Ada benang merah yang menghubungkan dengan jelas antara mindfulness dan kekhusyuan dalam shalat/dzikir. Dalam praktek mindfulness kita berlatih untuk berada pada kondis being dengan cara berfokus pada napas. Breath in and breath out. Setiap napas yang masuk dan keluar diperhatikan secara seksama sebagai jangkar pikiran agar ketika pikiran kita mulai bergerak ke mana-mana, kita berusaha untuk kembali memperhatikan napas kita. Seiring dengan berfokus pada napas tersebut kita akan 'menyaksikan' di benak kita pikiran dan lintasan-lintasannya berdatangan dan bergantian. Menarik kita untuk larut ke dalam pusarannya. Tapi kemudian kita melawan, terus berfokus pada jangkar berupa tarikan dan hembusan napas. Kitapun akan menyadari bahwa pikiran-pikiran yang menarik tersebut akhirnya akan berlalu dan lewat begitu saja. berganti dengan pikiran lain yang mungkin lebih menarik untuk dibayangkan.
Sementara di dalam kekhusyuan, kita tidak berfokus pada napas, tapi berfokus pada ayat dan bacaan dzikir yang kita lantunkan. Orang yang khusyu' bahkan larut dalam bacaan sehingga ketika bacaan berisi tentang surga maka ia menangs karena mengharap dan merindunya. Jika ia menemukan ayat-ayat yang berbicara neraka, maka ia akan merasa seakan neraka berada di depannya. Membuat dia menangis dan ketakutan. Tapi hal ini berlaku untuk mereka yang khusyu' shalat/dzikirnya, serta memiliki rasa pengagungan dan penghambaan yang baik kepada Tuhan.
Akan lain ceritanya jika shalat/dzikir dilakukan oleh orang yang tidak khusyu'. Antara bacaan shalat tidak sinkron dengan isi pikiran. Mulut melafalkan doa tapi pikiran terbang melayang-layang. Bacaan shalat berisi kisah sedih, tapi isi kepala membayangkan pengalaman bahagia. Bacaan shalat berisi kabar baik tentang surga, tapi pelakunya malah membayangkan kejadian kemarin sore yang menjengkelkan. Dzikir berisi tasbih dan istighfar, tapi kepala membayangkan menu makanan. Ayat yang dibaca berisi kebesaran penciptaan tapi yang diingat malah peniti, sendal, sepatu, dan pakaian.
Ketika shalat dan dzikir, tantangannya serupa dengan latihan mindfulness, yaitu muncul pikiran-pikiran dan bayangan-bayangan yang sifatnya tidak terkendali. Sekuat apapun kita menekan bayangan tersebut, maka bayangan tersebut akan terus berkelit dan mencari celah untuk mendominasi pikiran. Sekuat tenaga kita mengalihkan pikiran pada bacaan, tapi pikiran-pikiran melompat-lompat ke permukaan mencuri perhatian. Keadaan ini adalah kondisi yang ditemui setiap manusia yang apabila dibiarkan akan mengurangi kualitas kehidupan.
Orang yang selalu mindful dan ditambah khusyu' dalam shalatnya akan menunjukkan ketenangan seperti air danau. Ketenangan sejati yang bukan distimulus oleh faktor eksternal, tapi benar-benar murni dari pengendalian pikiran. Pengendalian pikiran tersebut berdampak besar terhadap pengendalian jiwa, karena untuk berhasil mengelola pikiran yang selalu meloncat-loncat liar diperlukan kesabaran dan keteguhan jiwa. Orang yang khusyu' dan mindful adalah orang yang berhasil mengenali dan mengendalikan dirinya sendiri.
Dia akan dapat memandang masalah apapun dengan jernih karena terbiasa untuk tidak dikendalikan oleh emosi yang dibawa oleh pikiran-pikirannya. Orang yang terbiasa khusyu' dan mindful akan mempunyai kendali atas pikiran, emosi, hingga tindakan. Keterampilannya dalam memposisikan diri di kondisi 'being' tersurat dalam perilaku yang logis, tenang, sarat perhitungan. Dia dapat melepaskan diri dari penilaian-penilaian subjektif yang seringkali bisa merusak keputusan dan perbuatan.
Semoga kita dapat mempraktekkan mindfulness dan kekhusyu'-an ibadah agar kita bisa menjadi seorang hamba Allah yang baik, manusia yang bisa mencapai puncak prestasi, serta meraih percik-percik kebahagiaan yang terdapat dalam setiap kejadian yang ada di sekitar.



0 komentar:
Posting Komentar