Saya Pernah liat di timeline foto2 sepi kota2 dunia lalu diberi caption: "The earth is resting"
Mengharukan caption tersebut buat saya. Mengingat beban berat yg ditanggung planet ini akibat ulah manusia.
Mengharukan caption tersebut buat saya. Mengingat beban berat yg ditanggung planet ini akibat ulah manusia.
Keberadaan wabah besar yg sangat menyita perhatian warga dunia ini mesti bikin kita sadar agar bisa berpikir global.
Sambil diem di rumah sama2 bertafakur tentang konsumerisme kita. Gaya konsumsi yang menyita sumber daya planet bumi sedemikian rupa sehingga menimbulkan daya rusak yg besar.
Dulu....orang tua kita membeli baju kalo butuh, kakek nenek kita makan sehari2 dengan lauk yg sederhana, para leluhur kita melakukan perjalanan dengan alat transportasi yg apa adanya. Dulu bahkan kita waktu masih kecil cukup makan makanan berat, tidak merengek saat tidak ada cemilan di dalam rumah.
Sekarang...manusia beli baju bukan karena butuh, tapi karena ingin ganti fashion, ingin terlihat beda.
Sekarang manusia makan bukan karena lapar, tapi ingin memanjakan lidah dengan rasa yg berbeda.
Orang2 sekarang beli kendaraan bukan karena butuh, tapi karena ingin membeli status.
Sekarang manusia makan bukan karena lapar, tapi ingin memanjakan lidah dengan rasa yg berbeda.
Orang2 sekarang beli kendaraan bukan karena butuh, tapi karena ingin membeli status.
Konsumsi manusia sekarang bukan atas dorongan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Barang2 begitu menggoda, segala macam furniture, gadget, vitamin, krim dan kosmetik, dan aksesoris2. Mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala ada aksesorisnya. Laki2 maupun wanita bisa engga tidur malam memikirkan aksesoris, printil2 yg kadang mengganggu pikiran.
Kita hidup di zaman industrialisasi, di mana barang semakin murah, mudah diakses dan melimpah. Tapi semua itu dengan ongkos lingkungan yang sangaat besar. Memakan bahan bakar minyak untuk pabrik2, untuk distribusi pake kapal laut dan udara antar negara, ke kota2 dan desa2.
Bahan2 dasar logampun diambil dari tambang2, bumi dikeruk dan digali. Senyawa untuk obat2 dan kosmetik diambil dari tanaman2 dan hewan2. Pohon2 ditebang untuk jadi lahan kebun untuk minyak goreng kita, untuk ternak sapi2 yg dagind dan susunya kita konsumsi. Bicara global, maka kita bicara angka 'kematian masal' makhluk hidup dan perusakan besar2an lingkungan.
Jangan tanya soal polusi yg dihasilkan. Dahsyatnya polusi dari kendaraan di darat, laut, dan udara. Akibat semua sibuk memenuhi kebutuhan manusia. Planet bumi pula yg menanggungnya.
Ini terjadi karena ulah manusia. Ingin terus belanja dan terus belanja. Menstok dan mencoba makanan melebihi kebutuhan. Ganti2 kendaraan dan gadget tanpa lihat dampak lingkungan.
Ini keberhasilan para pengusaha dan teknik advertising yg luar biasa. Manusia dijanjikan impian2 indah agar membeli barang2 mereka.
Manusiapun belanja dan belanja, biar nyicil dan bekerja keras untuk bisa memenuhi hasrat yg ditanam agen pengiklan.
Roda kehidupanpun berputar. Kesibukan melanda dunia, semakin menyita sumber daya bumi, semakin kotor pula karena berbuah polusi.
Apakah semua demi ibadah dan memakmurkan bumi?
Engga juga. Sebagian besar adalah untuk memenuhi hasrat konsumsi yg makin hebat.
Engga juga. Sebagian besar adalah untuk memenuhi hasrat konsumsi yg makin hebat.
Mau bukti yg kongkrit kalo kita semua terlibat dalam perusakan planet bumi?
Coba beres2 rumah. Berapa banyak barang ga terpakai hasil hasrat membeli kita?
Di luar sana sungguh sepi, di mana2 sama. Bumi sedang istirahat. Sekarang manusia di seluruh penjuru dunia sedang di dalam rumah, mari sama2 bertafakur atas ulah2 kita.
Di saat wabah begini, Semoga Allah swt memberi kita taufik untuk bisa berpikir global, sadar bahwa kita terkait satu sama lain, bahkan dengan tumbuhan, hewan, udara, air, dan isi bumi. Mudah2an kita bisa berpikir bahwa tindakan2 kita berpengaruh kepada dunia, berpikir untuk hidup sederhana, hidup tanpa menyakiti ekosistem besar bumi kita.
Sementara ini, let the earth rest for a while



0 komentar:
Posting Komentar