Kamis, 15 Agustus 2019

Mencari Minat

Kata 'minat' rasanya jarang sekali mendapat porsi perhatian yang besar dalam dunia pendidikan kita. Saya mungkin salah, tapi itulah yang saya dengar setelah sekolah 20 tahun dan bekerja 14 tahun bersama kaum pendidik.

Padahal di luar negeri, kata 'minat' menjadi primadona yang digunakan sebagai motivasi di berbagai tempat. Di acara-acara wisuda kelulusan, berulang kali para lulusan didorong untuk mengejar impian,  mereka dimotivasi untuk melakukan ha-hal yang diminati di masa depan mereka lalu dengan menggeluti minat tersebut akhirnya akan menggapai kebahagiaan. Kegembiraan apa lagi yang bisa dialami mereka yang lulus sekolah selain tenggelam dalam menyelami minat dan bisa menghasilkan uang darinya.

Menjalani minat adalah melakukan pekerjaan yang membuat hati kita senang ketika menjalaninya. Tidak ada paksaan, intimidasi, dan tekanan dari siapapun. Menjalani minat bisa menimbulkan gairah bahkan dengan memikirkannya. Menjalani minat bisa memudahkan kita untuk mencurahkan segenap tenaga dan perasaan sebab emosi positif selalu mengiringi selama minat itu hidup terus.

Tapi faktanya...orang-orang dibelahan bumi barat dan timur selalu menemui benturan antara minal dan fakta. Inginnya bisa menjadikan minat sebagai profesi yang menghasilkan uang, tapi berapa banyak pekerjaan tersedia yang selaras dengan minat? bisa dikatakan sangat sedikit, atau bahkan bisa jadi tidak ada.

Sementara para lulusan sekolah itu harus bekerja dan menghasilkan uang untuk menjalankan roda ekonomi keluarga. Apa mereka harus terus mencari dan menunggu lama untuk akhirnya bisa menemukan pekerjaan yang selaras minat? Apa mereka harus makan dan numpang hidup di orang tua sambil menekuni minat sampai minat tersebut menghasilkan uang dalam jumlah yang mencukupi tuntutan hidup?

Pengalaman juga mengungkapkan, betapa banyak orang di sekitar kita yang bekerja dengan motivasi uang saja. Apalagi di wilayah yang sedikit menawarkan lapangan kerja, Orang mencari pekerjaan sekedar menyambung hidup, apapun yang bisa dilakukan tangannya asal bisa mengebuli dapur. Obrolan tentang minat tenggelam di antara topik-topik yang lebih mendesak untuk dipenuhi.

Memang....ada nasihat agar kita berupaya 'menyukai' pekerjaan apapun yang sedang kita jalani. Terdengar rasional dan manis. Tapi bisa jadi pahit pada prakteknya.

Lalu apa yang mesti kita lakukan mengenai minat yang selama ini (mungkin) belum pernah kita dapatkan?

Caranya menurut seorang psikolog ternama adalah dengan memahami bahwa minat itu bisa berubah.

Minat yang sekarang kita miliki bisa jadi nanti akan tenggelam dan berganti dengan minat lain yang berbeda. Seiring dengan waktu akan ditemui minat yang bisa membangkitkan gairah kita untuk menekuninya.

Berdasarkan penelitian terhadap orang-orang unggul di bidang yang diminati, rata-rata mereka pernah meninggalkan minat lamanya. Seorang pemenang lomba olimpiade renang katanya begitu menikmati olah raga renang (artinya dia meminatinya), tapi ketika pertama kali renang dia merasa 'biasa' saja dan bahkan menyangka renang sama sekali bukan minatnya. Seiring dengan waktu ternyata dia bisa menemukan bahwa renang adalah minat terpendamnya dan bisa dia tekuni untuk terjun ke dunia profesional berenang.

Jadi...kunci pertamanya adalah: TEMUKAN MINATMU TERLEBIH DAHULU.
dan jangan menyerah dalam mencarinya!






0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More