauh dari matematika dan IPA, atau yang sekarang sedang tren, yaitu STEM.
Buruknya dari situasi ini adalah, pendidikan (sekolah) melihat anak-anak sebagai entitas yang seragam dan diseragamkan. Padahal, anak-anak yang lahir dari 1 rahim ibunda, tidak pernah ada yang sama persis. Meskipun ia kembar. Anak-anak lahir ke dunia dengan membawa keunikan, potensi, dan ciri khas yang membedakannya dengan anak lain.
Tapi apa yang terjadi? Sekolah justru ingin menyeragamkan anak-anak kita.
Sekolah bahkan memberikan pakaian, sepatu, dan tas yg seragam untuk mereka.
Sekolah 'memaksa' mereka untuk berperilaku dan duduk dengan cara yang sama.
Satu hal yang paling ngeri dari situasi ini adalah, sekolah mengabaikan banyak potensi anak agar mereka jago di bidang tertentu yang tidak sesuai dengan potensi mereka. Bidang tersebut biasanya ya itu...matematika dan IPA.
Jika sungkan disebut tidak ada, ya bisa dibilang hanya sedikit saja yang memberi encourage pada anak-anak untuk menemukan dan 'memeluk' erat potensi mereka di bidang bahasa, sosial, agama, olah raga, musik, dan sebagainya.
Mereka yang masuk ke dunia non IPA bahkan ada yg ditakut-takuti bahwa minat tersebut tidak akan memberi penghasilan yg sepadan di masa mendatang.
Sistem yang rumit dan melibatkan ribuan orang dalam dunia pendidikan tampaknya kompak pada satu tujuan yaitu menuntaskan kurikulum yang belum tentu bisa menghantarkan anak pada potensi terbaiknya. Begitulah sistem pendidikan yang begitu mekanistis. Tidak sepenuhnya menganggap muris sebagai manusia. Maka wajarlah andaikata seorang anak lulus SMA (Bayangkan, 12 tahun pendidikan), tapi dia planga plongo...belum bisa mengenal minat, bakat, dan potensinya.
Sebab sekolah tidak memfasilitasi hal tersebut. Sekolah merasa cukup menjalankan tugas kalo sudah menjejali kepala anak dengan wawasan dan si anak bisa mengeluarkan kembali wawasan tersebut dalam selembar kertas yaitu ketika ujian.
Perlu ada refleksi yang mendalam pada para stakeholder pendidikan untuk mereview ulang cara pandang komunitas terhadap pendidikan. Semoga Allah swt memeri petunjuk kepada kita semua.



0 komentar:
Posting Komentar