Finlandia adalah salah satu negara kecil Nordic di ujung Eropa Utara yang terkenal karena skor PISA Test-nya yang mentereng bertengger di nomor 1. Pasti udah banyak pendidik atau pejabat kita yg ke sana buat studi banding. Anda juga mungkin sudah banyak baca tentang keunikan negara ini dalam hal pendidikan terutam.
Di sini saya mau menuliskan saja ringkasan tentang buku Teach Like Findland yang ditulis oleh Timothy D Walker. Dia ini seorang guru dari Massachusetts, Amerika Serikat yang mendapat pengalaman fantastis mengajar 2 tahun di Finlandia.
Dari uraian di bukunya kita bisa menyelami pengalaman dan perbandingan yg dibuat oleh seorang praktisi pendidik langsung tentang perbedaan pendidikan di Finlandia dan Amerika Serikat. di sini saya uraikan singkat2 saja, biar anda tertarik membaca bukunya langsung :) uraian ini juga lompat-lompat saja, ga berurutan seperti di bukunya. Isinyapun mungkin ada yg saya skip agar kita bisa fokus pada unsur yang uniknya saja.
1. Cara orang hidup dan atmosfer sekolahnya sangat memperhatikan 'well being'/Kesejahteraan. Gimana menterjemahkannya ya. Secara prinsip kehidupan di sana tidak tergesa-gesa seperti hidup di kota besar Amerika yg untuk memperhatikan kebutuhan batin saja sulit. Di Finlandia seakan waktu berjalan tenang, tidak ada yg narik napas ngos-ngosan karena sibuk ngejar target.
Si penulis menekankan agar pendidikan di amerika tidak perlu mengejar target untuk sukses dalam pendidikan dengan mengesampingkan kesejahteraan batin.
2. Ada jeda 15 menit setiap selesai 1 jam mengajar. Siswa maen dan guru ngopi bareng rekan sejawat. Guru yg memakai waktu break ini di kelas malah ditegur dan diwanti-wanti agar istirahat agar tidak jenuh. Kalo jenuh bisa menurunkan kualitas pembelajaran kan?
Jika dilewat momen 15 menit break ini siswa jadi kurang fokus, cepat lelah, tidak belajar optimal.
3. Banyak aktivitas fisik yang menuntut motorik siswa diaktifkan.
4. Belajar sehari cuma 6 jam. Tapi rasanya sama efektifnya dengan belajar lebih lama di amerika. Ajaib.
5. Guru dan siswa suka buka jendela atau beraktivitas di luar untuk menikmati udara segar. Bahkan masyarakat umum senang beraktivitas di luar meski musim dingin.
6. Anak-anak finlandia sangat menikmati bermain di luar. Di taman-taman, danau, hutan, lapang, dan sebagainya.
7. Sistem sekolah mendorong kelas untuk keep the peace (memelihara suasana tenang, tidak berisik). Mereka menerapkan mindfulness-based practiced.
8. Guru dimotivasi untuk membangun belonging pada siswa. Agar siswa dibuat merasa memiliki pembelajarannya sendiri. Caranya adalah dengan mengenal setiap siswa, sering main dan makan siang dengan mereka, merayakan hasil belajar mereka (presentasi buku yg dibaca, makan bareng masakan yg mereka buat,dll), mengejar impian kelas (Seperti kemping bareng), berusaha mengeliminir bullying, memasangkan kelas senior dengan junior dalam momen tertentu.
9. Autonomy. Siswa diberi kesempatan untuk menentukan beberapa aspek dalam pembelajaran sehingga rasa memilikinya tinggi terhadap aktivitas belajar. Mereka diberi kebebasan tertentu. Kadang ada 1 komepetensi yg bebas dicapai oleh siswa dgn caranya sendiri, tanpa ada kelas tatap muka. Hanya tugas dan proyek selama 1 minggu.
10. Siswa sangat mandiri sejak kecil dan dalam kelaspun mereka terbiasa diberi tanggung jawab. Misalnya dalam hal pengelolaan catatan. mereka punya notebook sendiri yg dikelola sendiri sehingga memudahkan cara belajarnya masing-masing.
11. komputer sekolah sangat jadul. Sekolah tidak terlalu peduli terhadap updating teknologi komputer. Teknologi benar-benar jadi suportif saja. Interaksi guru siswa yg diutamakan dalam belajar dan hasilnya mereka memang jago dalam PISA.
12. Elemen luar sekolah ikut berperan mendidik anak. Sehingga selepas sekolah anak-anak setidaknya minimal aktif di 1 kegiatan positif di luar sekolahnya. Baik di bidang olah raga, seni, budaya dll. Ini juga bagian dari kurikulum sekolah sebenarnya. Jadi kurikulum di Finlandia begitu luar biasa memperhatikan beragam aspek kepribadian dan bakat anak-anak. Ada 100 ribu asosiasi non pemerintah yang ikut terlibat 'mendidik' generasi muda di luar sekolah dan memfasilitasi kegiatan sosial di luar sekolah. Sepertinya begitulah keseriusan pemerintah dan masyarakat bersatu padu membentuk generasi unggul. Kerja sama mereka kompak mendidik anak baik di dalam maupun di luar sekolah.
13. Pemerintah dan sekolah sangat memperhatikan kebutuhan dasar anak-anak. Mereka meyakinkan bahwa anak-anak bisa belajar dengan baik dengan memperhatikan asupan gizi, kesehatan sejak dari rumah, mengetahui kondisi rumah tangga, dan seterusnya. Pemerintah punya mekanisme khusus agar kebutuhan kesehatan dan pengasuhan anak-anak terjamin sejak dari rumah. Ga mikirin masalah ga punya seragam, uang jajan, kurang tidur, peretengkaran rumah tangga, kekurangan asupan gizi, dsb. Pokoknya ketika di sekolah anak-anak itu wajib sehat, sejahtera, gembira. Jadi wajar saja di sana tidak ada sekolah favorit atau sekolah non favorit. Semua sekolah dikategorikan sekolah bagus.
Demikian ulasan singkat dari pengalaman berharga Timothy D Walker. Terlalu berharga pengalaman kongkrit seorang guru seperti beliau untuk dilewatkan. Baca lengkap bukunya jika Anda tertarik dengan wawasan lengkapnya.
Kita melihat kecerdasan anak Finlandia dari skot PISA saja (dalam hal ini tertuju pada kekuatan sains, matematika, membaca). Padahal seperti penuturan Sir Kevin Robinsin, pendidikan di Finlandia tidak memfokuskan pada 3 aspek tersebut. Pendidikan di Finlandia memperhatikan semua unsur manusia dan ingin menjadikan pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia.



0 komentar:
Posting Komentar